Kabar GeMBIRA dari Kemdikbud: Forum Komunikasi Multi Pihak Siap Kawal Sekolah Aman Anti Kekerasan

Alhamdulillah kabar gembira, baru saja ditelpon Pak Ono, direktur PSMP, beliau diminta Pak Dirjen sediakan panduan dan materi presentasi kawal sekolah aman-anti kekerasan dalam pelatihan Kurikulum 2013. Pak Direktur meminta saya untuk menyiapkannya terintegrasi dalam Gerakan Sekolah Ramah Anak dg dukungan keluarga peduli pendidikan bersinar untuk SD, SMP, SMA, SMK dan PKLK

Mari kita bergegas menyambut fajar perubahan yang merekah

image

Insya Allah mulai Kamis besok, FGII-IGI-FSGI siapkan usulan kolaborasi untuk mendirikan Lembaga Sertifikasi Guru Ramah Anak ya. Tadi disepakati memperkuat kompetensi kepribadian dan sosial guru terkait sekolah aman-anti kekerasan dalam kerangka gerakan SRA.

image

[29/02 16:25] Nur Afiatin: Mantaap…
[29/02 16:26] Nur Afiatin: Bismillah.. Akhirnya ada isu yg sama untuk menyatukan organisasi profesi guru
[29/02 16:28] yanti kerlip: Alhamdulillah
[29/02 16:28] yanti kerlip: Demi kepentingan terbaik anak
[29/02 16:29] yanti kerlip: Guru-guru bergegas menjadi pionir dalam penghapusan kekerasan terhadap anak
[29/02 16:29] Nur Afiatin: Yuup exactly….
[29/02 16:31] yanti kerlip: Hasil survey Bu Elvy thd sekolah yg sudah menyatakan SRA juga menggembirakan
[29/02 16:31] yanti kerlip: Guru sdh makin sedikit yg dipandang anak melakukan KTA di sekolah
[29/02 16:55] yanti kerlip: Modul TOT SRA utk multi pihak sudah disiapkam bu Elvi dan tim, perlu 38,5 jam
[29/02 16:56] yanti kerlip: Senang sekali jika di Lampung bisa segera dimulai
[29/02 16:57] yanti kerlip: Sekaligus membentuk sekretariat bersama aktifkan Gugus Tugas KLA kluster 4 pendidikan, waktu luang, keg budaya di disdikprov spt di Jabar dan Riau

image

Advertisements

Guru, Perempuan dan Anak Didik dalam Federasi Guru Independen Indonesia

Inspirasi bincang 3 wanita# catatan musywil DPD FGII Jabar, @ 04.am 28 February 2016

Oleh: Nur Afiatin, Kepala SMK Nurul Imam

Menunggu Adzan subuh, hasratku untuk berbagi apa yg diperoleh dari aktivitas hati kemarin dan semalam kedalam tulisan INI adalah pilihan yg ingin terus dibiasakan. Musyawarah wilayah DPD FGII yang berlangsung hari Rabu tanggal 27 Februari 2016 di SMKN 2 Bandung, berlanjut menjenguk istri pak Taufan demisioner Ketua DPD FGII jabar dan  berakhir di meja makan Restoran Glosis Ciliwung bersama 2 angels FGII Mba teti dan Bu Lise.

Ada banyak hal menarik dan pembelajaran dari ketiga kegiatan tersebut. Musywil berakhir dengan terpilihnya Pak Iwan Hermawan sebagai ketua DPD FGII Jabar, dan saya sendiri sebagai sekretarisnya. FGII dengan keunikan, kedinamisan dan Problematikanya :), menjadi salah satu jalan yang Alloh berikan untuk belajar memahami peran guru yang sesungguhnya.

