KILAUNusantara dari Ranah Papua

Seru juga menyaksikan para fasilitator dari Forum Indonesia Muda dipimpin Fahmi menyambut anak-anak peserta didik ADEM Papua yang datang berlarian masuk ke ruangan. Saya dan bu Nia tidak melewatkan kesempatan mengabadikan momen indah ini. Kami ikut larut dalam kegembiraan 50 anak terpilih yang mengikuti Kawah Kepemimpinan Pelajar di P4TK Penjas dan BK.

image

Perjalanan panjang mencari lokasi kegiatan yang cukup melelahkan mendadak sirna.

#YES4SaferSchool

Pentingnya perlindungan anak bagi peserta KKP masih sebatas wacana. Bahkan definisi anak menurut UU pun belum bisa dijawab dengan benar. Saya berusaha untuk tidak memberi pengetahuan tapi mengajak anak-anak hebat ini mencarinya dari sumber-sumber rujukan.

“Ayo berdiri, kita tepuk hak anak bersama-sama. Ikuti ibu ya!” Saya berseru sambil menyimpan mikrofon.

Tepuk hak anak
Hak hidup
Tumbuh kembang
Perlindungan
Partisipasi
Yes!

Uci berhasil mendapatkan bola basket dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak setelah memimoin tepuk hak anak di depan. “Ibu sebenarnya diminta sosialisasikan sekolah aman di sini. Kita nyanyikan evakuasi gempa bersama-sama ya. Ada yang tahu lagu Pelangi-Pelangi?” Anak-anak langsung menyanyikannya bersama-sama. “Lirik lagunya diganti ya, “ujar saya sambil menyanyikan syair lagu evakuasi gempa dengan nada lagu tersebut.

Kalau ada gempa, lindungi kepala
Kalau ada gempa, jauhilah kaca
Kalau ada gempa, bersiaplah antri
Berbaris ke luar kumpul di lapangan.

Book of Me a la bu Nia

image

Saya mempersilakan bu Nia memperkenalkan diri dan mengajak anak-anak menyusun kolase tentang sejarah diri dan aksi cinta tanah kelahiran mereka yang sangat indah. Luar biasa! Ada anak yang menyelesaikan book of me dalam waktu 15 menit. Sungguh menakjubkan. Kami berdua tak henti-hentinya terpukau dengan profil.diri setiap anak dan mimpinya untuk membangun Papua.

Banyak di antara mereka yang ingin menjadi dokter. Salah seorang anak bahkan menunjukkan kesungguhannya untuk menjadi dokter ahli HIV/AIDS karena setiap hari selalu ada anak di kampungnya yang meninggal karena penyakit tersebut. Ada yang ingin jadi perwira marinir, tentara AD, pilot, polri, polwan, mendikbud, menteri agama, pengusaha, seniman, budayawan, membiayai orang tua naik haji, apoteker,  bahkan Presiden. Tak ada satu pun yang berhenti bermimpi hanya untuk diri sendiri saja.
“Ternyata guru bukan profesi yang diminati ya Bu, “ujar bu Nia sambil menghela nafas. Kamera, HP, BB kami kerahkan bergantian sampai memori habis dan batere mati. Tak ada seorang pun yang tidak presentasi. Anak-anak terlihat begitu semangat. Tak sedikit yang tak kuasa menitikkan air mata.

Haru, gembira, bahagia campur aduk membuat mata anak-anak berbinar pancarkan KILAUNusantara.

image

Advertisements

2 thoughts on “KILAUNusantara dari Ranah Papua

  1. Attractive section of content. I simply stumbled upon your weblog and in accession capital to assert that I get in fact loved account
    your blog posts. Any way I’ll be subscribing for
    your feeds and even I fulfillment you get right of entry to persistently quickly.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s