Selfie dengan Sahabat di Puncak Bintang Bandung

Alhamdulillah doa dari Bu Rena dan sahabat-sahabat di facebook terkabul. Sore ini alam berbaik hati menunda hujan. Kami berencana menikmati puncak gunung di Bandung Utara.

Home Sweet Home

Ama masih menikmati hangatnya mentari yang menerobos jendela rumah Inong. “Nti udah sarapan manggis, jeruk, batagor bumbu kacang dan bumbu pempek, Alhamdulillah, “ujarku saat melihat Ama menggeliat bangun dari hamparan tempat tidur di depan TV. Sinar mentari sudah sampai di dagunya. Saatnya jalan-jalan di kota tempat kami bermain dan belajar bersama selama 3 tahun di SMAN 3 Bandung.

“Bener nih jalannya nanjak terus? Ama ganti mobil manual dulu ya, “tanya Ama sambil memacu mobilnya menuju Gunung Batu. Inong membawa bekal jeruk, roti, dan kacang atom dua rasa untuk bekal kami naik gunung. Rencana semula kami bertiga akan jalan-jalan ke Stone Garden, tapi batal demi selfie di Puncak Bintang.

image

Adzan Zhuhur sudah berkumandang saat kami duduk di ruang tamu rumah Ama. “Nti ikut sholat dulu ya Ma, ” aku meminta ijin kepada Ama yang sedang memarkirkan mobil Avanza di teras rumah. “Rumahnya nyeni banget ya. Banyak pintu dan jendela. Setiap sudut benar-benar fungsional, “imbuhku. Tak lupa kuabadikan beberapa sudut rumah tempat tinggal orang tua Ama. “Hawanya dingin ya, ” Inong yang Arsitek pun tertarik. “Adik ibu Ama yang mendesain rumah, “sahut Ama. “Tanahnya kotak, Nti, “kata Inong lagi.

Index of Happiness

Jalan Dago masih sepi, namun beberapa ruas jalan sudah dialihkan. Kami putuskan melewati jalan Cipaganti untuk melihat Teras Cikapundung yang akan diresmikan Walikota Bandung pada malam tahun baru 2016. Keinginan untuk mampir melihat hasil penataan kota yang mengedepankan peningkatan index of happiness ini baru terlaksana keesokan harinya.

 

Alhamdulillah, hanya diperlukan sedikit sentuhan agar warga Kota Bandung bergembira di ruang publik yang inklusif dan ramah anak. Wahana baru di daerah aliran sungai Citarum ini sudah ramai dipenuhi pengunjung. Momen-momen menarik di beberapa sudut Teras Cikapundung pun kami abadikan bersama dengan gembira. Akhirnya kami beranjak pergi meninggalkan Allisa, putriku yang tak kunjung tiba bersama sepupu-sepupunya.

Sopir Spesial

Iringan kendaraan sudah memadati jalan Dago. Kunjungan ke Lawang Wangi dan makan siang di Kantin Salse pun batal melihat kemacetan di Dago Giri. Ama memacu mobil menuju Galeri Sunaryo dituntun Inong. “Sebentar lagi masuk ke belokan tajam dan menanjak, Ma, “kata Inong. Sopir spesial kami ini tumbuh di Kota Kembang juga tapi sudah lama tinggal di luar kota.

“Lho WatuBatunya tutup. Galeri Sunaryanya juga. Kita terus ke atas aja. Ada rumah saudara Inong di sana, “ujar Inong. Terlihat beberapa cafe dan resto melengkapi bangunan megah di kanan kiri jalan. “Masih banyak juga yang membangun disini ya, Nong, “kataku melihat beberapa bangunan baru yang sedang dibangun di kiri jalan. “Iya, padahal sudah sulit mendapatkan ijinnya, “jawab Inong. Kawasan Bandung Utara sumber mata air kehidupan warga Kota Bandung sudah lama menjadi kawasan elit dengan jalan beraspal dan bangunan megah di berbagai resort barunya.

Nyanyian Ama mengikuti irama lagu Yovie, Kahitna, KLA, dan lagu-lagu favorit yang dinyalakannya mengiringi perjalanan kami menuju Taman Hutan Raya. Inong menuntun Ama yang setia menjadi sopir spesial kami. Aku sibuk mengunggah beberapa foto cantik di Teras Cikapundung ke grup keluarga, instagram, dan facebook. Banyak yang suka lho!

Puncak Bintang Penuh Kenangan

Aku mengajak Ama dan Inong mampir di Kanayakan. Waktu sudah masuk shalat Ashar saat kami turun dari Ranca Kendal. Perutku sudah penuh dengan Yamin manis dan jeruk nipis panas dari Warung Lela. Sayang sekali Icha belum pulang ke rumah. Fitry dan bapaknya juga masih enggan beranjak ke luar rumah. Aku pun kembali pamit pergi menikmati liburan bertiga saja di rumah Inong.

Huda belum terlihat saat mobil yang disopiri Ama lewat di depan rumahnya. “Berapa kilo sampai ke Puncak Bintang?”tanya Ama. “Sekitar 4 kilo-an, “jawab Inong. Jalan menanjak menuju Caringin Tilu cukup sempit. Mobil sempat berdecit kencang saat berpapasan dengan iringan kendaraan yang turun dari Puncak Bintang. Sore itu cuaca masih cerah. Huda jadi navigator. Terlihat bintang besar di belakang tulisan Perhutani saat kami bertanya kepada anak-anak di pinggir jalan.

Jarak tempuh dari Saung Angklung Udjo lebih dari 10 km. Ama memarkirkan mobilnya di deretan kanan bawah. Kami jalan kaki ke Puncak Bintang. Sesekali sejenak selfie mengabadikan keindahan alam yang terhampar di atas Kota Bandung.

 

Oh ya semuanya bisa gratis lho! kalau kamu mau jalan kaki dan bekal makanan dari rumah terus ngga masuk ke wahana berbayar di Puncak Bintang, mau?
Kirim email ke gembirabersamakerlip@gmail.com ya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s