Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar Dimulai

Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan Bersinar diusung oleh sahabat-sahabat KerLiP dalam upaya menyiapkan perluasan dampak dari program SLB Bersinar yang sedang dilaksanakan di Jawa Barat atas dukungan Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Direktorat Pembinaan PKLK Dikdasmen). Persiapan kegiatan kami laksanakan bersama Duta Anak YES4SaferSchool SMPN 11 dan SMPN 35 Bandung difasilitasi oleh Ibu Nia Kurniati dan Nurul Fitry Azizah. Fina, Duta Anak SMPN 11, didampingi Bu Nia untuk melakukan mentoring sebaya di kelas digital SMPN 11 Bandung. Fitry melaksanakan observasi bersama  Pak Widi, Kepala Sekolah Semesta Hati dan Ksatria dari SeKAM yang akan memfasilitasi SLB Citeureup dan SLB lainnya.

Jejaring Pengaman

Model gerakan pemenuhan hak pendidikan anak KerLiP selalu dijalin dengan advokasi yang melibatkan para pemangku kepentingan. Kegiatan Seminar yang disiapkan Ibu Ekasari di SLBN Cicendo dan Rapat Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat merupakan merupakan salah satu upaya untuk mempertemukan Duta Anak dengan para pemangku kepentingan khususnya di Jawa Barat.

Kami menyiapkan jejaring pengaman ini secara sadar dan terencana untuk mendukung keberlanjutan program menjadi Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan. Kata Bersinar adalah akronim dari Bersih, Sehat, Inklusif, Aman, dan Ramah Anak, menjadi penanda baru untuk merangkai praktik-praktik baik sekolah bersih dan sehat, sekolah inklusif, sekolah/madrasah aman dari bencana, dan sekolah ramah anak. Peserta didik dari kelas digital yang menginvestasikan waktu, tenaga, pikirannya untuk menyiapkan YES4SaferSchool di SMPN 11 Bandung dan SLB Bersinar di SLB Kasih Ibu Kota Bandung menjadi narasumber utama dalam Seminar Peningkatan Partisipasi Anak dalam Mewujudkan SLB Bersinar. Duta Anak YES4SaferSchool dari SMPN 11, Duta Anak SRA SMAN 15 Bandung, Arlian-perintis GSB MSA SMPN 11 dan penerima anugerah BNPB award. Sementara itu, Yunika dan Sahlan memberikan testimoni bersama Allisa, Duta Anak YES4SaferSchool SMPN 35 Bandung bersama Duta Anak Jawa Barat yang dihadirkan BP3AKB Jabar dalam kegiatan Rapat Koordinasi Pembentukan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.

Anak-anak hebat ini menjadi “konsultan anak” dalam kegiatan yang menghadirkan narasumber-narasumber, antara lain: Ketua P2TP2A Jawa Barat, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung, Kepala Bidang PKLK Disdikprov Jabar, Ketua Forum Pejuang Difable, Asda II Pemerintah Kota Cimahi, Teacher Changemaker Ashoka, Pendiri dan Pegiat Sekolah Inklusif Semesta Hati, Kepala Bidang KPA BP3AKB Jabar, Kepala Bidang Advokasi PHPA Deputi TKA Kempppa, Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jawa Barat. Guru dan penyelenggara TK-SD Marhas Kabupaten Bandung, SMP/SMK Nurul Iman, Pokja Inklusif Kota Bandung, Disinfokom Jabar, SLB Citeureup, SLB Baleendah, SLB Pajajaran, SLB Kasih Ibu, MAN 1 Kota Bandung, SMAN 15 Bandung, SD Hikmah Teladan Cimahi, Forum Anak Jawa Barat, serta keluarga-keluarga peduli pendidikan di Kota Bandung khususnya di SLBN Cicendo menjadi jejaring pengaman dalam keberlanjutan dan perluasan Gerakan KerLiP Bersinar di Jawa Barat.

