Guru, Perempuan dan Anak Didik dalam Federasi Guru Independen Indonesia

Inspirasi bincang 3 wanita# catatan musywil DPD FGII Jabar, @ 04.am 28 February 2016

Oleh: Nur Afiatin, Kepala SMK Nurul Imam

Menunggu Adzan subuh, hasratku untuk berbagi apa yg diperoleh dari aktivitas hati kemarin dan semalam kedalam tulisan INI adalah pilihan yg ingin terus dibiasakan. Musyawarah wilayah DPD FGII yang berlangsung hari Rabu tanggal 27 Februari 2016 di SMKN 2 Bandung, berlanjut menjenguk istri pak Taufan demisioner Ketua DPD FGII jabar dan  berakhir di meja makan Restoran Glosis Ciliwung bersama 2 angels FGII Mba teti dan Bu Lise.

Ada banyak hal menarik dan pembelajaran dari ketiga kegiatan tersebut. Musywil berakhir dengan terpilihnya Pak Iwan Hermawan sebagai ketua DPD FGII Jabar, dan saya sendiri sebagai sekretarisnya. FGII dengan keunikan, kedinamisan dan Problematikanya :), menjadi salah satu jalan yang Alloh berikan untuk belajar memahami peran guru yang sesungguhnya.

Bahwasanya organisasi profesi guru hadir, bukan hanya melulu berbicara persoalan kesejahteraan dan advokasi terkait perlindungan guru tetapi lebih jauhnya menjadi tempat tumbuh kembang bergerak memiliki kompetensi, wawasan Dan kesadaran membimbing dan memfasilitasi anak didik menemukan konsep diri yang benar  dihadapan Alloh. Wacana ini nyaris hilang di dalan kajian forum guru seperti ini, padahal posisi guru hampir sama dengan misi KENABIAN.

image

Wacana dominan uang dan ketidakadilan ke guru yang dimutasi, seragam guru, Jam beban kerja guru, KKG, DLL menjadi perbincangan seksi di sebagian besar aktivis profesi guru. Hal ini bukan sebuah kesalahan, tetapi alangkah baiknya kita bergerak ke wacna yg tidak jauh pentingnya yaitu Anak didik, kita sering lupa bahwa tidak akan ada guru kalau tanpa anak didik. Karena mereka sejatinya adalah subjek dari adanya sebutan guru.

image

Saya sebagai guru dan perempuan ingin menyampaikan bahwa keberadaan anak sering mali terlupakan menjadi bagian penting untuk diadvokasi pemenuhan HAK Terbaiknya, disadari ataupun tidak kita sering atau pernah menjadi bagian pelaku dari kekerasan kepada anak sehingga terganggu bahkan hilangnya pemenuhan hak anak. Praktek belajar mengajar kita didominasi oleh egoisme guru sebagai orang dewasa, salah satu indikasinya adalah keinginan atau target kita ke anak yg kuat untuk memahami pengetahuan atau pelajaran yg disampaikan. Anak juga dituntut untuk memperoleh nilai akademis yang memenuhi standar, terlebih kita punya keyakinan sudah menggunakan metode dan cara mengajar yang terbaik.

Arghhh…. Sering kita lupa bahwa yang memahamkan, memintarkan dan membuka pintu hati  Anak didik sejatinya adalah bukan kita tetapi yang Maha Pemilik yaitu Alloh swt. Sehingga marah, kecewa dan alhasil menjadi warna emosi kita saat menyaksikan anak didik kita belum memenuhi target pembelajaran. Andaikan saja Alloh menjadi orientasi dan ibadah menjadi niat saat kita melangkahkan kaki menuju sekolah dan kelas, tentunya hati ini tidak akan lepas berdoa supaya Alloh memberikan pertolongan kepada kita agar dapat mendampingi anak didik dengan lancar, menyampaika ilmu dengan lisan yg mudah terpahami oleh Anak dan mendoakan anak- anak didik kita bahagia selalu belajar ditemani kita.

Yayaayaa….sesi berbagi bagaimana nikmatnya berinteraksi dengan beragam keunikan anak dikuatkan dimoment makan malam santai di Glosis cafe bersama bu Tety dan bu Lise. Bu Tety dengan semangatnya berbagi bagaimana beliau menemukan pola terbaik memfasilitasi tumbuh kembang anak didiknya, masih dengan gayanya yang nyeplos tetapi renyah membawa kita sering kali tertawa bersama. Bu Lise yang berkali-kali mengelus dada karena tersadarkan dengan rekam jejak beliau bagaimana memperlakukan anak didiknya selama INI :).

Alhamdulillah, hanya dengan Rahman dan Rahim Alloh lah saya dan kedua sahabat pejuang guru ini dapat ditakdirkan bersilaturahmi dan mendapatkan banyak pembelajaran dan hikmah. Akhirnya kita menyadari bahwa FGII sebagai organisasi profesi punya tanggung jawab berkontribusi dan berikhtiar mendorong kesadaran guru guru untuk menemukan prinsip dan pola terbaik mendampingi tumbuh kembang anak didik kita. Hal  lain yang taj kalah penting ternyata perempuan lah yang harus memulai bahwa kepentingan terbaik  anak menjadi mainstream dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak guru guru Indonesia baik dalam ruang gerak individu ataupun organisasai. Hidup Guru Perempuan,, Hidup FGII, #eeeehhhh tetaaap:)

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s