Catatan Dina: YESSI di SLB G Baleendah Bersama GSB Bersinar SMPN 11, KerLiP, dan SeKAM

Pagi ini menjadi pagi yang sibuk di grup line SeKAM, ya sibuk. Sibuk ngebangunin personil SeKAM yang lain. Meski cara ini gak ampuh 100% tapi 3 dari 8 anggota SeKAM merespon alarm yang dibuat oleh Ksatria ketua SeKAM. Semalam kami berdiskusi akan berangkat bersama dari kampus jam 6.30 pagi karena harus berada di SLB jam 8 pagi. Tetapi, ekspektasi tidak selamanya sesuai dengan realita yang ada. Karena mimpi kami semalam terlalu indah, kami berangkat jam 7.30 pagi. Anggota SeKAM yang hadir ada 5 orang termasuk Ksatria

Jam 8.30 kami tiba di SLB, ini kali kedua saya dan Dita datang ke SLB-G YGMU Baleendah.  Saat kami tiba di Aula ternyata sudah siap anak-anak SLB-G YGMU Baleendah, 29 duta anak dari SMPN 11 Bandung, Teh Fitry, Bu Nia dan Ami. Saat kami membaur kami mencoba berkomunikasi dengan anak-anak dari SLB-G, bisa sih tapi agak sedikit bingung karena saya sendiri ada d itengah anak-anak tuna (aduh, maaf masih nyebut tuna di undang-undang masih tuna -_-) grahita plus rungu. Mereka berkomunikasi dengan melihat gerakan tubuh dan gerak bibir, dalam memberi respon pun saya harus melihat dulu gerak bibir mereka.

Kegiatan hari ini adalah menentukan jalur evakuasi, dari mulai keluar aula lalu menuruni tangga, menyusuri lorong hingga berkumpul ke lapangan. Sebelumnya Fina dkk mengenalkan lagu ‘kalau ada gempa’ dan menjelaskan rambu jalur evakuasi kalau jalur evakuasi berwarna merah itu berarti kita harus hati-hati, kalau yang berwarna hijau itu aman, dan terakhir rambu titik kumpul. Saya menerangkan kembali kepada anak-anak tuna rungu:

hati-hati dengan tangan disilangkan,

aman menunjukan jempol ‘oke’,

titik kumpul tangan membentuk lingkaran menunjukkan lapangan.

Penentuan titik pun dimulai dengan Firdi dan Farhan (tuna grahita) yang mengkoordinir teman-temannya. Pertama, mereka berbaris sambil menyanyikan lagu ‘kalau ada gempa’, lalu mereka berbaris rapi ke luar aula sambil melindungi kepala.  Mereka pun menempelkan rambu jalur evakuasi berwarna merah karena jalur tersebut menuju ke arah tangga. Selanjutnya mereka jalan menyusuri lorong dan menempelkan rambu jalur evakuasi berwarna hijau yang menandakan jalur tersebut aman untuk dilalui dan terakhir mereka berkumpul ke lapangan dan menempelkan rambu titik kumpul disana.

Setelah selesai menentukan jalur anak-anak kembali ke aula, SeKAM, anak-anak SLB-G dan SMP 11 melepaskan rasa narsis kami, yap selfie di aula. Anak-anak SLB-G ternyata sangat senang difoto. Saat kami sedang asyik-asyiknya mengobrol tiba-tiba. “Tringgg… Tringgg…..Gempa….Gempa….” anak-anak berbaris sambil melindungi kepala dan berjalan keluar aula karena jalur yang dilalui tidak terlalu besar mereka pun harus antri yang mandiri berada di depan dan yang memerlukan bantuan bersama duta anak dan SeKAM di belakang. Sampai akhirnya kita di lapangan dan melakukan simulasi jika tidak ada lapangan dengan bersembunyi di bawah meja, tetapi meja disana tidak seperti meja di kebanyakan sekolah kolongnya lebih kecil. Saat simulasi karena seringnya naik turun tangga, Noval dkk yang memiliki hambatan di bagian kaki mereka cepat lelah dan sesekali mereka beristirahat mereka berjalan dengan memegang benda di sekitar karena kekuatan kaki yang tidak seperti orang kebanyakan.

Simulasi selesai waktu sudah menunjukan pukul 11 siang, dilanjutkan dengan testimoni dari Farhan, Raisa, Lala, Alfi, Noval,Cepi (SLB-G YGMU Baleendah) lalu ada 2 orang duta anak SMP 11. Mereka semua senang dalam berkegiatan hari ini mendapat teman baru yang seru, harus melindungi kepala saat gempa, anak-anak dari SLB-G juga menceritakan bencana banjir yang sering terjadi di wilayah mereka. Selesai testimoni anak dan selesailah pula kegiatan pada hari ini.

Eiitt, belum beres. SeKAM, duta anak SMPN 11, teh Fitri, Bu Nia dan Ami melanjutkan sesi selanjutnya yaitu evaluasi dimulai dari kesan pesan dan aksi apa yang ingin diberikan kepada kegiatan selanjutnya dari 29 duta anak salah satunya dari Syahlan “saya merasa senang, beryukur bisa ada disini, disini saya mendapatkan inspirasi mereka (red: anak SLB) bisa semangat dalam keterbatasan sedangkan kita yang lengkap malah bermalas-malasan” dan mereka semua menginginkan kegiatan ini bisa dilakukan di seluruh SLB di Kota Bandung. Setelah mendengar cerita dari 29 duta anak lanjut kepada perkenalan dari 5 anggota SeKAM dan ada saran dari Yurika “kalau bisa sebelum kegiatan diadakan briefing agar satu persepsi saat ditanya oleh anak-anak SLB-G, dan jangan dulu main handphone saat kegiatan”. Lalu Ami yang meminta kegiatan seperti ini  harus terus dijalankan. Semoga, keinginan kami dari anak-anak ini dapat terwujud, amiin….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s