Bahwasanya organisasi profesi guru hadir, bukan hanya melulu berbicara persoalan kesejahteraan dan advokasi terkait perlindungan guru tetapi lebih jauhnya menjadi tempat tumbuh kembang bergerak memiliki kompetensi, wawasan Dan kesadaran membimbing dan memfasilitasi anak didik menemukan konsep diri yang benar  dihadapan Alloh. Wacana ini nyaris hilang di dalan kajian forum guru seperti ini, padahal posisi guru hampir sama dengan misi KENABIAN.

image

Wacana dominan uang dan ketidakadilan ke guru yang dimutasi, seragam guru, Jam beban kerja guru, KKG, DLL menjadi perbincangan seksi di sebagian besar aktivis profesi guru. Hal ini bukan sebuah kesalahan, tetapi alangkah baiknya kita bergerak ke wacna yg tidak jauh pentingnya yaitu Anak didik, kita sering lupa bahwa tidak akan ada guru kalau tanpa anak didik. Karena mereka sejatinya adalah subjek dari adanya sebutan guru.

image

Saya sebagai guru dan perempuan ingin menyampaikan bahwa keberadaan anak sering mali terlupakan menjadi bagian penting untuk diadvokasi pemenuhan HAK Terbaiknya, disadari ataupun tidak kita sering atau pernah menjadi bagian pelaku dari kekerasan kepada anak sehingga terganggu bahkan hilangnya pemenuhan hak anak. Praktek belajar mengajar kita didominasi oleh egoisme guru sebagai orang dewasa, salah satu indikasinya adalah keinginan atau target kita ke anak yg kuat untuk memahami pengetahuan atau pelajaran yg disampaikan. Anak juga dituntut untuk memperoleh nilai akademis yang memenuhi standar, terlebih kita punya keyakinan sudah menggunakan metode dan cara mengajar yang terbaik.

Arghhh…. Sering kita lupa bahwa yang memahamkan, memintarkan dan membuka pintu hati  Anak didik sejatinya adalah bukan kita tetapi yang Maha Pemilik yaitu Alloh swt. Sehingga marah, kecewa dan alhasil menjadi warna emosi kita saat menyaksikan anak didik kita belum memenuhi target pembelajaran. Andaikan saja Alloh menjadi orientasi dan ibadah menjadi niat saat kita melangkahkan kaki menuju sekolah dan kelas, tentunya hati ini tidak akan lepas berdoa supaya Alloh memberikan pertolongan kepada kita agar dapat mendampingi anak didik dengan lancar, menyampaika ilmu dengan lisan yg mudah terpahami oleh Anak dan mendoakan anak- anak didik kita bahagia selalu belajar ditemani kita.

Yayaayaa….sesi berbagi bagaimana nikmatnya berinteraksi dengan beragam keunikan anak dikuatkan dimoment makan malam santai di Glosis cafe bersama bu Tety dan bu Lise. Bu Tety dengan semangatnya berbagi bagaimana beliau menemukan pola terbaik memfasilitasi tumbuh kembang anak didiknya, masih dengan gayanya yang nyeplos tetapi renyah membawa kita sering kali tertawa bersama. Bu Lise yang berkali-kali mengelus dada karena tersadarkan dengan rekam jejak beliau bagaimana memperlakukan anak didiknya selama INI :).

Alhamdulillah, hanya dengan Rahman dan Rahim Alloh lah saya dan kedua sahabat pejuang guru ini dapat ditakdirkan bersilaturahmi dan mendapatkan banyak pembelajaran dan hikmah. Akhirnya kita menyadari bahwa FGII sebagai organisasi profesi punya tanggung jawab berkontribusi dan berikhtiar mendorong kesadaran guru guru untuk menemukan prinsip dan pola terbaik mendampingi tumbuh kembang anak didik kita. Hal  lain yang taj kalah penting ternyata perempuan lah yang harus memulai bahwa kepentingan terbaik  anak menjadi mainstream dalam pola pikir, pola sikap dan pola tindak guru guru Indonesia baik dalam ruang gerak individu ataupun organisasai. Hidup Guru Perempuan,, Hidup FGII, #eeeehhhh tetaaap:)

image

Konsultasi Publik Draft O Pengembangan Ruang Kreativitas Anak

Hari/Tanggal            : Jum’at, 26 Februari 2016
Tempat                      : KPAI
Waktu                        : 09.00-11.30
Agenda                       : Pembahasan Panduan Pengembangan Ruang Kreativitas Anak

