Peran Guru dalam Literasi Sejarah

Alhamdulillah Diskusi Panel Perdana Gerakan Indonesia Pintar mendapat sambutan yang luar biasa. Penandatanganan komitmen multipihak diawali oleh Mendikbud, Anies Baswedan di hadapan Sekjen dan Ketua Dewan Pembina GIP, ketua FAD Jabar serta pakar kurikulum berjalan sesuai harapan.

Hampir semua kursi yang disediakan panitia terisi penuh. Kesibukan mudik jelang lebaran tidak menyurutkan langkah sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan mulai dari guru, orangtua, anak, aktivis, jurnalis dan pakar pendidikan untuk meretas gagasan Revolusi Karakter Bangsa melalui Literasi Sejarah Lahirkan Generasi Pembelajar.

image

Kliping media

Kompas menuliskan 1 kolom di halaman 10 pada hari Minggu, 12 Juli 2015, tentang Syahna yang memukau, dan karakter kebangsaan yang dibangun melalui liyerasi sejarah. Berita ini segera kuteruskan di facebook dan mendapatkan respon yang menarik dari jurnalis hebat dari Analisa dan jurnalis senior dari Kompas.

image

Dedy Hutajulu: Syahna menjujuri diri saat berujar, “Kami banyak menghabiskan waktu di sekolah.” Namun sayangnya, pendidikan sejarah kerap tidak utuh dan lengkap didapatkan anak. Barang kali tidak berlebihan jika menyebut, pendidikan sejarah di sekolah juga kerap tidak up to date. Sehingga banyak perkembangan ke kinian dalam konteks keindonesiaan kita tidak didiskusikan di kelas. Sejarah seakan hanya bicara masa lalu, dan terlalu berjarak dengan kekinian bahkan nyaris dicap tak bersangkut-paut dengan.masa-masa mendatang. Kisah G30S misalnya, kerap hanya diceritakan tentang itu-itu saja, sementara munculnya ulasan baru sepasti tulisan John Roosa bertajuk “Dalil Pembunuhan Massal” tak dianggap perlu untuk diketahui anak-anak. Inilah yang terjadi. Ada program by desain. Karena sejarah memang kerap dibelokkan. Pendidikan sejarah juga kerap dibelajarkan dengan sistem tatap muka di kelas, sementara format lain masih terasa tabu. Katakanlah inovasi pembelajaran. Misalnya kunjungan ke museum atau belajar di alun-alun atau studi ke titik-titik (tonggak2) sejarah belum jadi satu rujukan. Syahna membuka mata kita tentang pendidikan sejarah–dan tentu bidang lain masih dominan terjadi satu arah. Dan sekolah mendominasi transfer pengetahuan. Ada satu hal menarik tentang pendidikan sejarah di Australia. Pemerintahnya memberikan subsidi bagi anak-anak sekolah mulai dari tingkat sd sampai SMA untuk mengungjungi pusat pendidikan kepemiluannya, parlemennya dan gedung demokrasinya. Tujuannya, agar anak-anak paham betul spt apa sejarah lahirnya negeri tersebut, lahirnya demokrasi, jatuh bangunnya menumbuhkan demokrasi, serta bagaimana sejarah pembuatan aneka kebijakan. Uniknya pula, setiap hari, upacara memperingati para relawan dan pejuang kemerdekaan Australia digelar di gedung australia war memorial. Orang-orang datang memgheningkan cipta, jutaan nama yang berdedikasi terukir di dinding museum dan ditaburi bunga merah, orang-orang diingatkan setiap hari bahwa kemerdekaan itu diperoleh dengan bayar harga, berjuang hingga berdedeh-dedeh berdarah-darah. Pendekatan beginian menumbuhkan bukan saja pengetahuan, tetapi juga satu pengalaman batin yang kuat. Anak-anak dibelajarkan tentang bagaimana mereka seakan ikut menapaktilasi mozaik-mozaik pertempuran masa silam. Dan hibungannya dgn demokrasi serta tantangan masa kini dan yang akan datang. Ini lagi-lagi pertanda bgmn sejarah dipandang bukan hanya cerita masa lalu. Maka alangkah bagusnya jika literasi sejarah kita dimajukan, dilengkapi, dan dibelajarkan secara menarik. Anak-anak diajak tamasya sejarah bahkan bila memungkinkan di subsidi agar sejak dini mengenal kekayaan keragaman budaya, sejarah, dan pemikiran-pemikiran besar di masa silam, kini dan dampaknya ke depan. Kan agak lucu, anak-anak Medan lebih tau Pattimura ketimbang Sisingamangaraja, atau anak Makassar lebih familier dengan cut Nyak Dien ketimbang Johannes Leimena. Tak heran ketika tempo hari Presiden Jokowi salah ujar tentang tempat lahirnya Presiden Soekarno, kontro versi menghebat dan olok-olok tak terhindarkan. Yang muncul adalah fenomena generasi yang gemar menghujat. Ini bersebab literasi sejarah kita tidak utuh dan sejarah dianggap sebatas cerita masa lalu.

