Kelas Khusus di SMPN 11 Bandung

Obrolan Pendidikan Ramah Anak dengan Bu Nia selalu mengasyikkan. Ada saja topik-topik menarik tentang interaksi guru-murid yang bu Nia ceritakan. Perjalanan 5 jam dari Bandung ke Parung jadi terasa lebih bermakna. “Menerima amanah di kelas digital membuat saya seperti mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Tiga bulan pertama kepayahan karena mabuk hamil muda. Bulan keempat saya mulai dapat menerima keadaan. Saya yang menginginkan punya anak. Saat ini Allah menganugerahkan 34 anak kembar yang tumbuh dalam rahim saya. Mohon dukungan ibu-ibu dan bapak-bapak agar anak-anak menemukan dan mengenali minat, bakat, dan kemampuannya. Kalimat pembuka ini saya sampaikan pada pertemuan orang tua dan guru kelas layanan khusus yang saya kelola, Bu, “ujar bu Nia.

image

Dalam pertemuan sebelumnya bu Nia menyampaikan kegelisahannya mendapat amanah sebagai wali kelas digital. Ia merasa melakukan diskriminasi karena melayani anak-anak cerdas istimewa berbakat istimewa secara khusus. Penyediaan ratusan piala untuk setiap pemenang lomba mata pelajaran dan aktivitas anak yang dilaksanakan atas arahan kepala sekolah, membuat bu Nia merasa lebih lega.

Dukungan Orang Tua

Partisipasi orangtua murid di kelas khusus ini sungguh luar biasa. Keterbatasan waktu Bu Nia karena harus mengurus ibunda yang sedang sakit. Kepala Sekolah mengijinkan mengajar setiap hari Selasa dan Kamis. Komitmennya yang untuk menggiatkan Gerakan Aman SHIAGA di SMPN 11 mendapat dukungan dari keluarga di kelas digital.

image

Mamah Tasya ketua POMG kelas bersama ibu-ibu lainnya sepakat untik menyiapkan anak-anak mereka secara serius untuk berlomba. Anak-anak pun menjuarai 17 mata pelajaran, vocal group, dan kegiatan lainnya. Prestasi tinggi yang diraih anak-anak kelas 7-11 ini hasil kemitraan khas wali kelas dengan orang tua/wali. Kesempatan yang terbuka lebar bagi setiap anak untuk menjadi juara menjadi awal yang menarik dari kepemimpinan Pak Raya, Kepala SMPN 11 Bandung.

Saya sempat diundang hadir dalam.pertemuan dengan orang tua siswa yang luar biasa ini. Ada mamah Nafiza yang mengisahkan pengalaman hidupnya saat konflik SARA di Ambon. Mamah Tasya yang energik dan mengingatkan saya tentang orangtua/wali dan masyarakat yang tergabung di GMPP. Saya mengajak keluarga-keluarga peduli pendidikan anak ini untuk memfasilitasi para ayah agar menyempatkan 20 menit bercengkerama dengan anak-anak mereka. Kepiawaian para ayah mendongeng menjadi modal penguatan karakter keluarga dengan membacakan buku berseri sejarah pembentukan bangsa. ELSI pun saya perkenalkan sebagai sumber belajar pilihan keluarga dalam pertemuan tersebut.

Gerakan KerLiP 2016

Bu Nia dan saya bersepakat untuk mengajak bu Dwi, Zamzam, dan Bu Sari menyiapkan Gerakan KerLiP 2016. Saya menyampaikan kabar baik tentang rencana kontribusi Mbak Tina untuk menyediakan ELSI bagi penerima anugerak KILAU Nusantara serta peluang dari Susan tentang penjualan 100 paket ELSI juga beberapa inisiatif kreatif yang dilaksanakan Zakky dengan dukungan Pak Asep dan Iwang.

Kami akan segera menyiapkan program Gerakan KerLiP Inklusif, Aman, dan Ramah Anak 2016. Koperasi Syariah Sahabat KerLiP akan dibuka pada ultah KerLiP ke-16. Kriteria penerima anugerah KerLiP 2016.juga akan disiapkan dengan melibatkan anak, kawula muda, guru, dan keluarga-keluarga peduli pendidikan. Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s