Peran Serta Masyarakat

Oleh: Dedy Gunawan Hutajulu

Mungkin bagi kalangan pendidik, utamanya guru sudah paham dengan metode-metode pembelajaran. Namun dalam praktiknya, membelajarkan sesuatu kepada anak tentulah bukan perkara enteng. Apalagi bagi orangtua yang jelas-jelas tidak pernah belajar khusus tentang hal itu di perkuliahan. Tetapi akan selalu tumbuh  “kemampuan merespon” dalam diri setiap orangtua, apalagi menyangkut perilaku dan perubahan karakter anaknya. Kemampuan itu barangkali ada yang tumbuh  alamiah, tetapi juga sebagian besar berkembang lewat proses belajar. Tentu saja kemampuan “memberi respon” ini kita harapkan yang positif. Sebab anak akan lebih mudah berterima jika orangtuanya menanggapi perilaku dan perkataan serta sikapnya secara positif.

Di poin ini anak akan memandangnya sebagai sebuah lintasan keteladanan. Anak akan senang hari mengikuti dan bergerak di lintasan itu. Bertumbuh dan berkembang lebih pesat bahkan melampaui yang kita bayangkan. Karena di lintasan keteladanan itu mereka akan memupuk kreativitasnya, menggemburkan lahan tambang ide-ide liarnya, menyerap secara optimal energi positif disekitarnya dan melepaskan energi itu lewat ide dan gagasan yang cerdasnya.

Anak yang melihat garis keteladanan secara jelas dari orangtuanya, tentu akan lebih respek terhadap orang lain, juga terhadap dirinya bahkan ide-idenya sendiri. Saya melihat bagaimana anak-anak sekolah di Aussie begitu individualisnya dalam berpikir, setidaknya saya memaknainya sebagai kemandirian berpikir, namun dalam hal merespon pendapat orang lain, anak-anak itu sungguh toleran.

Kemandirian dalam ini tentulah menjadi atmosfer yang ditumbuhkan sekolah-sekolah di sana. Dan uniknya, saya dapati beberapa orangtua di kebun binatang menanamkan kemandirian berpikir itu kepada balita-balitanya sekaligus bagaimana balita-balita itu dibelajarkan cara bertoleransi dengan alam dan binatang. Itu berarti kemandirian berpikir serta toleransi itu pertama kali dijejakkan oleh ibu dan ayahnya. Sekolah justru menduduki peran kedua. Keluarga menjadi jauh lebih sentral.

Lewat suri teladan sesederhana itu, saya melihat bagaimana peran keluarga membangun lintasan-lintasan keteladanan guna menumbuhkan sikap respek anak pada sekitarnya. Dan lingkaran berikutnya, peran sekolah yang tak sekadar sebagai sarana orangtua melepas anak. Di Medan saya kerap temukan orangtua yang begitu sudah menitipkan anak ke sekolah, mereka berpandangan maka sepenuhnya pembentukan anak adalah tanggungjawab guru dan sekolah. Pandangan ini masih kentara di Medan–dan mungkin kabupaten lain. Saya remuk hati mencermati fenomena ini.

Ya, itu yang terjadi: orangtua buang badan jika anaknya sudah dimasukkan ke sekolah. Sebuah sesat pikir sekaligus kegamangan. Celakanya, tak sedikit pula guru yang remeh dengan fenomena ini. Karena itu ketika isu PSM (Peran Serta Masyarakat) digaungkan saya mungkin orang paling senang mengikuti perkembangan isu ini. Tentu saja peran orangtua yang ditagih di sini. Dan orangtua itu tak lain adalah Anda-anda dan saya. Ya, kita, semua. Di sinilah peran kita ditelanjangi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s