Bu Nia Kurniati: MEMBANGUN KEPERCAYAAN TIM Melalui TRUST”

CACT 2 : MENENTUKAN JALUR EVAKUASI UNTUK SKENARIO SIMULASI

YES for SAFER SCHOOL 2

Seperti biasa, sebelum melaksanakan kegiatan yaitu pada malam harinya, saya harus merancang lesson plan yang akan mendampingi proses belajar anggota GSB Mesra. Sebenarnya, kegiatan YES for Safer School ini merupakan kali kedua buat kami SMPN. 11 Bandung, akan tetapi bagi anak-anak tentu saja ini merupakan hal baru dan pertama kali dilakukannya. Kemudian saya membuka-buka buku, mencari bagian yang cocok kemudian mengadopsi serta mengadaptasi sesuai kebutuhan. Saya harus memastikan, setelah CACT 1 dengan memberi dukungan 101% untuk menemukan momentum, maka CACT 2 saya harus mampu memaksimalkan nilai momentum tersebut. Dan akhirnya saya memutuskan akan menggunakan pendekatan “T R U S T” yaitu :

Time (waktu) 
   Luangkan waktu untuk mendengar dan merespon CACT tiap kelompok.

Respect (rasa hormat)
    Hormati pendapat CACT tiap kelompok, karena tidak ada temuan yang sia-sia.

Unconditinal Positive Regard (Penerimaan yang tulus)
    Tunjukkan sikap penerimaan dan berpikir positif.

Sensitivity (Sensitivitas)
    Peka terhadap perasaan dan kebutuhan.

Touch (Motivasi)

Berikan motivasi melalui jabat tangan, tepukan di punggung atau bahkan pelukan sayang.

Maka sesuai dengan kesepakatan bersama, hari itu selasa 13 Oktober 2015 saya hadir di sekolah sebelum jam 07.00, padahal biasanya jam 08.00 atau 09.00 baru sampai sekolah. Maklum saja, hari selasa saya harus mengajar marathon 8 jam pelajaran dari jam 10.00 sampai jam 17.00 Nah…apa yang terjadi pada hari Selasa?

Pagi itu saya mendampingi bu Yanti untuk menyampaikan sosialisasi Sekolah Aman dihadapan guru-guru serta bertemu dengan bapak Kepala SMPN. 11 Bandung. dalam pertemuan tersebut, bu Yanti menyampaikan apa saja yang dulu pernah dilakukan oeh sekolah dan pencapainya sampai dimana. Bu Yanti menyampaikan, ternyata inspirasi kegiatan telah tersebar ke seluruh Nusantara, termasuk apa yang dilakukan Amilia, Arlian, Ria, dan tentu saja saya. Setelah pertemuan tersebut dan bu Yanti meninggalkan sekolah kami, saya, dan para PKS dipanggil kembali untuk membuat rencana kegiatan simulasi evakuasi bencana pada tanggal 15 Oktober 2015. Saya diminta secara pribadi (inipun menurut pendapat saja saja) untuk mendampingi siswa potensial dan guru yang bisa bersama-sama memajukan sekolah.

Kemudian saya memutuskan akan mendampingi pengurus Osis membuat skenario untuk simulasi evakuasi bencana sampai uji coba pelaksanaannya Tanpa saya sadari ternyata suara saya mulai menghilang dan badan terasa pegel. Saya mencoba bertahan dan menyempatkan diri membeli jamu serta makan buah-buahan serta jus. Sebelum istirahat, saya juga menyempatkan diri menemui Kamil di kelasnya dan meyakinkan kembali bahwa pulang sekolah nanti akan ada pertemuan. Tetapi saya lupa, ternyata Osis juga sudah memiliki kegiatan yang sudah rencanakan sebelumnya yaitu pelaksanaan LDKS. Saat saya kembali mengingatkan tentang komitmen yang dibuat pada hari sebelumnya, ternyata mereka menyampaikan kendalanya. Saya harus menghormati keputusan mereka sebagai bentuk dukungan dan cara saya mengimplementasikan proses pembelajaran yang ramah anak. Akhirnya, pertemuan di hari selasa tidak bisa kami lakukan. saya berusaha mencari cara agar mereka tetap bisa menyiapkan skenarionya tanpa ada intervensi dari guru yang lain.

Rupanya Pak Miftah mengambil keputusan bahwa tahapan simulasi evakuasi akan disampaikan di dalam kelasnya. Beliau juga menyarankan, masing-masing guru dan wali kelas Tujuh melakukan hal yang sama di kelasnya masing-masing. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam memahami scenario evakuasi. Menurut beliau, tahapan simulasi akan disesuaikan berdasarkan lagu “kalau ada gempa” Lalu diputuskan, pengurus OSIS dari kelas delapan yang akan mengikuti latihan simulasinya dan pak Miftah membuatkan videonya agar bisa dievaluasi kekurangannya. Kemudian setelah itu, mereka diminta membuat skenarionya berdasarkan pengalamannya melakukan simulasi evakuasi.

Hari rabu saya mulai gelisah memikirkan GSB Mesra yang harus melaksanakan simulasi, kebetulan hari itu hari libur dan saya memilih tetap berada di rumah agar bisa memulihkan kesehatan. Tetapi sepanjang hari saya khawatir dan memikirkan tentang rencana kegiatan simulasi kamis besoknya. Saya sibuk bertanya-tanya, apakah mereka sudah menyiapkan semuanya atau belum, dan mulai berandai-andai misalnya mereka tidak menyiapkan, kira-kira apa yang akan dilakukan. Akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi salah satu dari mereka via telepon. Awalnya dengan Kamil lalu dengan Dena.

