Pak Ahmad dan Keajaiban Sedekah

Waktu tak terasa sudah hampir pukul 20.00 WIB. Saya masih sulit beranjak dari depan Pak Ahmad yang sedang berkisah dengan penuh binar di matanya. “Saya ingin Ibu tak segan untuk bersedekah. Jangan sungkan meminta pada Allah, Bu. Saat kita tak punya apapun kita tetap berdoa meminta yang terbaik. Apalagi saat kita bersedekah. Mintalah sesuatu yang sangat kita butuhkan dan jadikan sabar serta shalat sebagai penolong. Sungguh janji Allah sangat benar. Balasannya sampai tak terhingga, “ujar Pak Ahmad memulai kisahnya. 

Menyadari prestasi putri ketiganya makin merosot di sekolah, Pak Ahmad dan istrinya melakukan evaluasi. Rupanya konsentrasi belajar putri mereka terganggu oleh berbagai media sosial yang diikutinya. Keduanya menawarkan untuk belajar di pesantren yang memiliki aturan yang cukup ketat di Maros. Alhamdulillah, putri mereka setuju.

Setelah melewati beberapa seleksi, putri tercinta mereka dinyatakan diterima. Waktu pendaftaran pun hampir tiba. “Subhanallah, bagaimana ini, kita hanya punya 2 juta padahal harus bayar 20 juta untuk memasuki pesantren idaman putri kita, “kata istrinya. Pak Ahmad pun berpikir keras. Ia ingat kejadian-kejadian di masa kecilnya. Ibunda tercinta selalu berkeliling menjelang pagi untuk bersedekah. Makin banyak sedekah yang diberikan makin banyak rizki tak terduga yang diperoleh jelang malam. Pak Ahmad akhirnya memutuskan untuk membagikan uang 2 juta kepada fakir miskin. Seluruhnya. “Ada seorang ibu yang saya temukan sedang mengais sampah di pinggir jalan dan ia menangis bahagia menerima uang Rp 500.000 yang saya berikan. Saya sepakat dengan istri untuk menyerahkan urusan pendaftaran pesantren putri kami kepada Allah. Kami berdua bersimpuh di keheningan malam terakhir jelang deadline pembayaran, “kata Pak Ahmad sambil menahan haru. Saya pun tak kuasa menahan takjub dengan air mata berlinang.

Apa yang terjadi kemudian?

Tiba-tiba telponnya berdering. Kolega Pak Ahmad waktu masih menjadi jurnalis di salah satu koran memintanya membuatkan konsep kampanye. Ia mau maju dalam pencalonan Wali Kota. Pak Ahmad adalah jurnalis handal yang memilih hidup sederhana. Ia menyelesaikan konsep tersebut dalam waktu cepat. Alhamdulillah, sebagai imbalan jasanya, ia menerima honor sebesar Rp 20 juta dari koleganya tersebut. “Terima ya, ini untuk sekolah keponakanku, “kata temannya sambil menyodorkan tumpukan uang tersebut. Pak Ahmad segera mengajak istrinya mendaftar ke pesantren yang berjarak 30 Km dari tempat kontrakan mereka. “Saya tidak pernah memberitahukan perihal kesulitan uang pendidikan putri kami kepada siapapun. Allah Maha Tahu apa yang kita butuhkan, “imbuhnya lagi.

Sungguh luar biasa pengalaman Pak Ahmad ini. Sejurus kemudian ia kembali bercerita. Kali ini tentang pengalaman yang paling membekas dalam kehidupannya saat bekerja sebagai redaktur sebuah media cetak di Makasar. “Jam sudah menunjukkan angka 10 malam saat istri saya menelpon sambil menangis. ASI-nya tidak keluar buat bayi merah mereka. Keempat anak mereka yang lebih besar pun tertidur dengan perut lapar. Bayi merah mereka diare karena diberi air teh oleh ibunya. Alhamdulillah ternyata ada uang pulsa dari kantor Rp 100.000. Saya segera pulang dan mampir membeli bensin dekat kantor, “kata Pak Ahmad. Tiba-tiba terpikir oleh Pak Ahmad, uang Rp 85.000 yang masih ada di dompetnya hanya cukup untuk susu dan makan sehari anaknya. Ia pun memutuskan menyedekahkan semua uang tersebut kepada fakir miskin yang ditemukannya di perjalanan. Tiba di rumah langsung merengkuh bayi merahnya dan meminta pertolongan Allah. Esok harinya ada teman yang mengajaknya bertemu untuk minum kopi di sebuah kafe. “Istriku sabar ya. Kita berserah diri kepada Allah. Bapak pergi dulu ya, “katanya sambil mencium kening istrinya sepenuh hati. Ali, teman sekolahnya yang berprofesi pengacara tersebut baru tiba di Makasar. Mereka sarapan bersama. “Ahmad, ini untuk susu anakmu “kata Ali sambil menyodorkan amplop tebal. Mereka kembali ke tempat masing-masing. Pak Ahmad memberikan amplop yang masih tertutup itu kepada istrinya. Alhamdulillah ternyata di dalamnya ada uang sebanyak Rp 2.500.000. Pemberian Allah melalui temannya ini cukup untuk membeli susu, beras, dan makan sekeluarga selama 1 bulan.

Masya Allah Ya Kariim.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s