Sosialisasi TamPAN menuju Indonesia Pintar

“Ada 153 ribu anak putus sekolah di Riau. Pemerintah Daerah menyambut gembira bangkitnya relawan mahasiswa untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa. Taman Pendidikan Anak Negeri merupakan model pemenuhan hak pendidikan anak yang digagas pegiat Gerakan Indonesia Pintar, “kata Pak Kamsol membuka sambutannya dalam acara sosialisasi relawan berkarakter menuju Indonesia Pintar.

image

Kami berdiri di hadapan 250 relawan mahasiswa yang didominasi perempuan menyambut bangkitnya para pelopor pendidikan di Riau.

Orang Laut

“Anak-anak Suku Orang Laut tidak mau sekolah. Mereka memilih bekerja mencari uang, “kata Haryono, Presiden Orang Laut yang kini bekerja menjadi dosen Pancasila di Universitas Riau.
Ia menunjukkan foto-foto Orang Laut di atas perahu dan rumah apung mereka saat kami menunggu para penyaji dalam Public Hearing hadir. Saya berinisiatif mendampingi Kak Haryono membuka blog oranglautindonesia.wordpress.com di HPnya. Sudah ada 2 tulisan menarik yang dipublikasikan Presiden Orang Laut ini selama kegiatan public hearing budaya Melayu dilaksanakan di Roau Pos tadi pagi.

Aripin pendiri Semesta Hati bergerak cepat. Ia menyampaikan bahwa ada lebih dari 2 ribu anak Orang Laut tidak bersekolah. Laut adalah kehidupan mereka. Relawan berkarakter menurut Aripin harus siap melakukan hal-hal yang tidak disentuh orangtua, guru, dan sekolah. Relawan pendidik Orang Laut akan lebih asyik jika ikut masuk le dalam keseharian peserta didik mereka. “Jika perlu membawa whiteboard dan spidol dari 1 perahu ke perahu lain. Ketika bertemu peserta didik bernama Andi misalnya, relawan pendidik ini bisa menuliskan kata Andi dan mengajak anak-anak Orang Laut kembali menikmati indahnya belajar dengan GeMBIRA, ” kata Pak Aripin sebelum menceritakan pengalaman belajar membuka kelas layanan khusus bersama para pelopor pendidikan di Semesta Hati.

image

Taman Pendidikan Anak Negeri

“Taman ini mestinya seperti PKBM ya. Salah satu model pendidikan masyarakat. Pak Erman pernah tinggal di Riau, insya Allah cukup mudah untuk kerjasama ke depan ya, “ujar Pak Kadir saat kami bertemu di luar ruang public hearing. “Mengapa hanya berbicara sekolah? Setahu saya pendidikan luar sekolah di Riau belum mendapatkan perhatian, padahal banyak anak yang merasa tidak cocok bersekolah, “pertanyaan salah satu peserta ini dijawab oleh Pak Kamsol dengan lugas. “Ada 3 jalur pendidikan yang kami layani, formal, nonformal, dan informal. Relawan Gerakan Indonesia Pintar yang menggiatkan Tampan diharapkan dapat menyajikan data yang valid sehingga model-model pendidikan non formal lainnya dapat terangkat dan lebih terpercaya, “kata Pak Kamsol.

image

Dalam sosialisasi Tampan ini, saya menyajikan bahan-bahan dari bu Nia diramu dengan praktik baik KerLiP saat memulai Komunitas Belajar Mandiri di beberapa kota/kabupaten. Tepuk Hak anak sudah menjadi penghubung saya dengan audiens dalam setiap kesempatan berseminar. Pak Aripin memulai paparannya dengan retorika mempertanyakan kesiapan relawan mengambil peran yang gagal dilaksanakan terhadap 153 ribu anak putus sekolah di Riau. Tentu saja dilengkapi ulasan tentang beberapa praktik layanan khusus di Pameungpeuk, Cileueur, dan tempat lainnya yang sudah dilaksanakan Pak Aripin.

Pak Sugiono dari Polda Riau mengajak peserta menonton film Tekad Sang Brigadir yang bekerja mendidik penduduk buta aksara di suku anak dalam. Sosialisasi Tampan sebagai model Gerakan Indonesia Pintar yang diikuti 250 mahasiswa ini jadi lebih asyik dengan yel-yel pelopor pendidikan dipimpin Pak Polisi tersebut.

Saya menutup pertemuan hari ini dengan menyampaikan beberapa bahan pelembagaan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak di Provinsi Riau yang diamanatkan kepada Pak Kadir oleh Kadisdikprov Riau. Draft Pedoman Sekolah Darurat yang dikirim Zamzam dari Bandung saya tunjukkan kepada Pak Kadir dan Pak Kamsol. Kami mencantumkan praktik baik pemenuhan hak pendidikan anak selama tanggap darurat kabut asap beberapa waktu yang lalu di Riau di dalam pedoman tersebut. “Setelah paparan saya sajikan pagi itu, semua Kadisdik yang hadir di Kemdikbud jadi bersepakat menggunakan istilah Pemenuhan Hak Pendidikan Anak, “Pak Kamsol merespon informasi tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s