GeMBIRA prioritaskan Kesetaraan

Artikel Gayuh Nugroho berjudul ‘Bela Negara dan Maskulinitas Bangsa’ di Selasar(15/10) perlu kita tanggapi dengan serius. Artikel Gayuh menunjukkan dengan sangat mencolok kekeliruan berpikir dalam memahami apa itu Indonesia. Gayuh—alih-alih menampilkan sebuah argumen cerdas untuk mendukung kebijakan bela negara—justru mempertontonkan masalah paling serius yang selama ini tidak kita sadari.

Dalam artikelnya, Gayuh berusaha menghubungkan nasionalisme dengan maskulinitas. Menurutnya, Indonesia adalah negeri yang dibangun di atas maskulinitas. Tanpa adanya kejantanan, Indonesia tak akan pernah ada. Celakanya, menurut Gayuh, kejantanan semacam itu kini amat sukar ditemui. Ia melihat adanya fenomena dimana sifat kebanci-bancian tumbuh subur di berbagai sudut.

Ia benci melihat anak laki-laki yang sibuk memainkan glowing stick. Ia benci melihat laki-laki menampilkan ‘tarian cenat-cenut sambil menyingkap dadanya yang ditutupi baju model V-neck’. Ia benci para pembawa acara di televisi yang, menurutnya, tak lebih dari sekadar ‘banci-banci cerewet’. Menurutnya, Indonesia sudah kehilangan maskulinitas dan—meminjam kata-katanya sendiri—hal itu ‘perlu menjadi ketakutan bersama’.

Bangsa ini—lagi-lagi saya meminjam kalimat Gayuh—‘ditegakkan dan dipertahankan dengan maskulinitas’. Oleh karenanya, ia harus hidup dalam maskulinitas, menjaga maskulinitasnya, dan menjadi jaya dengan maskulinitas itu. Kebijakan bela negara adalah sah dan perlu didukung karena kebijakan itu menegaskan kembali maskulinitas yang amat kita perlukan.

Bagaimana kita harus memahami argumen Gayuh ini?

Ada yang sering tidak kita sadari ketika kita berangan-angan tentang Indonesia. Hogan (2009) menulis bahwa nasionalisme selalu tergenderkan (gendered). Nasionalisme selalu memberi keistimewaan bagi sebuah gender tertentu, entah itu maskulin atau feminin. Dan nasionalisme memang cenderung mengistimewakan gender maskulin dan mengesampingkan gender feminin.

“Nasionalisme selalu memberi keistimewaan bagi sebuah gender tertentu, entah itu maskulin atau feminin”

Namun kecenderungan itu bukan kecenderungan yang bisa kita terima sebagai sesuatu yang wajar—atau bahkan kita rayakan dengan sebuah tulisan menggebu-gebu di Selasar. Pengistimewaan salah satu gender punya konsekuensi politik yang amat buruk.

Penulis-penulis seperti Hogan (2009), Enloe (2014), Mayer (2000) dan Walby (1996) bahkan melihat pengistimewaan maskulinitas sebagai alasan kuat di balik terpuruknya kehidupan perempuan di sebuah negeri. Laki-laki sering dikonstruksikan sebagai sosok pelindung bangsa sementara perempuan dijadikan simbol—“ibu pertiwi”—yang harus dilindungi. Walau sepintas terdengar romantis, nalar ini punya konsekuensi serius.

Pasalnya, dengan pandangan ini, laki-laki memperoleh peran yang lebih besar di dalam negara daripada perempuan. Perempuan hanya akan menjadi sosok yang diam di dalam rumah dan tak boleh menyentuh dunia luar dengan dalih mereka harus dilindungi. Padahal, di saat yang sama, itu hanya mempertegas kekuasaan kaum laki-laki atas mereka. Tindakan itu hanya membuat laki-laki berkuasa di ranah publik dan perempuan tersingkir ke ranah privat.

Pada akhirnya, nasionalisme yang memuja maskulinitas ini hanya melanggengkan patriarki. Nasionalisme jenis ini memproduksi dan mereproduksi ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan. Ada pemujaan berlebihan terhadap sosok laki-laki yang jantan. Perempuan sama sekali tak disebut.

Sementara itu, laki-laki yang berperilaku feminin dianggap sebagai mereka yang menyimpang, tak berguna bagi negara, atau bahkan menjadi ancaman baginya. Hanya mereka yang jantan yang dianggap boleh berkuasa. Negeri ini—Indonesia—hanya milik orang-orang macam itu.

Seluruh gejala ini bisa kita baca dalam tulisan Gayuh. Kita bisa melihat bagaimana ia memuja-muja kejantanan dan bagaimana ia berpendapat bahwa kejantanan itulah solusi bagi keterpurukan Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana ia begitu membenci laki-laki yang berperilaku tidak ‘jantan’. Dan—lebih dari itu—kita tak melihat satu pun cerita soal perempuan atau femininitas masuk ke dalam angan-angannya soal Indonesia.

“Dan—lebih dari itu—kita tak melihat satu pun cerita soal perempuan atau femininitas masuk ke dalam angan-angannya soal Indonesia”

Tulisan Gayuh adalah contoh yang sangat baik soal bagaimana pandangan kita soal Indonesia amat bias maskulin. Ini adalah nasionalisme yang hanya berisi laki-laki, laki-laki, dan laki-laki—dan tentu saja, laki-laki maskulin. Artinya, ini adalah nasionaisme yang amat eksklusif. Janji-janji soal kesetaraan bagi setiap warga negara dibuang jauh-jauh dari nasionalisme ini. Andaipun ada, maka janji-janji itu hanya jadi pemanis yang tak banyak gunanya. Bagaimana mungkin kita menjanjikan Indonesia yang inklusif jika imajinasi kita soal Indonesia begitu terbatas?

Kita mungkin marah pada Gayuh karena punya cara berpikir yang begitu sempit—terutama apabila ia adalah orang yang terpelajar dan mengenyam pendidikan tinggi yang nota bene cuma bisa dinikmati oleh segelintir orang. Akan tetapi, bagaimanapun juga, pikiran-pikiran Gayuh ini adalah pikiran yang mendominasi masyarakat kita hari ini.

Pemujaan berlebihan terhadap maskulinitas—khususnya maskulinitas militer—bahkan beresiko membuat proses demiliterisme  yang kita lakukan sejak 1998 terpukul mundur lewat kebijakan bela negara. Sementara begitu banyak mahasiswa dan aktivis melepas nyawa mereka agar ABRI keluar dari kehidupan sipil, banyak orang hari ini justru girang dengan kembalinya militer dalam kehidupan sipil.

Janji-janji kesetaraan bagi seluruh warga Indonesia mungkin terhambat bukan semata karena kita kurang keras berikhtiar, tetapi juga karena pikiran kita diam-diam tidak ramah terhadap ide kesetaraan itu sendiri.

Kita bukan hanya menerima ide-ide anti-kesetaraan dengan riang gembira, tetapi juga mengagumi dan memujanya. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus kita tempuh demi mewujudkan Indonesia yang setara adalah dengan memperjuangkan ide-ide kesetaraan itu sendiri sambil membuang gagasan-gagasan yang menimbulkan penindasan—entah tersirat, entah tersurat. Orang-orang seperti Gayuh inilah yang harus segera kita selamatkan.

“Oleh karena itu, langkah pertama yang harus kita tempuh demi mewujudkan Indonesia yang setara adalah dengan memperjuangkan ide-ide kesetaraan itu sendiri sambil membuang gagasan-gagasan yang menimbulkan penindasan—entah tersirat, entah tersurat”

Rizky Alif Alvian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s