Mekanisme Penanganan Anak-Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus di SMA

Alhamdulillah perubahan cara pandang tentang Sekolah Ramah Anak dari guru-guru BK dan Wakasek Kesiswaan yang hadir dalam Raker Kesiswaan Direktorat Pembinaan SMA makin menggembirakan. GeMBIRA bersama KerLiP wujudkan Indonesia Bersinar yang saya paparkan sebelumnya tak lagi sekedar akronim. Kata Bersinar: Bersih Sehat Inklusif Aman dan Ramah Anak memang tidak terpilih menjadi judul panduan oleh kelompok 4B yang difasilitasi Zamzam. Namun demikian, saya senang dan bangga dengan keberanian anggota 4B memilih judul Sekolah Ramah Anak. Paparan bu Elvy Asdep Pemenuhan Hak dan Pendidikan Anak KPPPA mengenai perubahan kondisi sekolah sejalan dengan harapan dan praktik baik di sekolah sehat, adiwiyata, dst.

Kampanye dan advokasi pemenuhan hak pendidikan anak melalui Sekolah Ramah Anak sudah mulai menapak. Insya Allah seluruhnya demi kepentingan terbaik anak untuk tumbuh kembang sesuai minat, bakat, dan kemampuannya.

image

Konsekuensi bukan Sanksi

“Pendisiplinan bukan penghukuman tapi pemulihan, “kata Santoso membuka presentasinya kemarin pagi. Selama ini tidak sedikit guru dan tenaga kependidikan kita menganggap bahwa anak perlu diberi sanksi untuk setiap pelanggaran. Penyalahgunaan narkoba, hamil di luar nikah, melecehkan guru di media sosial, terlambat masuk kelas, dan pelanggaran lainnya yang menyebabkan anak mendapat poin 100 atau lebih pasti diakhiri dengan dikeluarkannya anak dari sekolah. Bahkan tidak sedikit guru yang menganggap bahwa anak pasti ngelunjak jika Sekolah Ramah Anak diterapkan. Gembira sekali mendengarwakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan dari NTT memgatakan bahwa sekolah bukan lembaga hukum jadi tidak dapat memberikan sanksi tapi konsekuensi. Ia menegaskan kembali hal tersebut ksaat kami mereview praktik baik penanganan anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba di kelompok 1B. Hal ini sejalan dengan penjelasan Santoso wakil ketua KPAI saat menjawab pertanyaan perwakilan dari Gorontalo pada sesi diskusi panel pertama. Beberapa guru BK dan Wakasek Kesiswaan mulai meyakini jika tiap butir tata tertib sekolah dirumuskan bersama peserta didik, maka peserta didik akan memiliki kesadaran untuk menegakkan dengan segala konsekuensinya. Hal ini mengemuka dalam diskusi kelompok 1B dan 4B yang saya amati.

image

Saya memutuskan kembali ke kelompok 1B setelah memastikan pemenuhan hak dan perlindungan anak benar-benar menjadi pertimbangan utama di kelompok 4B. “Partisipasi anak dalam penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah sangat diperlukan. Tidak bisa hanya sekadar memberikan usulan terkait kegiatan OSIS saja, “ujar salah satu anggota kelompok 4B. Saya menegaskan kembali bahwa konsekuensi logis memilih nama Sekolah Ramah Anak adalah adanya kepastian dan keterjaminan pemenuhan 31 hak dan perlindungan anak di sekolah.

Penanganan Penyalahgunaan NAPZA

Dua jam pertama dalam diskusi kelompok 1B diisi dengan mengumpulkan contoh kasus, pencegahan dan mekanisme penanganan penyimpangan perilaku di sekolah tempat anggota kelompok bekerja. Kelompok 1B bertugas menyusun mekanisme penanganan terhadap siswa. Dokumen UU yang disiapkan panitia masih teronggok rapi di depan meja masing-masing. “Bu, tolong kembali ke kelompok 1B ya, kami perlu mendapatkan arahan untuk mereview praktik-praktik di sekolah, “kata seorang Bapak yang duduk di meja sebelah kami saat makan siang tadi. “Kami tidak tahu cara menyusun SOP dalam mekanisme penanganan terhadap siswa dengan dokumen ini, “ibu Robiyatun notulen kelompok 1B sambil menunjuk 1 bundle UU di hadapannya. Teman-teman sekelompoknya masih belum banyak yang hadir. “Coba kita lihat penanganan peserta didik korban NAPZA. Ternyata keputusannya dikeluarkan. Jika ini diterapkan, apakah ada pelanggaran hak anak menurut UU Perlindungan Anak?” pertanyaan ini sengaja saya ajukan sambil membuka flipchart yang tersedia. Diskusi kelompok 1B pun mengalir dinamis mengarah pada penegakan prinsip-prinsip hak anak.

Kedua fasilitator kelompok 1B benar-benar powerfull. Kata-kata “anak dikeluarkan” diganti dengan komitmen untuk tetap memastikan keberlanjutan anak menikmati hak atas pendidikan dan tumbuh kembang setelah mendapatkan pemulihan akibat penyalahgunaan narkoba. Meskipun keputusannya anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba tetap dikembalikan kepada orang tua namun guru dan tenaga kependidikan di sekolah sepakat untuk memastikan hak-hak anak atas pendidikan, kelangsungan hidup dan tumbuh kembang,serta partisipasi anak dalam penerapan konsekuensi dalam tata tertib sekolah.

Norma Bernegara

Zamzam dan Sufit berkali-kali menyampaikan dinamika asistensi yang dilakukan selama mereka mempersiapkan pengintegrasian Sekolah Ramah Anak ke dalam Raker Kesiswaan yang sudah disiapkan Direktorat PSMA. Dalam obrolan makan siang tadi, saya mengingatkan Zamzam tentang mimpi Arlian dan Devita tentang Global Student Union Movement serta kegembiraan saat kami mendampingi korban UN 2008 yang membentuk Gerakan Siswa Bersatu.

Susi Fitry: “Gejala umum penolakan bahkan anti HAM membuatku merasa aneh. Padahal hampir semua kebijakan pendidikan sebenarnya mengedepankan HAM. Ini tantangan besar. Literasi bangsa kita terhadap norma-norma bernegara dalam UU yang ada benar-benar parah ya.”

Saya: “Saya merasa mendapatkan alasan yang tepat saat Hilmar Farid menyampaikan pentingnya mengedepankan budaya inklusif. Budaya unggul yang diterapkan di sekolah menuntut kompetisi yang ketat dan tidaj menyisakan ruang untuk membangun kesadaran berwarga negara yang menjunjung keadilan sosiak bagi seluruh warga negara. Saya pikir penajaman visi Kemdikbud untuk mewujudkan ekosistem pendidikan berdasarkan gotong royong layak untuk kita usung bersama. “

Kutipan obrolan makan siang yang produktif bersama Litbang KerLiP menambah kegembiraan saya menyaksikan indahnya tumbuh bersama Zamzam menyiasati segala keterbatasan sumber daya KerLiP. Jelang 17 tahun gerakan KerLiP jadikan Indonesia lebih Bersinar siap untuk kaderisasi.

Insya Allah

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s