Pembukaan Diskusi Nawa Cita ke-8: Revolusi Karakter Bangsa

image

Alhamdulillah, atas berkat dan rahmat Allah swt serta dukungan relawan panitia, acara terlaksana tepat waktu. “Penokohan  dalam lintas sejarah pembentukan bangsa yang disajikan secara visual Insya Allah akan melahirkan generasi pembelajar, “Kata sambutan dari Sekjen Gerakan Indonesia Pintar, Alpha Amirrachman, Ph.D mengalir jernih mengawali diskusi panel perdana Revolusi Karakter Bangsa melalui Literasi Sejarah lahirkan Generasi Pembelajar.

Merawat Kebhinnekaan

…..”Ratusan bahasa bisa membentuk sebuah bangsa dengan konsep yang unik. Setiap suku bangsa membentuk satu kesatuan dan tetap mempertahankan identitas bangsa Indonesia. Mempelajari tokoh-tokoh pergerakan bangsa bangsa, merawat, dan membesarkan kebhinnekaan menjadi tanggung jawab kita. Kebhinnekaan adalah fakta dan sesuatu yang harus dirawat dan dikembangkan.

Lintas sejarah pembentukan bangsa menunjukkan  bahwa Keindonesiaan dibangun lewat pendidikan. Gerakan kebangsaan dimulai dari pendidikan. Pendidikan adalah hulu pergerakan kebangsaan. Tokoh-tokoh yang mesti dipelajari karena dari mereka kita bisa mempelajari akar budaya yang kuat dan wawasan yang global.

KAA baru diperingati 60 tahun. Alasan bangsa Asia Afrika melaksanakan konferensi di kota Bandung, di ujung timur selatan, karena Indonesia model negara baru merdeka yang menjadi inspirasi bagi negara-negara di Asia Afrika terutama yang belum merdeka. Saat saya menjadi rektor Universitas Paramadina menerima tamu Duta besar Kanada datang, dalam CV nya dinyatakan bahwa beliau menulis buku kerjasama selatan-selatan dan KAA di Bandung. The spirit of Bandung diulang-ulang.

Utusan Afrika Selatan yang saya temani menceritakan tokoh-tokoh di Bandung. Mereka menceritakan Indonesia mempesona dunia meraih kemerdekaan dengan perjuangan rakyat dan memiliki akar budaya yang kuat.

Ketika belajar tentang sejarah, akan mengakui betapa pendidikan memberi dampak yang luar biasa dalam sejarah pembentukan bangsa kita. Baru-baru ini saya mencari posisi bukan gelarnya seperti Sudjatmoko yang menjadi rektor universitas yang didirikan PBB padahal bukan lulusan perguruan tinggi. Literasi sejarah mengenali tokoh-tokoh. Tak mungkin semua mau iuran karena tokoh-tokoh pergerakan bangsa menjadi teladan yang terpercaya jika bukan karena kecintaan pada republik ini yang begitu tinggi di atas kecintaan dirinya…”

Kutipan di atas adalah sambutan Mendikbud, Anies Baswedan. Kata-katanya yang renyah dan konsisten mengantarkan diskusi ini akan pentingnya pendidikan dalam sejarah pembentukan bangsa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s