Workshop dan Koordinasi Program GeMBIRA Bersama KerLiP di SLBN B Garut

Memperdengarkan beningnya suara anak menjadi ciri khas utama dalam rangkaian GeMBIRA bersama KerLiP. Kami beruntung mendapatkan dukungan multipihak untuk menyiapkan Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak (GeMBIRA) bersama Keluarga Peduli Pendidikan dalam upaya Pemulihan Dini menuju Penerapan Sekolah/Madrasah Aman Bencana yang inklusif dan ramah anak di SLBN B pasca banjir bandang di Kabupaten Garut. 

“Jalur merah ini evakuasi banjir ke lantai 2 ruang SMALB. Sedangkan yang ini evakuasi gempa bumi ke halaman sekolah, “ujar Tisna, peserta didik SLBN B penyandang tuna rungu menunjukkan peta evakuasi sederhana yang dipampang di depan 20 peserta workshop dan koordinasi. Tisna dan Dewi mewakili anak-anak yang mendapatkan pelatihan YES for Safer School yang difasilitasi Nurasiah Jamil sehari sebelumnya. Penuturan Ibu Poppy, orang tua peserta didik peserta pelatihan, tentang banjir yang melanda SLBN B Garut diperkuat oleh Ibu Neneng, guru SLBN B yang tinggal di RW 01 belakang SMPN 3 samping sekolah mereka.  “Pada tahun 2014 saja ada 4 kali banjir sebetis di RW 01 dan 12, “kata Pak Lurah. Peta banjir yang dipresentasikan Bu Poppy dan penjelasan Bu Neneng serta penguatan dari Pak Lurah memberikan gambaran lengkap mengenai ancaman bencana banjir bandang di wilayah Tarogong Kidul. 

Kehadiran BPBD dan Dinas Pendidikan Jawa Barat, Dinsosnakertrans, BPBD  dan LPA Kabupaten Garut, Pesantren Ath-Thariq, PT Binar Cahaya Semesta, Gerakan Indonesia Pintar dalam koordinasi  yang diselenggarakan KerLiP bersama  SLBN B Garut yang menghadirkan Kepala SLB-CYKB dan SDN Sukaratu yang mengalami kerusakan berat, SMPN 2 Tarogong Kidul yang memiliki 53 peserta didik yang menjadi penyintas banjir bandang serta rintisan SLB Cikajang yang disiapkan untuk sister school ke depan. Respon peserta koordinasi menunjukkan pentingnya mitigasi struktural dan non struktural di Kecamatan Tarogong Kidul. Bekal petunjuk teknis SMAB kepada 8 perwakilan sekolah, pesantren dan pengawas diharapkan dapat memperluas komitmen ini di satuan pendidikan masing-masing.

Workshop Penerapan SMAB di SLB

“Kabupaten Garut menempati urutan kedua dalam Indeks Risiko Bencana Indonesia dan nomor 1 dalam multi ancamannya. Workshop dan Koordinasi ini sangat penting untuk memperluas penerapan SMAB di Kabupaten Garut. SMKN 2 Kabupaten Garut sudah menerapkannya. Kami juga sudah melatih simulasi evakuasi termasuk di SLBN B pada tahun lalu, “kata Dokter Ade, Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Garut. 

Dokter Ade memaparkan bahan presentasi dari BMKG dan menunjukkan HP yang sudah terkoneksi dengan sistem peringatan dini gempa bumi. “Tim terlatih SMAB BPBD Kabupaten Garut siap memenuhi undangan KerLiP untuk melatih pembuatan peta evakuasi dan prosedur tetap jika diperlukan, “imbuhnya menutupi presentasi singkat. 

Paparan KerLiP disampaikan oleh Yanti Sriyulianti mulai dengan sejarah singkat kampanye sejuta sekolah dan rumah sakit aman yang diluncurkan pada tanggal 29 Juli 2010 oleh Pemerintah Indonesia sejalan dengan prakarsa UNISDR. Pengertian SMAB dan tiga pilar sekolah aman yang komprehensif dijalin dengan praktik baik yang dilaksanakan KerLiP di beberapa sekolah. Aas melengkapi paparan KerLiP dengan menunjukkan portofolio hasil pelatihan anak dan penilaian mandiri awal oleh warga sekolah. 

