MANDALA DIRI DI MATA PARA BUNDA

Proses Pembelajaran Tema Menemukan Potensi Anak Melalui Mandala Diri adalah rangkaian dari kegiatan Sekolah Bersinar dan persiapan pelaksanaan YES For Safer School tahap 2. Pada tahap ini merupakan bagian yang sangat menarik dan memukau (paling tidak itulah pendapat saya pribadi). Mengapa? karena selain saya bisa menemukan potensi diri dari sebagian siswa, saya juga dapat menyajikan proses pembelajaran yang menyenangkan dan dalam suasana gembira. Maka kegiatan yang berlangsung dari jam 09.00-11.30 terasa singkat, sampai-sampai harus ditambah selama 30 menit lagi, bahkan khusus dengan para bundanya diskusi dilanjutkan sampai jam 14.30. Alasan lainnya kenapa prosesnya jadi memukau, karena saya berhasil menghadirkan para bunda dalam kelas dan bersama-sama terlibat sebagai observer.

 

Dalam catatan ini, saya akan khusus menuliskan tentang keterlibatan para bunda, pendapatnya, serta masukan maupun saran perbaikannya.  Kami-saya dan para bunda melakukan diskusi secara online. Saya mencoba merangkum nya ya bu. Semoga bermanfaat.

Saat kami melakukan diskusi on-line, ada beberapa hal yang saya tanyakan pada para bunda, yaitu:

  1. Bagaimana pendapat para bunda tentang proses pembelajaran (Mandala Diri) yang saya laksanakan?
  2. Bagaimana respon anak-anak ya?
  3. Apakah setelah di rumah, dibahas kembali hasil pembelajaran tsb?

 

Ternyata responnya Alhamdulillah luar biasa bu. Beberapa pendapat dari pada bunda adalah sebagai berikut:

Untuk pertanyaan no.1. :

  1. Menurut pendapat saya selaku otm yang mengikuti kegiatan seperti itu sangat antusias. Dengan sistem belajar yang interaktif antara guru dengan anak maupun anak dengan anak dan guru dengan otm. Guru dapat melakukan pembelajaran dengan baik dan menarik untuk anak maupun otm.
  1. Saya sebagai otm merasa dilibatkan dalam proses pemantauan kegiatan tsb. Karena hal tsb merupakan yang pertama kali bagi saya dan anak saya. Kami berharap kegiatan spt itu dapat berlanjut.
  1. Selain untuk memupuk rasa peduli anak terhadap sesama juga membuka kesadaran anak terhadap mandala dirinya sendiri. Kemampuan, kelebihan serta cita-cita anak kita menjadi tergali.
  1. Saya sangat mengapresiasi cara ibu mengajar anak-anak. Ternyata cara mengajar ibu tidak seperti sewaktu saya sekolah dulu… 😀
  2. Ibu mengajar anak-anak dengan cara yang sangat menyenangkan, tidak membosankan sehingga anak-anak tidak berasa seperti sedang belajar. Karena Anak-anak diberi kebebasan berekspresi untuk menunjukkan kemampuan dan kesenangannya, dari hal-hal kecil dan tidak penting seakan-akan menjadi penting (misalnya melalui lagu yang dia senangi). Walaupun masih ada yang terlihat malu-malu tapi kalau terus diasah dan diberi kesempatan, tidak ada yang tidak mungkin, semua akan berubah positif.
  1. Terimakasih bu, kami bisa diberi kesempatan melihat guru mengajar dan tidak mengganggu proses belajar sehari-hari. Menurut saya tidak semua guru mau melakukannya-ibu termasuk guru yang sangat berani dan mau membuka diri demi kebaikan anak-anak. Saya jadi percaya sama ibu dan sekolah ini, kami bangga menjadi bagian dari kelas digital. Tanpa kami sadari sebagai otm melalui kegiatan seperti itu juga dapat memupuk solidaritas.
  1. Saya merasa senang dengan kegiatan seperti ini karena menambah wawasan anak kami juga. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini terus berlanjut.
  1. Pendapat mamahnya Fahlevi ( saya juga buatkan catatannya khusus ya bu): Sangat menyenangkan melihat proses dan respon semua anak. Saya baru tahu kalau Levi pendiam di kelas L Mohon bimbingannya ya bu… Terimakasih Levi sudah diberi kesempatan ikut Mandala Diri. Semester 1 ini saya benar2 melepas dia, ternyata hasilnya “aduhai”. Mulai sekarang Insyaallah saya akan mendampingi lebih intensif lagi bu. Liburan ini saya akan baca-baca dan mempelajari rumus2. Terimakasih, ibu telah menyadarkan saya tentang hal ini.
  1. Pendapat mamah Fina: Apa yang bu Nia lakukan menurut saya sangat baik karena dapat memotivasi  dan berpikir kritis sehingga anak dapat mengungkapkan keinginan positifnya.
  1. Pendapat otm dari Syifa kelas 7.5: Terimakasih bu Nia, saya baru pertama kali melihat kegiatan seperti ini. Sangat baik sekali karena dapat memupuk rasa peduli sesama, semoga bisa dilakukan juga oleh guru yang lain.  Saya mengapresiasi untuk kebaranian ibu membuka diri dan terbuka terhadap kritikan. Jika ibu tidak keberatan, saya ingin anak saya bisa terus ikut kegiatan dengan ibu. Saya percayakan sepenuhnya pada ibu pokoknya…