Alhamdulillah para penyelenggara sekolah yang hadir dalam Seminar menyambut antusias rencana Safari GeMBIRA yang akan dilaksanakan Duta Anak dari SMPN 11, Semesta Hati, dan SMPN 35 Bandung. Bu Muftiah dari Pokja Inklusif Kota Bandung yang juga guru di SLBN Pajajaran mengundang Duta Anak ke SLBN Pajajaran untuk belajar bersama penyandang tuna netra. Ibu Kepala SLB Bale Endah siap menjadi mitra dalam penerapan SLB Bersinar. Orangtua dari SLB Kasih Ibu mempersilakan anak-anak  datang ke sekolah putranya. Sementara itu, Bu Kokom dari TK/SD Plus Marhas mengharapkan keberlanjutan Safari GeMBIRA yang sebelumnya dilaksanakan Nabila, Allisa, dan Forum Anak Jawa Barat untuk melaksanakan YES4SaferSchool yang inklusif.

Rencana Aksi

Dina dari SeKAM menjadi announcer sekaligus sekretaris program SLB Bersinar di Jawa Barat. Ia menyiapkan notulen Rapat Kerja penyusunan rencana aksi SLB Bersinar yang akan berlangsung selama 6 minggu sejak 8 Januari 2016  dan diakhiri dengan kegiatan simulasi serempak di SMPN 11 Bandung. Para fasilitator akan dibimbing oleh Ibu Nia yang juga Pengawas Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan. Prinsip-prinsip Sekolah Ramah Anak menjadi dasar dalam penyuluhan SLB Bersinar dengan model mentor sebaya. Terdapat beberapa sekolah luar biasa yang akan menjadi sekolah dampingan dalam kegiatan ini, yaitu :

  1. SLB Kasih Ibu Kopo mitra SMPN 11 dengan Bu Nia sebagai fasilitator utama
  2. SLB Baleendah mitra SMPN 35 dengan Ksatria sebagai fasilitator
  3. SLB Citeureup mitra Sekolah Inklusif Semesta Hati dengan Ibu Ninuk sebagai fasilitator

Gerakan Siswa Bersatu di SMP 11 telah membagikan golongan ABK yang akan mereka dampingi dengan model sister school serta pengembangan potensi dari masing-masing golongan, yaitu :

  1. Tuna Netra = mengembangkan potensi di bidang olah suara / vocal (cth. menyanyi)
  2. Tuna Rungu = mengembangkan potensi dari aspek fisik (cth. modelling)
  3. Lamban belajar = membuat bahan ajar yang lebih menarik untuk anak (cth. Dengan menggunakan gambar atau hewan).

Penyusunan rencana aksi SLB Bersinar dilaksanakan secara berkelompok sebagai langkah awal kegiatan Sekretariat Bersama Pemenuhan hak Pendidikan Anak Jawa Barat. Allisa, Duta Anak dari SMPN 35 Bandung membantu menyalin hasil diskusi kelompok tersebut.

A. Rencana Aksi SLB Bersinar di SLB Kopo

Minggu ke-1 :

  • Survey (tim survey)
  • Koordinasi : Membuat kesepakatan dengan pihak sekolah\

Minggu ke -2 :

  • Membuat jalur
  • Sosialisasi 1, dengan guru

Minggu ke-3 :

  • Sosialisasi-2, dengan siswa
  • Mengecheck jalur yang akan dilalui

Minggu ke-4 :

  • Simulasi Yes For Safer School

Minggu ke-5 :

  • Simulasi dadakan (tanpa pemberitahuan)
  • Pembentukan GSB Bersinar

Minggu ke-6 :

  • Evaluasi dan audit mengenai aksesibilitas di sekolah tersebut

 

Rencana Ibu Nia

Melakukan 2 kegiatan yaitu yes 4 safer school di sekolah dan mendampingi SLB, kini yes 4 safer school dipegang oleh anak-anak OSIS yang dulu sempat terhenti karena pergantian kepala sekolah.

Minggu pertama : pada tanggal 11 dan 12 Januari 2016  akan membuat keputusan dengan pihak sekolah

Tanggal 11 : siswa diliburkan  dan hanya ada guru-guru, kegiatan anak rapat untuk persiapan kegiatan.

Tanggal 12 :  setelah pulang sekolah atau setelah dhuhur anak-anak berkoordinasi dan membuat kesepakatan dengan pihak sekolah (kepala sekolah), guru dan anak belajar berkomitmen terhadap kesepakatan yang telah dibuat.

