Membangun Kesadaran Kritis yang Responsif Anak

FGII-Federasi Guru Independen Indonesia, menjadi rumah saya ketika memilih advokasi kritis mendoring perbaikan layanan pemenuhan hak atas pendidikan di tingkat nasional. Kesadaran kritis sebagai warga negara mulai tumbuh saat diperkenalkan dengan Education for All yang disepakati NKRI di Dakkar bersama 100 an kepala negara sedunia. Namun demikian, pertemuan dengan FGII lah yang membuat motto Berani Gagal.yang kami usung dari Cimahi mendapatkan penguatannya.

Berani Berkata Benar

Ini bukan B3 limbah beracun ya. Berani berkata benar atau B3 yang inj perlu perjuangan untuk out of the box dan keluar dari zona nyaman. Waktu itu tanpa sengaja bertemu dengan para pendirinya di ICW. Ada hal yang menggelitik pikiran saya dalam dialog-dialog saling belajar yang saya ikuti dengan antusias di Koalisi Pendidikan. Saya merasa sangat tertinggal jauh karena menganggap cukup dengan membantu menyediakan pendidikan alternatif untuk kelompok menengah kaya di Indonesia khususnya di Jawa Barat.

Kampanye Education for All pun akhirnya dilengkapi dengan advokasi litigasi untuk korban Ujuan Nasional. Kesadaran kritis saya sebagai warga negara benar-benar terasah di Jakarta. Analisa berita pendidikan di Kompas mendorong saya untuk melakukan B3 dengan menulis artikel. Sata jadi mudah geram melihat ketimpangan dan indikasi pelanggaran hak anak atas pendidikan. Rasa geram,  gemat membaca dan kebiasaan menggunakan bahasa halus sejak kecil, bermuara pada tulisan-tulisan kritis di harian umum nasional. Tidak tanggung-tanggung. Semua tulisan saya yang dimuat Kompas setia0 2.minggu sekali sejak 15 Januari sampai Mei itu dibukukan bersama tulisan-tulisan jurnalis keren Kompas. Bahkan sampai dicetak ulang saat 2 tulisan terakhir saya kembali dimuat paa bulan Juli.

Para Pelayan Publik Responsif Anak di Kemenag

Saya memutuskan berhenti menulis di Harian Umum elit itu setelah mempelajari kemudahan-kemudahan menulis di blog. Beberapa blog terkait tema kampanye dan advokasi EFA yang sedang kami usung pun terbit. Blog ini salah satu media untuk menghadirkan wacana mikro ke ranah publik. Perlu keberanian ekstra untuk memilih jalan senyap setelah gegap gempita didukung para jurnalis independen dalam kerja advokasi litigasi.

[

15/03 19:27] Bu Ida Xl: Bu Yanti u tahun ini PPDB Man IC siap menerima siswa 1728 pada 17 propinsi
[15/03 19:27] yanti kerlip: Alhamdulillah…1.728 anak
[15/03 19:28] yanti kerlip: Jadi seperti MAN IC Serpong ya Bu?
[15/03 19:28] yanti kerlip: Dibiayai penuh oleh Kemenag
[15/03 19:30] Litbang Kerlip Diana: Salut dengan perjuangan bu Yanti…
[15/03 19:31] yanti kerlip: Bu Diana…memperluas dampak mimpi kita dulu… di Kota Cimahi Bu
[15/03 19:31] Litbang Kerlip Diana: Iya..kereeennn…
[15/03 19:31] yanti kerlip: Kl buat sekolah sendiri terbatas jangkauannya
[15/03 19:32] yanti kerlip: Dg ibu2 dan bapak2 hebat di birokrasi pelayanannya bisa se nusantara
[15/03 19:32] yanti kerlip: Alhamdulillah birokrat2 kita peduli anak
[15/03 19:33] Litbang Kerlip Diana: Betul… kl kebijakan bisa menjangkau rakyat banyak pasti memberikan dampak yang baik bagi kesejahteraan warga
[15/03 19:33] Ibu Dr. Sowiyah Unila: Bu Yanti. Sy sdh sosialisasi SRA dan Kerlib. Peserta antosias
[15/03 19:36] Bu Ida Xl: Iya bu. Hanya biaya kita bebankan u biaya personal ke siswa
[15/03 19:37] Litbang Kerlip Diana: Sekarang sy akan coba membantu TPQ di rumah menjadi TPQ ramah anak
[15/03 19:38] yanti kerlip: Alhamdulillah
[15/03 19:38] Litbang Kerlip Diana: Nanti di share indikatornya ya bu Yanti
[15/03 19:38] yanti kerlip: Mau dong Bu ceritanya
[15/03 19:38] yanti kerlip: Saya boarding dulu ya
[15/03 21:13] yanti kerlip: Siap Bu

Obrolan di wa grup Gerakan Sekolah Ramah Anak ini adalah salah satu bentuk appresiative inquiries yang kami lakukan bersama para pelayan publik yang responsif anak. Saya sangat beruntung bisa tumbuh bersama Pak Fasli Jalal mengawal kampanye dan advokasi EFA dalam beragam judulnya.

Bu Ida kini menjabat Kasubdit Kesiswaa Ditma Ditjen Pendis. Saya bertemu dengan pelayan publik yang berani memastikan madrasah dinyatakan tegas dalam kebijakan-kebijakan pendidikan pada saat memimpin Sekretariat Nasional Sekolah Aman. Saat itu Bu Ida menjadi Kasubdit Sarpras di Direktorat yang sama. Hubungan kami.makin intensif ketika memperluas MAN Insan Cendekia ke seluruh Indonesia. Saya mendapat kehormatan menyiapkan Grand Design nya bersama Pak Abu Ammar dari ITI Serpong. Secara paralel saya juga menyiapkan instrumen monev bersama konsultan arsitek dan bangunan madrasah.

MAN IC menjadi model Madrasah Bersinar lengkap di Indonesia yang diusung sekretaris Jenderal dari berbagai kementerian dengan diterbitkannya Nota Kesepahaman pada tanggal 20 Agustus 2012. Pedoman Pendidikan Ramah Anak yang kami susun bersama Bu Ninin, Asdep Pemenuhan Hak Pendidikan anak di bawah Deputi Tumbuh Kembang Anak yang dijabat Pak Wahyu, menjadi rujukan utama. Instrumen monev yang menjadi lampiran Perka BNPB no 4 tahun 2012 tentablng Pedoman Peneraoan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana disesuaikan dengan rencana pengembangan dan pembangunan MAN IC.

Alhamdulillah inisiatif baik ini sudah mulai menjangkau  ribuan anak di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s