3 Rencana Aksi Perlindungan Anak dan Penghapusan Kekerasan terhadap Anak Jawa Barat

Temu sambut perwakilan Lembaga Masyarakat Peduli Anak dengan Kepala BP3AKB Jabar, Dr.Ir. Dewi Sartika yang dikenal dengan sebutan Ibu Ike, menjadi awal Sinergi Masyarakat dan Pemerintah untuk Harmoni (Simphoni) Bangsa di Jawa Barat. Bu Dian Kepala Bidang Kesejahteraan dan Perlindungan Anak BP3AKB Jabar langsung bergegas dan memberi kepercayaan kepada saya untuk memfasilitasi Forum Komunikasi Peduli Anak Jabar di WA. Laporan dari Satuan Tugas Perlindungan Anak Polda Jabar pun terus mengisi keseharian kami. Kasus-kasus persetubuhan paksa yang dialami anak perempuan Jawa Barat yang disampaikan Pak Kosasih dari Satgas PA Polda Jabar begitu memprihatinkan. Saya mengapresiasi seruan Diana dari LPA Jawa Barat dalam semua kesempatan yang menyuarakan tentang pentingnya Perlindungan Anak disebut secara khusus dalam Musrenbang dengan adanya darurat kekerasan bahkan kejahatan seksual anak.

Setelah pertemuan tersebut, semangat Bu Dian untuk membuat terobosan dalam kesejahteraan dan perlindungan anak makin kuat. Saya merasakannya saat Beliau memberikan amanat sebagai moderator dalam Rapat Koordinasi KLA se-Jawa Barat minggu lalu. Bu Ike pun sama semangatnya. Pada kegiatan diseminasi RAN Perlindungan Anak (RAN PA) dan Stranas Penghapusan kekerasan Terhadap Anak (PKTA), bu Ike terus menyuarakan berbagai hal penting terkait upaya Jawa Barat dalam perlindungan anak dan PKTA.

Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak

Pertemuan perdana untuk mengaktifkan Gugus Tugas KLA Kluster 5 dihadiri Tkm Reaksi Cepat dari LPA Garut yang dipimpin Bunda Nita. “Ayeuna mah henteu Bunda Nita wae nu muncul ti Garut, “ungkap Pak Okoh menyambut kehadiran 4 ibu hebat ini.

image

Hampir 1 jam saya menyimak informasi yang disampaikan Bunda Nita, Ibu Hafni Banjar yang juga Lawyer, Umi Diah Momon, dosen dan pemilik STH Garut, dan Ibu Amelia pemerhati disabilitas. Ada 72 kasus pelanggaran hak anak yang terjadi di Garut sejak awal 2016. TRC PPPA LPA Garut ini mendapat dukungan Bupati Garut dan Komnas Perlindungan Anak.

Saya mempertegas himbauan Bu Dian agar TRC yang murni relawan dari ibu2 profesional di Garut ini terus menerus mengajak BKBPP untuk lebih giat dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. “Kita dorong reformasi birokrasi ya Bunda, agar semua anak di Jawa Barat khususnya di Garut dapat menikmati perlindungan hak-haknya dan tak ada lagi korban kekerasan terhadap anak terutama di sekolah. Lebih dari 1/3 hidup anak-anak kita ada di sekolah. Beberapa hari yang lalu kami memfasilitasi pertemuan antara Deputi Tumbuh Kembang Anak dan Dirjen Dikdasmen selepas diskusi informal dengan Deputi dari Bappenas terkait pentingnya harmonisasi Draft Perpres Gerakan Sekolah Ramah Anak yang diusulkan Pak Hamid dan diusung oleh 13 K/L dengan Permendikbud No 82/2015 dan No 23/2015 serta Stranas PKTA dan RAN PA. Kami akan memenuhi undangan Kemendikbud dalam diskusi Sekolah Aman-Anti Kekerasan pada tanggal 29 Februari 2016. Pertemuan hari ini diharapkan dapat merumuskan rencana aksi yang kita usung bersama untuk PA dan PKTA termasuk di sekolah/madrasah di Jawa Barat, “kata saya dalam kesempatan perkenalan diri dan fokus kepedulian KerLiP terhadap anak Jawa Barat.

Rencana Aksi Terdekat

Ungkapan keprihatinan terhadap anak yang terancam kekerasan, kejahatan seksual, kemiskinan, risiko bencana, radikalisme HIV/AIDS, Narkoba, Pornografi, kecenderungan sesama jenis muncul dalam pertemuan kemarin. Saya mengajak semua hadirin untuk mulai dari yabg kita punya dengan pendekatan apresiatif agar kita bisa mengurai masalah dengan jernih dan langsung beraksi menjangkau anak-anak yang memerlukan perlindungan khusus.

Bu Dian menegaskan bahwa BP3AKB Jabar terus berupaya menyuarakan PA dan PKTA ini termasuk dalam Musrenbang Provinsi. Penguatan Gugus Tugas KLA per kluster akan menjadi pendekatan untuk mendukung komitmen dari masing-masing sektor yang memberikan layanan sosial dasar kepada anak-anak Jawa Barat. Kluster kesehatan sudah mulai aktif dan LPA Jabar terus mengawalnya dengan baik. Kluster Pendidikan baru merintis Sekretariat Bersama dengan Kabud PKLK Disdikprov Kabar pada tanggal.22 Desember 2015 dengan pengawalan dari KerLiP dan mitra. Upaya advokasi pendidikan inklusif dari Bu Mufliah, sekretaris Pokja Inklusif Kota Bandung disinergikan dalam kluster IV. Gugus tugas KLA kluster V terkait Perlindungan khusus yang diaktifkan dalam pertemuan kemarin akan dikawal penuh oleh Bu Dian dengan Sri dari Psikologi UPI, Bu Endah dari UIN, LPA, Eti dari JARI, Bu Antik dari Unpad dan KerLiP. Bu Dian meminta saya segera menyusun pointer dan ringkasan eksekutif untuk menyiapkan Anugerah Gubernur Jabar terhadap Kab/Kota yang siap menjadi mentor KLA di 5 wilayah.

image

Ada 3 Rencana Aksi yang berhasil dirumuskan dalam pertemuan perdana, yakni:
1. Pemutakhiran data Profil Anak Jawa Barat yang akan didukung dengan Pusat Informasi Peduli Anak Jawa Barat yang diusulkan Pak Gum.
2. Dukungan Penuh BP3AKB Jabar untuk memperkuat aktivasi Gugus Tugas KLA Kluster V, IV, dan III sambil menggiatkan kluster I dan II serta kelembagaan KLA
3. Pembentukan Satgas Perlindungan Anak sampai di desa-desa di Jawa Barat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s