Notulensi Hasil Diskusi

image

Beberapa masukan dan saran:

1.       Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak :
·         Di dalam latar belakang, mohon dimasukkan permasalahan yang berkaitan dengan anak dalam menggunakan waktu luang. Seperti contoh-contoh kegiatan yang kurang produktif dan dampaknya bagi anak agar dimasukkan di dalam latar belakang (menggunakan handphone dan dampaknya).
·         Panduan ini diharapkan menggambarkan gabungan komponen RKA seperti pendidikan, budaya, bahasa, IT, permainan tradisional, olahraga rekreasi

2.      KPPPA (Bu Elvi) :

·         Apakah RKA perlu dibuat kategori seperti halnya SRA ?

3.      Iman dari FAN
·         Keberadaan perusahaan rokok disarankan untuk tidak terlibat dalam RKA
·         Di bagian 1.3 Tujuan, kata lain-lain lebih baik diganti dengan kalimat yang lebih tepat *)

image

4.      Bappenas (Bu Yosie)

·         Latar belakang perlu ditambahkan permasalahan yang berkaitan dengan anak dan kebutuhan anak

·         Landasan hukum terlalu banyak, diambil saja landasan hukum yang penting dan sangat terkait

·         Di dalam 1.3 Tujuan, di poin a saran untuk ditambahkan kata “menarik/atraktif” *)

·         Di dalam tantangan dan peluang (poin b bagian Ruang Lingkup), saran untuk ditambahkan FSLN dalam industry kreatif Indonesia *)

·         Di poin c Faktor-faktor yang mendukung pengembangan kreativitas anak cukup dituliskan pointer-pointernya saja

·         Judul Bab 2 : tidak perlu kata Tahapan. Cukup “Pengembangan Ruang Kreativitas Anak” *)

·         Di dalam panduan RKA nanti, perlu dilampirkan layout RKA seperti apa

·         Di dalam tahapan, yang pertama kali perlu diangkat adalah mengenai adanya lahan untuk RKA

·         Di dalam tahapan pelaksanaan, kata stakeholder lebih baik diganti dengan menyebutkan siapa-siapa saja yang terlibat

·         Untuk peran dan program K/L sebaiknya diletakkan di lampiran saja

·         Perlu dipertimbangan bagaimana contoh ruangan karena berkaitan dengan perkiraan bantuan barang yang diberikan

image

5.      Kemenko PMK (Bu Silvanie: Kabid Pemenuhan Hak Anak)

·         Perlu ditambahkan kalimat “RKA sebagai salah satu sarana dalam …………

6.      Kominfo (Bu Khoironi) :
·         Butuh acuan/ criteria/ standar minimal dalam pembuatan RKA
·         Definisi anak perlu jelas karena menjadi pertimbangan dalam penggunaan RKA dan fasilitasnya
·         Standar IT di dalam public seperti apa ?
·         Untuk konsultasi mengenai RKA bisa dilakukan kemana ? Sehingga di dalam panduan dapat ditambahkan.

7.      KPAI (Pak Susanto)
·         Indikator keberhasilan RKA
·         Perlu disepakati, yang tepat Ruang atau Pusat ?
·         Di dalam proses pengembangan kreativitas anak, dapat juga dimasukkan dalam Panduan RKA seperti (1) identifikasi kebutuhan apa saja yang sesuai dengan RKA, (2) Proses dalam pembuatan RKA seperti apa, (3) Bagaimana memanfaatkan RKA tersebut.
·         Perlu adanya evaluasi, sehingga dapat terlihat perbedaan anak yang menggunakan RKA dan tidak

8.     Kominfo (Bu Indri) :
·         Di bagian IT tidak ada pendukungnya, perlu ditambahkan pendukungnya seperti apa
·         Olahraga rekreasi perlu diperjelas sehingga dapat menjawab kebutuhan apa saja yang diperlukan di kota/kabupaten

*) catatan: beberapa yang disebutkan di atas, sudah diberi tanda dalam draft Panduan Pengembangan RKA yang dikirimkan bersama notulensi dengan tanda merah

Silakan beri masukan pada draft ini ya