Anak-anak menginvestasikan waktunya 3 hari dalam satu minggu.

Minggu kedua : di tanggal 16 atau 17 melakukan sosialisasi di kelas digital sebanyak 7 kelas dengan berkoordinasi dengan wali kelas(sehabis jumatan atau pada saat keputrian), di SLB membuat jalur sedangkan di SMP 11 menyepakati jalur karena jalur masih belum jelas / bongkar pasang, dan akan berkolaborasi dengan pak Rano dari BPBD.

Minggu ketiga : uji coba jalur . uji coba jalur di SMP 11 dengan menghadirkan berbagai pihak terkait seperti rekan dampingan di SLB,KerLIP, SeKAM, Semesta Hati, BPBD, dan lain-lain.

Minggu keempat : simulasi dilakukan di hari sabtu oleh kelas digital sebanyak 7 kelas.

Minggu kelima : simulasi dadakan di SLB, dan simulasi besar di SMP 11.

Minggu keenam : evaluasi dan audit. Diharapkan anak juga dapat ikut dalam rapat sehingga mereka dapat menyuarakan apa saja keberhasilan dan kekurangan dalam kegiatan sebelumnya.

Catatan dari Bu Yanti

Model peer helping dan mentoring sebaya di SMPN 11 Bandung lebih awal dilaksanakan merespon kesungguhan Pak Raya, Kepala Sekolah yang baru. Pak Raya bahkan mengajak guru berinvestasi dengan menghilangkan honor pelaksanaan rapat atau kegiatan lainnya yang dilaksanakan di sekolah. Fasilitator dari Semesta Hati dan sekolah lainnya menjadi observer untuk belajar bersama Bu Nia dan Duta Anak YES4SaferSchool SMPN 11. Konsolidasi jadwal penyuluhan penting diketahui bersama untuk mendukung upaya dialog saling belajar ini.

 

B. Rencana Aksi Mewujudkan SLB Bersinar (Bersih, Sehat, Inklusi, Aman, dan Ramah Anak) di Semesta Hati dan SLB Citeureup Cimahi

 Januari

Minggu ke-1 :

  • Sosialisasi & Observasi
  • Tujuan sekolah bersinar
  • Kelengkapan sarana & prasarana

Disampaikan melalui : visual, audio, tulisan Braille

Minggu ke-2 :

Sekolah bersih dan sehat

  • Pelabelan simbol-simbol kebersihan dan kesehatan

(Tempat sampah, tempat cuci tangan, ruang kelas, wastafel, toilet)

  • Perlengkapan di toilet (tempat sampah, sabun cair, lap tangan, cermin, exhaust fan)

Minggu ke-3 :

Sekolah inklusif

  • Menerima semua ABK
  • Layanan inklusif pada ABK
  • Layanan pembelajaran
  • Pendekatan yang dilakukan : klasikal, individual
  • Guru yang inklusif (dibekali dengan diklat)
  • SLB terdekat sebagai mitra

Minggu ke-4 :

Sekolah aman

  • Accesibilitas
  • Advokasi ke lembaga
  • Penyediaan fasilitas yang sesuai anak ABK
  • Sosialisasi terhadap bencana pada ABK (penentuan jalur evakuasi)
  • Simulasi & evakuasi bencana (kebakaran, gempa, dsb.)

Februari

Minggu ke-1 :

Sekolah ramah anak

  • Ramah lingkungan dan pembelajaran (meliputi seluruh komponen sekolah dan lembaga)
  • Layanan yang nyaman untuk anak

 

Pak Widi Kepala Sekolah Semesta Hati

Semesta hati juga merupakan sekolah inklusif dengan 50% ABK yang kebanyakan merupakan tuna grahita.

