Menjadi Generasi Pembelajar melalui Literasi Sejarah

Syahna Rahmah Falihah, Ketua Forum Anak Daerah Jawa Barat, tampil memukau dengan bahan presentasi yang diolah dari hasil diskusi dengan teman-teman sebaya. Ada dua testimoni anak perempuan SMAN 1 Bandung tempat Syahna belajar menyampaikan harapan perbaikan metode dan materi ajar Sejarah khususnya di kelas peminatan IPA. Syahna juga menyiapkan stop motion tentabg generasi pembelajar dan membawa perwakilan pengurus FAD Jabar dari Cimahi, kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Garut.

image

Tantangan dan harapan yang disampaikan Syahna mendapat tanggapan serius dari Dr. Ratna Hapsari, Presiden AGSI. Guru sejarah di SMAN 6 ini sudah pensiun dan menikmati waktu untuk membaca buku-buku lamanya. Bu Ratna menyampaikan bahwa materi ajar dari sejarah manusia purba sampai era reformasi dengan alokasi waktu 1x 24 jam membuat guru sejarah kelabakan.

image

Prof Soedijarto menangkap gagasan dan harapan Syahna dengan menyampaikan pengalaman belajar putra-putrinya di Jerman. Menuruy ahli kurikulum yang katanya bekerja di komplek Kemdikbud selama 43 tahun ini, mata pelajaran yang diajarkan di Jerman cukup 1 topik pilihan.

Hilmar Farid, Ph.D, sejarawan Perkumpulan Praxis memulai paparannya dengan menyampaikan bahwa Syahna telah meruntuhjan asumsi bahwa anak remaja sekarang tidak suka belajar sejarah. Ia berkali-kali menyampaikan tentang pentingnya kesadaran sejarah sebagai landasan revolusi karakter bangsa.

Literasi sejarah membangun pendidikan prosedur agar melek sejarah. Pendidikan prosedural dalam arti memahami bagaimana pengetahuan sejarah bisa muncul dengan rasa ingin tahu yang dalam karema dipicu 2 hal:

1. historical empathy, contohnya: membayangkan apa sih rasanya menjadi budak Amerika; bagaimana kira2 kehidupan seperti Kartini. Melalui historical empathy guru mengasah kemampuan berempati peserta didik. Hal ini diyakini bisa membangun toleransi

2. Kemampuan untuk memahami cara hidup yang berbeda. Di dalam konteks pembentukan bangsa. Kemampuan untuk melihat cara hidup yang berbeda dari masa lalu sebagai bagian dari hokupnya.

Menurut Fay, panggilan Hilmar Farid, revolusi bermakna jika kita berpikir tentang kebudayaan yang inklusif. Menghadirkan sejarah hari ini dan membuatnya relevan dengan mengulang-ulang ingatan dalam berbagai bentuk terhadap para tokoh pergerakan bangsa. Peristiwa wafatnya Bung Karno yang menggerakkan pematung Edy sunarso dan kawannya untuk menghentikan pekerjaan dan pergi mengendarai jip untuk menghadiri pemakaman toko proklamator RI menggugah rasa kebangsaan Fay. Bayangkan seseorang yang sedang di ketinggian menuntaskan patung langsung berhenti berdua naik jip ke Blitar untuk menghadiri pemakaman.

image

Jalan perubahan di dalam Trisakti sangat jelas mendorong pada mebudayaan yg inklusif. Sayang sekali sampai hari ini pendidikan masih mengedepankan gambaran anak Indonesia yang ideal.yang sudah pasti berlandaskan kebudayaan unggul. Akibatnya kaum difable, orang dengan kebutuhan khusus nyaris tak dapat menikmati hak atas pendidikan. Inklusivitas dalam pendidikan masih belum solid apalagi dalam kebudayaan.
Sangat penting memilai dengan mendorong agar seluruh keragaman seperti ini dipahami oleh anak-anak bangsa. Bayangan tentang anak ideal sekali membuat pendidikan makin tak menjangkau mereka yang terpinggirkan.

Kesadaran bahwa kita memiliki keragaman adalah basis berpengetahuan. Dalam konteks inilah literasi sejarah tidak lagi berhenti mencari metode interaktif dalam pembelajarannya tapi sengaja dihadirkan dalam ragam bentuk ingatan saksi-saksi sejarah yang nyaris terlupakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s