Kemudian saya juga mengirimkan email saya ke bu yanti seperti ini, “

Alhamdulillah bu, kekhawatiran saya sedikit berkurang. jam 11.23 dan jam 11.55 saya menghubungi Kamil dan Dena yang ternyata mereka ada di sekolah sedang mempersiapkan LDKS di minggu ini.” Lumayan, kegiatan mereka cukup padat. Saat saya tanyakan tentang persiapan simulasi evakuasi bencana untuk kamis siang dan pertemuan dengan kepsek serta guru di kamis pagi nya, mereka mengatakan akan presentasi tanpa slide. Lalu saya tanyakan tentang dokumentasi foto yang sudah mereka lakukan, akan di apakan? mereka menjawabnya tidak tahu mau diapakan, belum kepikiran katanya Kemudian saya menyarankan, bagaimana kalau saat presentasi, kalian tayangkan saja fotonya, tidak ada kalimat apa-apa juga tidak apa-apa. saat menayangkan foto, kalian ceritakan, itu sedang apa. Dan syukur Alhamdulillah mereka menyetujuinya. Lalu saya tanyakan juga tentang tanda petunjuk evakuasinya. Ternyata mereka belum siap.  Saya sarankan membuat dulu seadanya. sayapun mengatakan “beli dulu saja atau print berwarna, nanti biayanya ibu ganti”. Jam 15.42 saya dapat sms dari Dena. “bu, kita udah bikin panah petunjuk evakuasinya dan lagi dalam proses. Kalau bahan presentasi sekarang kita usahain juga ada gambarnya”. Dan saya langsung membalas, “sip sip…Dena usahakan ada fotonya yang sedang menempelkan tanda petunjuk evakuasi yaa…masing-masing cukup 1 foto saja dulu, tapi kalau tidak sempat, ambil fotonya besok pagi saja. Semoga tetap semangat ya sayangku ^_^. Jam 16.14 Dena menbalas sms kembali,”Amin YRA Insyaallah besok sudah ditempel. Panahnya teh dilaminating. Jadi rada bagus bu. Oh iya, warna hijau aman diganti jadi warna biru, karena kalau hijau tersamarkan dengan cat sekolah. Biru dianggap kontras dengan tembok sekolah. Terimakasih juga ya ibu sayanggggg…sudah menemani kami belajar, jangan bosan ya buuuuu 😀

Dan, hari kamis pun tiba. Saya kembali berusaha untuk datang lebih pagi kembali. Saya harus menyiapkan perwakilan GSB yang akan menyampaikan presentasi dihadapan guru dan kepala sekolah. Tetapi ternyata rencananya diubah karena situasinya tidak memungkinkan, tetapi di sisi lain hal itu justru menguntungkan anak-anak karena mereka bisa menyiapkan lebih baik lagi. Kemudian saya memutuskan untuk mengumpulkan mereka setelah istirahat dan memintanya kumpul di Lab.IPA. Setelah Fina menyampaikan scenario simulasinya dan dilakukan tanya jawab sebentar, kemudian pak Miftah menayangkan film yang dibuat pada hari selasa. Untuk menambah wawasan mereka (maksudnya sih agar mereka bisa membandingkan) saya tayangkan juga simulasi sekolah aman yang dilakukan GSB MSA. Setelah mereka memahaminya, sebagian tim memutuskan akan menempelkan jalur evakuasi dan yang lainnya memutuskan akan kembali ke kelas, sedangkan Fina tetap berada di Lab.IPA karena menurut informasi pak Miftah, sebagian guru akan mendengarkan penjelasan scenario evakuasi yang sudah dirancang Fina.

Terpaksa saya tidak bisa menemani tim yang akan menempelkan jalur evakuasi karena harus mengajar di kelas 7 digital. Saya titipkan kamera ke Sarah, syukurlah dia bisa mendokumentasikannya dengan baik. Inilah beberapa hasilnya.

Catatan penting tahap CACT:

Karena fokus pendampingan dilakukan setelah pulang sekolah dengan memanfaatkan waktu luang menjadi berdaya. Kebetulan kesepakatan waktunya hanya 1 jam setelah puang sekolah. Dan ternyata CACT tersebut membutuhkan waktu yang cukup panjang, maka saya membuatnya dalam beberapa tahap, jadi ada CACT 1, 2, 3 dan seterusnya. Antara CACT 1 dan 2 sebaiknya dilakukan refleksi agar bisa bersama-sama melakukan evaluasi dan menemukan solusi peraikannya.

Banyak temuan menarik dalam tahap CACT ini. Saya menduga, guru pendamping belum memahami dengan benar bagaimana” Cara Asyik Cari Tahu” ini dilakukan. Maka diperlukan pelatihan pendampingan untuk guru atau fasilitator yang akan melaksanakan YES for Safer School di sekolahnya.

Guru sebagai orang dewasa dan lebih banyak pengalaman serta pengetahuannya diharapkan memiliki dan menunjukkan sikap keterbukaan. Saat CACT ini dilakukan maka kesalahan akan menyertainya pula. Biarkan mereka belajar dari kesalahannya, menyadari bahwa sudah terjadi kesalahan, dan berusaha memperbaikinya, maka CACT akan menjadi sarana belajar yang sangat mengasikkan.

CACT merupakan penentu kesuksesan YES 4 Safer School. Kesuksesan CACT terjadi jika guru pendamping maupun fasilitator mampu menemukan “AHA” sebagai momentumnya. Jangan lupa, buatlah rencana proses belajarnya dan lakukan refleksi ketercapaiannya. Kunci dari semuanya adalah harus banyak berlatih dan bersabar menunggu.

Sumber belajar:
(1) YES for Safer School, greensmileinc
(2) Developing The Leaders Around You, John C. Maxwell
(3) Being High Achiever, Febe Chen

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s