Bukan Sanksi Tapi Konsekuensi

Bisa jadi isi konsekuensinya mirip dengan sanksi tapi bukan efek jera yang diharapkan. Melalui penegakan konsekuensi dari kesepakatan yang diramu ke dalam tata tertib sekolah, anak-anak membangun kesadaran. Bukankah pendidikan itu adalah usaha sadar dan terencana? Bagaimana mungkin proses pembelajaran dapat berkelanjutan jika anak- anak jera mencoba karena takut salah dan takut dihukum.

image

Sekali lagi pendisiplinan bukan penghukuman. Hanya lembaga hukum yang berwenang menetapkan sanksi atas pelanggaran hukum yang dibuktikan melalui pengadilan.

Disiplin Positif

Pendisiplinan dalam kerangka aksi Sekolah Bersinar ditujukan untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan mengendalikan diri dan membangun konsep diri. Peserta didik jadi lebih peduli diri, peduli sesama, dan peduli semesta. Peduli dalam arti mampu hidup rukun dan damai. Pendidik menjadi motivator yang membimbing anak-anak memahami konsekuensi dalam setiap tata cara berkegiatan sehari-hari.

Pemenuhan hak hidup bermartabat dilaksanakan dengan melibatkan anak untuk mengembangkan kesadaran sebagai manusia yang bertanggung jawab terhadap setiap pilihan. Dalam konteks Pendidikan Anak Merdeka, hak hidup bermartabat seseorang dibatasi oleh hak yang lainnya. Pengembangan perilaku dan kedisiplinan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari dalam lingkungan belajar yang inklusif dan ramah anak menjadi dasar dalam penanaman karakter sejak usia anak.

Ragam 20 menit yang memukau contohnya, efektif untuk membangun kelekatan hubungan dengan ayah dengan memaksimalkan partisipasi anak. Anak didengarkan dan ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh ayah dalam waktu khusus yang disediakan rutin. Rutinitas yang sangat berharga dalam pengembangan karakter anak.

Prinsip-prinsip yang dianut sejalan dengan Gerakan Sekolah Ramah Anak, : (1) non diskriminasi, kekerasan dan perlakukan salah lainnya terhadap anak, (2) kepentingan terbaik bagi anak, (3) kelangsungan hidup dan tumbuh kembang, (4) partisipasi anak, didengarkan dan ditanggapi dnegan sungguh-sungguh, (5)pengelolaan yang baik.

Disiplin positif dilaksanakan melalui 4 tahap untuk mengapresiasi perilaku yang baik tang ditunjukkan anak, antara lain:

1. Memberikan gambaran yang jelas tentang perilaku baik yang disepakati dengan anak seperti: “Semua HP disimpan di meja guru.”

2. Mengemukakan alasan yang jelas mengapa perilaku baik tersebut diperlukan: “Unjuk tutur hasil Cara asyik Cari Tahu masing-masing kelompok akan segera dimulai, kita semua perlu menyimak dengan baik. ”

3. Konfirmasi ulang untuk memperkuat: “Apakah kalian paham mengapa HP harus disimpan di meja guru sebelum unjuk tutur dimulai?” atau “Apakah kalian dapat menggunakan HP tanpa kehilangan kesempatan belajar menyimak unjuk tutur hasil Cara Asyik Cari Tahu?”

4. Memaksimalkan momentum untuk membiasakan perilaku baik dengan dorongan positif. Metode T R U S T yang dilakukan Ibu Nia adalah salah satu metode yang jitu untuk memaksimalkan momentum ini. Ucapan terima kasih yang tulus setiap melihat perilaku baik anak juga akan memberikan dorongan yang luar biasa.

Jadi, tak perlu repot-repot cari sanksi untuk menghukum anak lagi ya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s