Ujicoba Modul ToT Sekolah Ramah Anak

Alhamdulillah, Zamzam sudah berdiri memfasilitasi ujicoba modul yang disusunnya bersama Mbak Dewi dan Bu Elvy asdep PHPA Deputi TKA KPPPA. Presentasi yang disampaikan dari hasil.diskusi kelompok yang menemukan dan mengenali praktik-praktik yang melanggar prinsip-prinsip Srkolah Ramah Anak menggembirakan.  Rupanya modul KHA berhasil mengubah paradigma peserta tentang pemenuhan hak dan perlindungan anak.

Notulen ToT SRA Hari Pertama

Terimakasih untuk Veny yang sudah menyiapkan notulen hari pertama. Saya berhalangan hadir karena kampanye Stop Trafficking dan Kekerasan Perempuan dan Anak di Kabupaten Cianjur yang diikuti 1.400 peserta usia 13-21 tahun.

Pukul 10.30 diadakan pre-test oleh Kang Zamzam tentang evaluasi penilaian diri, sejauh mana pengetahuan peserta workshop tentang Konvensi Hak Anak (KHA) dan Sekolah Ramah Anak (SRA).

Pukul 11.15 pembagian kelompok sesuai klaster SRA, karena peserta yang hadir sedikit maka kelompok hanya dibagi tiga. Kelompok diminta untuk mensarikan inti dari KHA kemudian dituliskan di kerta plano maupun power point untuk dipresentasikan sehingga dan akhirnya menghasilkan mind mapping.

Kelompok 1 membahas 1 berikut pasal-pasal terkait dan Langkah-langkah umum implementasi KHA, membahas prinsip-prinsip Umum KHA, dan membahas klaster langkah-langkah perlindungan khusus .

Kelompok 2 membahas klaster hak sipil dan kebebasan dan membahas klaster Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif.


Kelompok 3 membahas Klaster kesehatan dasar dan kesejahteraan dan membahas klaster pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya.

Setelah makan siang sekitar pukul 13.30 WIB, masing-masing kelompok memaparkan hasil diskusi.
Kelompok 1 memaparkan klaster 1 dan 2, posisi KHA mengikat negara yang meratifikasi namun tidak mengikat rakyat. Negara perlu melakukan langkah-langkah umum yaitu langkah legislatif, administratif, dan implementasinya. Dengan melakukan upaya legislatif, membuat undang-undang, dan meratifikasi misalnya tentang anak penyandang cacat tentang hak-hak disabilitas UU No. 19 Tahun 2011. Langkah-langkah implementasi ini termasuk kewajiban negara termasuk memberikan laporan yang disampaikan kepada sidang umum PBB setiap 5 tahun, setiap tahun diupdate, point ketiga membentuk gerakan sekolah ramah anak, point keempat sosialisasi tentang KHA. Negara berkewajiban melakukan upaya implementatif termasuk mengarusutamakan ke dalam UU. Negara harus melibatkan berbagai pihak dalam pengimplementasiannya termasuk anak, misalnya ada umur yang memperbolehkan anak-anak bekerja di UU Tenaga Kerja dan perekrutan anak-anak dalam kegiatan bersenjata diatur dalam KHA. Secara umum, prinsip SRA mengacu pada KHA namun ditambahkan mengenai tata kelola tentang transparansi dan akuntabilitas. Berkaitan dengan kepentingan terbaik anak, ketika kita memutuskan sesuatu baik pemerintah maupun pengambil kebijakan lainnya maka yang menjadi acuan adalah kepentingan terbaik anak yang diatur dalam UU, misalnya berkaitan dengan hak sipil dan kebebasannya seperti akte kelahiran, hak pengasuhan. Anak menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan termasuk dalam kehidupan keluarga, sekolah, dan kehidupan lainnya, di sekolah ketika membuat tata tertib sekolah perlu dilihat lagi apakah peraturan tersebut mengacu pada kepentingan terbaik anak atau tidak.  UU 35 tahun 2014 menyebutkan adanya eksploitasi secara seksual, anak memerlukan perlindungan khusus termasuk perlindungan stigmatisasi seperti anak yang orang tuanya teroris dikucilkan dan anak yang lahir di luar nikah disebut haram. Secara spesifik di Indonesia dengan maraknya kejahatan, ada Gerakan Nasional Anti Kejahatan Seksual terhadap Anak (GN-AKSA). 
  
Kelompok 2 memaparkan hasil diskusinya. Di dalam KHA memang tidak disebutkan kewajiban anak, ketika ada pasal yang menyebutkan kewajiban anak banyak pihak yang protes termasuk orang tua bahwa semua yang kita lakukan akan menjadikan anak semakin luar biasa. Ketika SRA diimplementasikan di sekolah banyak yang protes. Dalam UU Perlindungan anak pasal 19, anak memiliki kewajiban yaitu menghormati orang tuanya, gurunya, menyayangi teman-temannya, dan juga hormat pada nasionalisme. Hal tersebut merupakan masukan dari tokoh agama dan budaya di Indonesia untuk menghindari hilangnya karakter ‘ketimuran’.

Kelompok 3 memaparkan hasil diskusi. Belum ada kab/kota yang layak bagi anak, KPPPA mendorong kab/kota untuk layak bagi anak. Ada 31 indikator dan untuk mencapai indikator-indikator tersebut tidak mudah sehingga ada penghargaan berdasarkan kategori-kategori bagi kab/kota yang bisa mengimplemntasikannya yaitu kategori pratama, nindya, madya, utama, dan KLA (Kota Layak Anak). SRA adalah salah satu indikator untuk mencapai KLA.

Masih adakah hal-hal yang diskrimintaif di sekolah? Seperti misalnya penerimaan siswa baru. Di beberapa daerah ada juknis yang mencantumkan bahwa 20% siswa berasal dari anak miskin seperti di Bandung. Hal ini membantu anak-anak yang mengalami hambatan ekonomi dan merupakan kewajiban pemerintah untuk menunaikan pendidikan dasar gratis berkualitas seperti dana bos, BOP, dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang termasuk implemetasi KHA.

Hasil diskusi kelompok mengenai prinsip SRA dilanjutkan pada hari berikutnya yaitu Jumat, 11/12/2015

image

Kreativitas Guru menentukan

Keenam indikator SRA yang tertera dalam Permeneg PPPA No 8 Tahun 2014 sudah mengalami penajaman agar lebih mudah diimplementasikan. Saya mengajak peserta untuk melihat sekilas praktik-praktik baik Mewujudkan SRA yang dilaksanakan sahabat-sahabat KerLiP di Jawa Barat dan Kabupaten Kari Sumatera Utara. Beberapa istilan yang diperkenalkan menggugah keterlibatan guru-guru yang hadir. Mereka merasa bahwa tersedia ruNg pengembangan kreativitas bagi guru dalam  mengelola proses.pembelajaran  agara lebih ramah anak.

Kehadiran Pak Ismangil dan Pak Udin dari Asdep Partisipasi memperkuat hal tersebut. Mas Ivan yang mewakili Kemko PMK menyampaikan pentingnya menyelaraskan gagasan dan harapan mengenai ketanahan keluara.

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s