Hari Disabilitas bersama Anak-Anak Istimewa

Peringatan Hari Disabilitas 2015 sangat istimewa. Pertemuan dengan Forpadi dalam Festival Pengembangan Kreativitas Difable di Wyata Guna meneguhkan tekad kami untuk memperjuangkan penyandang difable. Akhir pekan ini Fina memberi kejutan-kejutan yang memukau dengan keberhasilannya memfasilitasi  anak-anak cerdas istimewa berbakat istimewa asuhan bu Nia. Agenda Safari GeMBIRA Fina  dengan dukungan bu Nia di kelas digital SMPN 11 Bandung ini sangat inspiratif.

image

Cari Tahu Cara Lindungi Kepala

Kalau ada gempa lindungi kepala
Kalau ada gempa jauhilah kaca
Kalau ada gempa bersiaplah antri
Berbaris ke luar kumpul di lapangan

Bu Nia meminta anak-anak untuk mencermati tahapan evakuasi yang disusun Fina dan tim. Penataan kelas digital dengan bangku yang berbeda serta loker besi yang tersedia di belakang lengkap dengan AC di sudut kanan dinding belakang serta AC di sudut kiri dinding depan menjadi kondisi khusus yang perlu dipertimbangkan dalam tahapan evakuasi a la Fina.

Waktu 10 menit ternyata sangat berharga. Kelompok 1 memeragakan cara lindungi kepala dengan sembunyi di balik meja dan menarik kursi untuk melindungi tubuh sambil mendekap tas.

image

Aksi ini terasa nyaman bagi anak yang bertubuh kecil. Saat dicoba anak berperawakan tinggi besar ternyata ruang yang tersedia membuatnya tidak nyaman.

Kelompok 2 berlari menepi ke dinding dengan membawa tas di atas kepala. Ada 2 sudut dinding yang cukup aman untuk berlindung, tetapi tidak cukup untuk menampung 36 anak. Papan tulis dan AC yang menempel di dinding depan diduga akan jatuh menimpa kepala. Saya juga menyampaikan kemungkinan dinding rubuh akibat konstruksinya belum tahan gempa.

image

Kelompok ketiga menemukan cara lain. Kursi diangkat 90 derajat untuk melindungi kepala. Cara ini memudahkan anak-anak yang tinggi besar dan kuat untuk segera melindungi kepala setelah bunyi sirine pertama. Kursi terlalu berat untuk anak yang lebih kecil.

image

Mengenali Prosedur Evakuasi untuk Anak-Anak Difable

Fina meminta teman-temannya menemukan karakter dan cara evakuasi bagi anak-anak tuna rungu, tuna netra, dan lamban belajar. Cara khas Fina memfasilitasi teman sebaya dan tekadnya untuk membantu anak-anak yang memiliki keistimewaan lebih menginspirasi teman-teman sebayanya. Kelompok tuna rungu mengenali lightstick yang biasa digunakan dalam konser-konser malam untuk menuntun anak-anak tuna rungu menyelamatkan diri. Alternatif lain dengan lampu emergency yang menyala saat terjadi gempa. Lampu merah untuk melindungi kepala, lampu kuning untuk bersiap dengam hati-hati, dan lampu hijau setelah cukup aman untuk berbaris antri ke titik kumpul aman.

image

Kelompok tuna netra menyarankan penggunaan bunyi sirine yang berbeda-beda untuk menuntun anak-anak tuna netra menyelamatkan diri melalui jalur khusus. Jalur khusus tersebut dibuat lebih kasar dibanding lantai sekelilingnya.

Kelompok lamban belajar mengingatkan saya dan Fitry kepada anak-anak muda yang melaksanakan Disaster Risk Reduction Homestay Program dari BDG Pl ITB eberapa tahun yang lalu. Mereka menyarankan penggunaan gambar, tokoh kartun, benda-benda yang disukai anak-anak untuk menuntun mereka mengikuti prosedur evakuasi dengam cara yang mudah diingat.

Anak-anak bertekad untuk mempelajari ragam mebutuhan yang berbeda anak-anak yang memiliki kelebihan istimewa dalam Safari GeMBIRA yang direncanakan tanggal 13 Desember 2015. Mereka juga sepakat melaksanakan YES4SaferSchool tanggal 8, 9, 10 desember 2015.

image

Alhamdulillah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s