Minggu pertama : melakukan brainstorming yang diberikan oleh guru, dengan tayangan-tayangan mengenai bencana dan sosiodrama contohnya tayangan mengenai patahan lembang. Sehingga anak-anak berkebutuhan khusus memiliki kesadaran mengenai adanya bencana. Dengan metode berbasis kolaborasi dengan solusi langsung dari anak. Contohnya, Raska anak autis yang saat sedang simulasi bencana dengan menggunakan matras yang digoyangkan dan guru meneriakkan “gempa” tetapi Raska hanya diam, dan temannya membuat ide dengan membuat jalur dari lego (mainan kesukaan Raska), dan Raska mau mengikuti jalur tersebut. Tujuan disini adalah menumbuhkan kesadaran anak akan bencana dan rasa peduli antar teman untuk saling menolong.

Minggu kedua : CACT untuk ide-ide penyelamatan baru

Minggu ketiga : CACT jalur evakuasi di Semesta Hati dan SLB Citeureup

Minggu keempat : Refleksi dan evaluasi

Minggu kelima : Sosiodrama dari beberapa bencana

Minggu keenam : anak-anak membuat presentasi (video, gambar, dan lain-lain) dengan ABK sebagai anak yang ditolong.

Minggu ketujuh : mengundang Pak Rano dari BPBD untuk evaluasi jalur evakuasi, selain itu juga menghadirkan, guru, orang tua, dinas,

Minggu kedelapan : membentuk duta anak.

Catatan dari Bu Yanti

Fokus utama dari program ini adalah bagaimana pengembangan kapasitas guru agar bisa memfasilitasi peserta didik agar sadar akan bencana dan mengetahui prosedur tetap jika menghadapi bencana. Di sekolah inklusif, anak-anak bisa membantu teman sebaya yang berkebutuhan khusus untuk menyelamat diri ketika terjadi bencana dengan skala yang rendah dan menjadi teman sebaya yang terpercaya dalam penanganan psikososial  bagi ABK pasca bencana termasuk penyelematan diri oleh Satgas PB yang terampil dan profesional. Di Jepang anak yang lebih kuat, besar, dan terampil yang membantu anak yang lebih kecil di sekolah lain. Penyelamatan ini menginspirasi BNPB mengembangkan model sister school. Duta Anak di setiap sekolah mitra membentuk Gerakan SIswa Bersatu yang menginisiasi pembentukan SATGAS untuk penanggulangan bencana di sekolah/madrasah. Satgas PB sekolah/madrasah ini yang berlatih rutin agar terampil dalam penyelematan diri jika terjadi bencana. Inti dari ramah anak adalah konsultasi pada anak. Ingin ada model sosialisasi SLB Bersinar mulai dengan YES4SaferSchool dengan menggunakan bahasa isyarat.

 

 

Rencana Aksi SLB Bersinar di SLB Baleendah

Minggu ke-1 :

Observasi ke Sekolah

  • Instrumen
  • Target
  • Capaian
  • Minimal
  • Kelas yang ditunjuk
  • Pemetaan
  • Jenis
  • Jumlah
  • Kesukaan Kegiatan
  • Tempat
  • Waktu
  • Cara
  • Pengkondisian (Persiapan dan durasi)
  • Pendekatan (Lagu, gambar, dan alat peraga)

Minggu ke-2 :

Pertemuan awal dengan siswa (Kegiatan Safari Gembira)

  • Lagu
  • Menggambar
  • Transektor
  • Jalur evakuasi (rambu dan sirine)
  • Titik kumpul

Minggu ke-3 :

Pembuatan peta evakuasi

  • Jalur
  • Rambu

Minggu ke-4 :

Simulasi

  • Sasaran tidak hanya anak melainkan juga melibatkan pihak sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar

 

Ksatria dari SeKAM

Ternyata SLB di Baleendah adalah SLB-G atau sekolah dengan disabilitas ganda, lebih kepada tuna grahita.

Minggu pertama : mengadakan sosialisasi pada tanggal 8 Januari akan ke SLB dan bertemu dengan pihak kepala sekolah, pendamping, orang tua, dan lainnya. Dan menentukan satu kelas yang akan dijangkau pada kegiatan ini. Dan akan dibantu oleh rekan-rekan dari SeKAM dan Icha dari SMP 35. Membangun trust building kepada anak.

Minggu kedua : pertemuan awal dengan siswa. Dengan menggunakan nyanyian, gambar atau materi lainnya.  Untuk awal kita juga akan berkoordinasi dengan pendamping yang nanti akan menjadi observer, agar apa yang kita lakukan sesuai dengan kemampuan anak.