 

Untuk jawaban 2 dan 3, tidak semua otm memberikan jawaban, hanya mamah Sahlan dan Fahlevi saja yang menjawab. Dugaan sementara saya adalah para otm belum terbiasa bertanya tentang perasaan dan minat anak.

Menurut mamah Fahlevi : Nampaknya dia senang bu. Dia cerita pas disuruh ke depan, deg-degan, malu dan takut ga bisa, karena Levi ga tahu judul lagunya tapi tahu liriknya saja. Pas disuruh mimpin doa penutup juga deg-degan lagi katanya. Tapi bu, saya puji-puji saja terus. Kata saya, segitu mah udah hebat udah mau ke depan, nanti lama-lama juga terbiasa seperti Sahlan.

 

Sedangkan menurut Mamah Sahlan: Sahlan setiap pulang sekolah atau pulang kegiatan GSB selalu membahasnya dengan semangat 45, hehehe…Hatur nuhun ya bu…

 

Setelah membahas itu, saya mencoba melanjutkan diskusi kami. Saya tanyakan juga tentang kemungkinan kegiatan open class dilakukan, misalnya  dalam pembelajaran IPA. respon para bunda setuju.

Ada pendapat yang sangat menarik bu, dari Mamah Sahlan: “menurut saya layak dicoba bu, soalnya kelas kita kan mau dijadikan pilot project  sama bu Yanti ya? Nah kita sebagai otm bisa tahu kenapa kelas kita bisa sampai menjadi demikian. Kita bisa tahu jawabannya kalau kita masuk ke dalam situasi proses belajar. Bagaimana interaksi para guru dan murid sehari-hari di dalam kelas. Siapa tahu banyak sumbang saran dari para otm yang semakin kritis untuk kemajuan kelas kita ya bu. Kami akan semakin bangga memasukkan anak-anak kami ke kelas digital, karena memang terasa berbeda.

Kalau pendapat mamahnya Fahlevi: saya sangat setuju bu, tapi mungkin perlu dirancang dengan baik karena saya khawatir kalau anak-anak jadi tidak nyaman kalau ada ibu-ibunya. Takut mereka malah kurang mengekspresikan diri.

 

Catatan penting saya:

Selama berlangsungnya proses belajar, para bunda tampak asyik ngobrol dan foto-foto Selfie, bahkan mamahnya Naila sering nyeletuk ikut berkomentar, baik pada anak maupun ke guru. Tapi yang hebat adalah anak-anak tidak merasa terganggu sedikitpun.  Nazhifa tampak terkejut karena dia baru pertama kali lihat mamahnya selfie, katanya,” Ih….mamah aku selfie, aku baru lihat lho bu, biasanya ga pernah mau”. Alifia juga ikut berkomentar, katanya,” ternyata mamah-mamah kita punya dunia nya sendiri…lihat, betapa asyiknya selfie”. Seru pokonya…

 

 

Terimakasih bu Yanti untuk yang kesekian kalinya ( mudah-mudahnya ini tidak tampak lebay ya bu 😀 )  sudah bersedia menemani kami berproses menjadi orangtua yang lebih baik. Menurut saya, respon baik dari para bunda tidak terlepas dari peran bu Yanti  saat pembagian raport sementara hasil UTS. Paling tidak mind set-nya sudah sejalan yaitu kepentingan terbaik anak adalah faktor utama dalam proses pembelajaran.

Harapan saya adalah penghargaan otm terhadap anak-anaknya tidak sebatas dari nilai akademik dan angka.  Semoga mandala diri tsb dapat membantu para bunda dalam memahami dan menghargai potensi diri anak-anaknya.

 

Wa’alaikum salam Wr.Wb.

Diterima dari Bu Nia Kurniati, Guru IPA SMPN 11 Bandung, 27 Des 2012 (dengan sedikit penyesuaian)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s