Bu Nani yang mewakili Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat menunjukkan simbol I Love You yang mirip dengan lambang Metalica sebelum menyampaikan materi penting mengenai pendidikan layanan khusus. Karakteristik ancaman dan kerentanan masing-masing ABK dipaparkan dengan lugas. Bu Nani juga menyerahkan rekomendasi tertulis mengenai sistem peringatan dini yang dibacakan Aas. Menurut Bu Nani, kesepakatan simbol antara ABK dan masyarakat luas sangat penting dalam upaya penyelematan yang inklusif dan ramah anak jika terjadi bencana. 

Pada kesempatan tanya jawab,  Bu Neneng  menunjukkan kerentanan fisik SLBN B terkait alih fungsi lahan di sekeliling termasuk oleh para pedagang yang membuang limbah sembarangan mensapat tanggapan serius dari Pak Lurah. Kami sepakat untuk menindaklanjuti koordinasi di tingkat kelurahan dengan menyertakan semua pemangku kepentingan termasuk kelompok rentan.

“Pengurus DKM selalu siaga bahkan saat kami menghubungi tengah malam. BPBD kabupaten Garut akan memanfaatkan DKM dalam pencegahan dan kesiapsiagaan, “kata Dokter Ade menyambut penuturan Bu Neneng yang berhasil menyelamatkan diri ke masjid. Kebetulan suami bu Neneng adalah ketua DKM Al Ikhlas. 

Pada kesempatan ini peserta juga menyimak penuturan Pak Amang dari SLB-CYKB. Ia menyampaikan bahwa yang direlokasi adalah asrama yang berjarak 1 km dari sekolah sesuai Permendikbud no 11 tahun 2015. Selain itu menurut perwakilan kemhumham dan Bupati, rumah-rumah dari pendatang yang dianggap liar juga akan direlokasi.

Kejutan Manis dari ABK Kita

Dewi dan Tisna melengkapi kegembiraan hari ini dengan ungkapan belasungkawa dan tekad kuay mereka untuk menjadi insan yang bertakwa dan terus belajar dan berprestasi. Ungkapan keduanya kami sebarkan melalui youtube untuk menunjukkan ketangguhan masyarakat Garut bahkan kelompok rentan pun siap bangkit mengasah ketangguhan melalui penerapan sekolah/madrasah aman bencana.

Rasa takjub terhadap ABK tak kunjung habis ketika kita langsung belajar dan menyimak penuturan mereka. Gembira bersama keluarga-keluarga peduli pendidikan dalam upaya pemulihan dini menuju upaya penerapan SMAB siap dilaksanakan di SLBN B Garut dengan dukungan BPBD Jabar, Garut, Binar, GIP, Pesantren Ath Thariq, Disdik Prov Jabar, LPA dan Dinsosnakertrans Kabupaten Garut. 

Bu Yani Penyelamat ABK di Garut

Hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami menuju tempat para penyintas mengungsi pasca banjir bandang Kabupaten Garut. 

“Air mulai naik jam 8, Bu. Ada 6 anak yang tinggal di asrama malam itu. 25 anak kami boyong ke Bandung memenuhi undangan bu Direktur untuk tampil di acara government board meeting SEAMEO SEN. Saya tak bisa membayangkan jika acara tidak dimajukan ada puluhan anak berkebutuhan khusus yang harus diselamatkan pengasuh asrama saat bersamaan. Alhamdulillah semua anak selamat, “kata Pak Aman, Kepala SLB CYKB kepada Diƕektur Pembinaan PKLK Dikdasmen, Ibu Sri Renani Pantjastuti semalam. Pak Andri, Kepala SLB Nurhakam  menjelaskan bahwa, Kabid PKLK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadang memberikan amanah kepada beliau untuk memimpin pokja penanggulangan bencana di SLB. Kami duduk di balik spanduk-spanduk yang menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap para penyintas. Terlihat spanduk Gemilang Peduli SD Interaktif Gemilang Mutafannin,sekolah yang kami kenal di sudut kanan atas. Ada yang berbeda, sahabat-sahabat KerLiP bersepakat tidak memasang penanda apapun saat tanggap darurat pasca bencana.

