Mengantar Anak ke Sekolah

“Pasti turun kualitas sekolah akibat banyak anak pengguna SKTM yang diterima tanpa seleksi. Saya cek ada 238 anak dengan nilai 18-19 harus diterima karena instruksi pak Wali Kota. Sementara itu, jalur akademis hanya tersisa 40 an, “ujar Bapak yang sedang bersandar di tiang saat kami mulai berkenalan.

Hari pertama di sekolah tempat putri kami belajar dihiasi balon gas warna-warni. Teman-teman Icha mempersilakan adik-adik kelas menuju lapangan setelah mengumpulkan balon gas masing-masing.

image

Para pengurus OSIS menyapa adik kelas mereka dengan senyum terkembang. Pemandangan yang menyenangkan.

Di sudut lain, kerumunan ibu-ibu membawa berkas dalam map biru mulai bertukar nomor kontak. Icha sudah pergi menuju lapangan bersama teman-teman sekolahnya. Ada 2 ibu berseragam dinas hijau di ruang koperasi saat saya mencari ruang kepala sekolah. Ibu guru IPA menyambut hangat obrolan seputar himbauan Mendikbud. “Wah kalau tahu begitu tadi saya menemani ananda di SMAN 1, “katanya.

Sambutan yang sama juga saya peroleh dari Pak Memed, penjaga sekolah. Ia langsung menyampaikan kepada orang tua/wali siswa yang hadir untuk menemui guru dan kepala sekolah. Ia juga memperkenalkan saya dengan bu Mardiati, guru BK dan Pak Acep wakil kepala sekolah.

image

Alhamdulillah semua guru yang saya temui menyambut hangat penawaran saya untuk sosialisasi Sekolah Ramah Anak dan pendampingan pelembagaan GSB MeSRA jika diperlukan. Insya Allah SMPN 35 akan menjadi salah satu mitra Sekolah Ramah Anak mulai dengan Safari GeMBIRA dan YES for Safer School.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s