Rapat Koordinasi Gugus Tugas TKP Jabar

“Kalau kata Pak Dudi mah TKP, Trafficking, Kekerasan, Pornografi, “kata Bu Nenny menamai gugus tugas yang akan berkoordinasi hari ini. “Tambah HIV/Aids dan Bencana jadi TKPHB, ya Bu, “kataku sambil berdiri mengikuti Bu Enny kembali ke ruang sidang. Hari ini BP3AKB Jabar sebagai penyelenggara rapat koordinasi menghadirkan narasumber dari P2TP2A dan Polda Jabar. “Bu Yanti bisa bantu hadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan? Surat undangan sudah dikirim jauh-jauh hari tapi belum ada jawaban, “Pak Dudi meminta saya membantu menghubungi mitra KerLiP di Disdikprov Jabar. Rintisan Sekretariat Bersama Pemenuhan Hak Pendidikan Anak yang digagas bersama Pak Asep Hilman, Kadisdik Provinsi Jabar, membuka jalan koordinasi dengan multipihak di tanah Pasundan.

Diskusi Strategi dan Inovasi Penguatan Gugus Tugas PPI-KTPA Jabar

image

Bu Eny, Kabid PKH PP BP3AKB Jabar yang dulu kukenal sebagai Kabid KPA mengenalkan Kabid PO dari beberapa Kabupaten. Informasi pelatihan penyintas trafficking di Garut dan Tuna Susila di Bogor menjadi bahan obrolan yang bermakna. Bunda Nita dari P2TP2A Garut menyambut antusias rencana sinergi PPO-KTPA yang sedang disiapkan KerLiP selaku salah satu anggota Tim Pokja di bawag Mensos. Kajian dari Mas Eddy SBMI menjadi bahan untuk membuka diskusi menjelang siang ini. Saya memulai jadi moderator diskusi dengan menyampaikan apresiasi terhadap praktik baik Jabar yang akan disajikan dalam Pertemuan Nasional Tim Pokja PPO KTPA dengan Kementerian/Lembaga terkait.

Pak Dr. Dadang Rahman M, Kabid PKLK Disdikprov menyampaikan beberapa informasi penting mengenai afirmasi pendidikan melalui pendidikan khusus dan layanan khusus. Keterampilan kerja peserta didik SMK terus ditingkatkan bekerjasama dengan Dunia Usaha Dunia Industri. Model Sekolah Terbuka online menjadi salah satu model pendidikan alternatif yang dapat dimanfaatkan para penyintas usia anak. Sementara itu, tersedia bernagai kursus yang sudah tersertifikasi.

Bu Yeni dari P2TP2A menyajikan batang tubuh PermenegPPPA No.6/2015. Kemudian dilanjutkan bu Dini dari Polda Jabar.  Paparan keduanya mengarah pada pemahaman yang sama mengenai sistem rujukan di P2TP2A serta tantangan dan praktik baik penegakan dan pendampingan hukum. Beberapa praktik baik yang disampaikan perwakilan dari Garut dan Purwakarta pada sesi sebelumnya saya lengkapi dengan meminta P2TP2A atau Kabid PP dari Kabupaten Tasik, Bogor, Depok, dan Cirebon. Ibu dari Kabupaten Cirebon menyampaikan praktik baik penanganan perdagangan orang dan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Keberadaan P2TP2A sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Namun demikian, untuk penegakan dan pendampingan hukum masih mengalami hambatan. Para penyintas yang sudah dijemput dan ditempatkan di rumah aman P2TP2A selalu dijemput langsung oleh keluarga. Hal ini diamini oleh ibu Dini dan Ibu Yeni. Bahkan kepolisian belum sempat menuntaskan BAP dan yang lebih parah lagi ketika ditelusuri ke alamat yang diberikan, para penyintas tersebut sudah kembali ke tempat pekerjaan terburuk. Usia penyintas juga makin muda dengan modus yang lebih beragam. Penanganan makin sulit karena para penyintas tidak merasa jadi korban.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s