“Ayo Pak kita temui anak-anak yang mengungsi di Korem, “Bu Rena mengajak Pak Aman setelah berkeliling melihat dampak banjir bandang di sekolah tersebut. Dapur Air PKPU menarik perhatian saya saat kami tiba di Korem. Dua kawula muda dengan sabar melayani para pengunjung.

Anak-anak berkebutuhan khusus mendapat perhatian istimewa dari para penjaga di Korem yang masih muda-muda. Saya menitipkan Eka (18 tahun)  kepada penjaga setelah melihat kepiawaiannya mengajak anak-anak balita bermain dan gembira bahkan tanpa kata terucap. Sesekali Eka mampur menonton TV di sudut ruangan dan bergembira bersama anak-anak di panggung menemani para relawan dari STIKES. Bu Rena berkali-kali mengingatkan relawan untuk menjaga balita agar tak terjatuh dari pinggir panggung. Kelihatannya  perlu.koordinasi dengan Bu Elka, Kadinsosnaker Kabupaten Garut.

“Saya panggul 6 anak ini sambil berjalan menembus air yang terus meninggi, “kata Bu Yani, pengasuh asrama di SLB YKB. “Saya tidak tahu apa jadinya jika tidak ada tumpukan kayu yang menghampiri kami. Kayu-kayu untuk membangun ruang kelas baru dari bantuan Kemdikbud menjadi penopang keselamatan kami, Bu. Pak Roi berjalan di depan saat gelombang air yang makin deras. Kami menaikkan anak-anak satu per satu melewati pintu besi. Sampai di trotoar kami teriak minta tolong. Ada mobil bak terbuka yang lewat. Penumpangnya terbengong-bengong melihat kami berteriak. Akhirnya kami berteduh di warung tenda di atas trotoar, “imbuh bu Yani.

Bu Direktur menyimak penuturannya dengan  sepenuh hati. “Penjaga warung kaget saat kami menunjukkan air terus meninggi di belakang warungnya. Saking paniknya ia menumpahkan air panas dari panci saat kami meminta minum. Anak-anak menggigil kedinginan. Syukurlah tak lama kemudian polisi berdatangan. Kami mengungsi ke tempat aman, “kata-kata Bu Yani membuat kami tak kuasa menahan haru. Sungguh tak terbayangkan menyelamatkan 6 anak berkebutuhan khusus yang ketakutan di tengah gelombang banjir yang menjebol dinding beton sekolah dan menewaskan 17 orang tetangga mereka yang tinggal di asrama polisi. “Baru kali ini Bu Yani menceritakan hal tersebut setelah banjir bandang, Bu. Alhamdulillah bantuan dan dukungan Ibu menyelamatkan anak-anak kami. Terima kasih ya Bu, “kata Pak Aman.

SLB-CYKB sudah berdiri puluhan tahun. Ada 156 anak berkebutuhan khusus yang belajar dan bermain bersama guru yang mendidik mereka dengan sepenuh hati. Seluruh perlengkapan sekolah mereka terbawa arus banjir bandang. Tembok beton dan dinding kelas mereka jebol. Ada 3 jenazah yang ditemukan tersangkut di sekolah tersebut. Insya Allah pendampingan penerapan sekolah madrasah aman bencana di SLB-CYKB dan SLBN-B Garut akan kami laksanakan dalam upaya pemulihan dini menuju pengurangan risiko bencana di SLB. Pedoman yang diterbitkan Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen sudah diserahkan kepada Kepala SLBN B dan SLB-CYKB langsung oleh Ibu Direktur. Rehabilitasi sekolah oleh Kemdikbud menunggu tahun anggaran 2017.