Coretan Aas tentang Bahaya Pernikahan Dini

Pagi ini ditandai postingan dari salah satu pakar dan penggerak juga pemerhati hak anak terutama dalam pendidikan, juga beliau adalah Ibu saya (dalam berbagi ilmu) sebut saja beliau Yanti Kerlip itulah nama populernya.

Beliau mengutip tentang responsibility, yaitu terdiri dari respon dan ability. Dalam masa Semester Pendek tahun ini, saya mengambil mata kuliah keluarga berencana, perkuliahan telah di mulai minggu lalu. Pembahasan awal saat itu adalah terkait UU Perkawinan yaitu untuk perempuan batasannya adalah usia 16 tahun, ada yang berasumsi bahwa mungkin usia pernikahan di turunkan karena untuk menekan angka pernikahan dini yang tidak melanggar aturan Negara, kami mendiskusikan hal ini dikaitkan dengan kesiapan sistem reproduksi perempuan.

Kalau mengikuti dasar kesehatan sudah sangat jelas bahwa jika menikah dan kemudian hamil ketika usia dibawah 20 tahun akan sangat berisiko. Masalahnya adalah bukan hanya terhadap kesehatan saja tentunya, hal-hal lain seperti pendidikan ibu yang terhenti atau tidak melanjutkan sekolah, perceraian, tidak optimal dalam pengasuhan anak, bahkan akan berujung kepada kemiskinan dan ini akan berpengaruh besar terhadap rendahnya terciptanya keluarga berkualitas.

Dalam forum melalui milist yang diterima hari ini membahas tentang perjuangan para aktivis peduli anak Indonesia, berbagi informasi terkait menolaknya MA dalam permohonan perubahan UU Perkawinan, karena meunurutnya taka da jaminan meski usia perkawinan di tingkatkan menjadi 18 tahun dapat menanggulangi permasalahan kesehatan dan sosial lainnya.

Hal ini sangat membuat saya pribadi prihatin, jikalau seperti ini lantas siapa yang akan bertanggung jawab untuk bisa bersama-sama mewujudkan generasi masa depan lebih baik, sehat, berpendidikan dan menghasilkan generasi berikutnya yang tentunya lebih baik.

Dosen saya menceritakan saat ia beberapa puluh tahun lalu ketika ia mengambil raport sekolah menengah pertama anaknya, ketika guru tersebut memberikan raport kepada orang tua masing-masing guru tersebut memberikan saran yang sangat panjang salah satunya adalah “Selamat ya bu anak ibu sangat pandai dan tekun, sudah menyelesaikan pendidikan menengah, jangan lupa ya bu saya titip anaknya masukkan ke sekolah menengah tingkat atas”. Namun ketika dosen saya menerima raport anaknya gurunya hanya bilang “selamat ya bu anak ibu mendapatkan nilai terbaik hasil ujiannya”, dosen saya komplain “lho kenapa saya tidak diberikan wejangan yang panjang seperti ibu-ibu lainnya”. Ibu guru tersebut menjelaskan bahwa “di daerah tersebut anak keluar sekolah menengah pertama banyak yang dinikahkan muda, oleh karena itu saya perlu memotivasi orang tuanya untuk dapat menyekolahkan anaknya ke tingkat selanjutnya”.

Ini sangat membuat saya trenyuh dan terinspirasi, perjuangan agar pernikahan dini tidak marak terjadi adalah bukan hanya tugas daripada para aktivis peduli anak, bukan pula hanya orang kesehatan yang memahami tentang struktur dan fungsi kematangan reproduksi perempuan tapi guru yang selalu mendampingi anak di sekolah pun dapat melakukannya.

Tentunya ini bukan hanya tugas guru, banyak pihak yang dapat melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh ibu guru hebat di sekolah anaknya dosen saya tadi. Misalnya pihak KUA, tokoh agama dan lainnya. Karena menikah itu bukan hanya berhubungan biologis saja tapi hal-hal lain yang harus dihadapi di masa depan. Maka dari itu siapapun dapat berperan dalam menekan tingginya pernikahan usia di bawah 20 tahun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s