YantiKerLiP: Analisa yang cerdas dan bernas dari jurnalis Analisa Medan…iya bang Dedy Gunawan Hutajulu, menghadirkan kembali tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan bangsa dalam narasi-narasi mikro orang-orang di sekelilingnya niscaya memberi perspektif baru bagi kita dan anak-anak kita. Kemarin dalam diskusi ada yang hadir memperkenalkan diri sebagai cucu PM Ali Sastroamidjoyo dan putranya Boy Bolang. Wah kalau sejarah tutur seperti ini dimungkinkan digali dalam proyek-proyek cari tahu anak-anak kita di tengah kemiskinan keteladanan saat ini alangkah membahana ya. Kita minta pendapat ahlinya ya. Silakan bu Ratna Hapsari, bu Pudentia Mpss, Mas Kenedi Nurhan, Irsyad Ridho, Susi Fitri

Kenedi Nurhan:  Bu Yanti Kerlip, di sini guru menjadi titik pijak utama bagaimana menjadikan pelajaran sejarah  menarik dan menyenangkan. Apa yg disinggung di atas bukanlah hal baru dlm perspektif, pendekatan, teknik, dan metodologi. Cukup banyak guru yg sdh melakukan itu. Di Gersik, misalnya, ada guru yg bahkan  membuat penelitian kecil2an bersama siswa atas objek/peristiwa sejarah lalu dan membuat semacam film dokumenter utk kemudian disebar sbg bahan ajar. Mengundang pelaku sejarah ke ruang kelas seperti program Taufiq Ismail mendatangkan sastrawan ke sekolah juga sdh ada yg melakukan. Anak diajak terlibat dgn pengalaman empirik kesejarahan juga sdh dirintis bahkan jadi agenda tahunan Direktorat Sejarah & Geografi Depdikbud/Depbudpar/Kemdiknas/Kemdikbud lewat apa yg mrk namakan Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) di mana guru & murid terpilih dari semua provinsi dilibatkan. Masalahnya, seperti halnya program2 penataran, pelatihan dsb, kerap berhenti stlh kegiatan itu selesai. Hanya satu-dua yg masih bersetia pada profesi sbg pendidik. Selebihnya berhenti sebatas sbg pengajar: pendidik & pengajar, meminjam kata Prof Winarno Surakhmad dan Prof Iman Santoso yg saya temui lebih 20 tahun lalu, memang sepintas sama tapi esensinya jauh berbeda. Mumpung bu Yanti Sriyulianti sedang getol terlibat di bidang ini, buat juga gerakan utk menumbuhkan rasa cinta terdalam para guru (sejarah) kita pada profesi mrk, yg sejatinya benar2 sebuah panggilan…. tabiikkk

YantiKerliP: Mas Kenedi Nurhan kita mulai  dengan ngobrol bareng Asosiasi Guru Sejarah dan Asosiasi Pendidik dan Peneliti Sejarah (APPS) yang digiatkan Prof Said Hamid Hasan ya. Insya Allah Rabu pagi saya menemui beliau untuk mendiskusikan rencana ini

Selain kompas, Sekjen GIP, Alpha Amirrachman juga mengumpulkan pemberitaan lengkap oleh Warta Kota, Media Indonesia, CNNIndoneaia dan Berita Satu. Diskusi pun beralih ke tim Binar dan Gerakan Indonesia Pintar. Insya Allah selepas lebaran kami tindaklanjuti dengan kegiatan yang lebih fokus untuk membangun Gerakan Literasi Sejarah.

Bismillah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s