Minggu ketiga : anak-anak langsung menentukan jalur evakuasi, dan menentukan  dan membuat icon atau warna. evaluasi dengan pihak sekolah, mengenai kebutuhan yang diperlukan anak untuk kegiatan selanjutnya.

Minggu keempat : melakukan simulasi dengan siswa, warga sekolah, orang tua, dan masyarakat sekitar. Pengumuman mengenai duta anak.

Bu yanti

Penerapan sekolah aman merupakan inisiasi Gerakan KerLiP Bersinar dalam mewujudkan sekolah ramah anak. Praktik baik dari Alor yang disampaikan Veny dengan menggunakan lagu naik kereta api untuk mengajak anak-anak cuci tangan pakai sabun dijalin dengan YES4SaferSchool dengan melibatkan semua anak termasuk anak yang berkebutuhan khusus.

 

Catatan pelengkap

Veny: di Alor sadar kebersihan, anak-anak di sekolah formal yang ka Veni datangi masih  kurang kesadaran akan budaya bersih, meski air bersih disana banyak.. salah satu ice breaking yang saya gunakan dengan bermain kereta api. Mereka ragu saat akan mencuci tangan, dan saat mereka mencuci tangan dengan sabun dan air mereka mulai mengajak teman mereka yang masih malu-malu. Sedangkan pada saat di SLB ternyata anak-anak disana lebih senang saat diajak bermain kereta api dan mencuci tangan dengan air hujan. Dibagi kelompok berdasarkan jenis disabilitas oleh gurunya tuna rungu 4 anak mereka bermain memasang puzzle, tuna grahita belajar menggambar garis dengan membuat pohon cemara. Kurangnya kepekaan guru terhadap fasilitator yang kerepotan dengan anak-anak yang ada disana.

Aas : sekolah disana (Alor) meski sekolah negeri tetapi seperti kandang meri hanya plangnya saja yang bagus, tim disambut dengan sangat baik disana. Disana sekolah formal 53 anak hanya 3 guru termasuk satu orang kepala sekolah.

Pak Tedi adcourse : ingin berkolaborasi dengan KerLiP di CFD Bandung dalam memasarkan produk mereka.

Bu yanti : akan dibuatkan surat mengenai kolaborasi dengan komunitas lain, jika ingin berkolaborasi komunitas atau lembaga harus membagi ilmu mereka dengan syarat anak yang ingin mendapatkan ilmu tersebut harus menyetorkan synopsis dari buku yang dia baca.

Rencana Aksi di TK/SD Marhas

Minggu ke 1 + 2 :

Identifikasi resiko = melibatkan warga sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat

  1. Bencana
  2. Kekerasan, konflik sosial
  3. Lingkungan hidup & Kebersihan, kesehatan
  4. Disabilitas

Minggu ke 3 + 4 :

  1. Persiapan sarpras untuk simulasi
  2. Sosialisasi simulasi untuk Sekolah Ramah Anak kepada siswa, orang tua, dan masyarakat

Minggu ke 5       :

  1. Simulasi bencana gempa & kebakaran melibatkan warga sekolah

Minggu ke 6       :

  1. Evaluasi kegiatan, melibatkan siswa
  2. Penyusunan rencana kerja 5 tahunan
  3. Pembentukan tim SRA

 

Penutup

Pelatihan SRA di SMAN 24 dan SMP/SMK Nurul Iman yang difasilitasi KerLiP menjadi bagian tak terpisahkan dalam Gerakan KerLiP Bersinar 2016. Kami juga menyiapkan dukungan lain dalam bentuk diskusi rutin mengenai Generasi Pemberantas Kemiskinan dan Filantropi Indonesia di Omah cafe Jakarta setiap bulan.

Penyusunan Book of me oleh sahabat-sahabat KerLiP  difasilitasi langsung oleh Bu Nia dalam Rapat kerja KerLiP Bersinar 2016. Terbersit harapan akan adanya pemahaman yang sama dalam menerapkan tumbuh bersama mengedepankan prinsip kepentingan terbaik bagi anak.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s