Mengenal Tanggung Jawab

Sebait kata
terbata
bergema
merasuk ke dalam jiwa
gaduh pun tercipta
meski dalam senyap
ada kita di setiap jeda
lebih besar
lebih bergemuruh

Sang guru berucap
Tak perlu dicari dalam kitab suci
Singkirkan semua sadarkan diri
Biarkan kita menjelma
di sudut kota

Alhamdulillah dikaruniai anak-anak pintar yang terbiasa diajak bicara bahkan sejak masih sangat dini. Topik obrolan jelang sahur tentang menyingkirkan sekat, dinding, barrier yang membuat kami kehilangan cara mengungkap kasih sayang dengan rasa hormat. Aku merasa baru kembali mengenal tanggung jawab. Baru kusadari jika residu yang perlahan tumbuh karena kegaduhan yang tak perlu muncul karena sering membiarkan tindakan-tindakan tanpa sadar mengalir di keseharian. Ini harus segera dihapus agar keindahan kasih-Nya berkilau dalam jiwa anak-anak kita.

Kontrak Sosial

Rasanya baru kemarin kita menyaksikan almarhum Apa Utomo selalu memulai obrolan asyiknya dengan pertanyaan tentang definisi pendidikan. Seingatku sampai menjelang akhir hayatnya hampir tak ada yang menjawab definisi pendidikan sesuai dengan rumusan pasal 1 UU Sisdiknas No 20 tahun 2003. Pelajaran yang sangat berharga dari sang guru almarhum adalah menjadikan rumusan yang mendekati ideal di dalam peraturan perundang-undangan sebagai norma, standar, prosedur dan kriteria dalam keseharian.

Mengenal kembali tanggung jawab sebagai warga negara yang baik bukan hal yang mudah. Terutama ketika kita tahu bahwa pendidikan adalah upaya sadar dan terencana guna mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Bayangkan dalam keseharian yang penuh spontanitas kita harus selalu sadar dan terencana jika kita ingin tumbuh bersama anak-anak generasi pembelajar sepanjang hayat.

image

Respon-ability

Penggalan kata responsibilitas menjadi respon-ability kubaca dari buku favorit keluarga peduli pendidikan, 7th habits of highly effective people karya monumentel Stephen Covey. Responsibilitas atau tanggung jawab terasa lebih membumi ketika diartikan dari kata respon-ability atau kemampuan untuk merespon, menjawab. Menghadirkan lembar-lembar inspirasi belajar ramah anak-LIBRA terutama agar dapat menggerakkan diriku sendiri untuk selalu ingin melakukan Cara Asyik Cari Tahu untuk pembelajar sejati (CACTh UP Sejati) menjadi tanggung jawabku.

Pendidikan karakter (berbasis) Keluarga

Tantangan terbesar dalam mengenalkan tanggung jawab dalam pendidikan keluarga adalah melepaskan semua tindakan kita yang berasal dari ketaksadaran diri. Seperti kata Rumi

Hari ini, seperti hari lainnya, kita terjaga dengan perasaan hampa dan ketakutan. Namun, janganlah tergesa melarikan diri dari kenyataan pahit ini dengan pergi berdoa atau membaca kitab suci. Lepaskan semua tindakan mekanis yang berasal ketaksadaran diri. Biarkan keindahan Sang Kekasih menjelma dalam setiap tindakan kita. Ada beratus jalan untuk berlutut dan bersujud kepada-Nya.

Pendidikan karakter berbasis keluarga rasanya perlu dimulai dengan membangun kesadaran diri dan seharusnya setiap hela nafas kita yang terucap dan tersembunyi kita upayakan secara sadar menjadi bagian dari proses pembelajaran. Hari ini aku mengenal kembali kata tanggung jawab. Tak ada kata terlambat untuk membiarkan cahaya-Nya menjelma dalam setiap tindakan kita.

Kini saatnya untuk diam dan biarkan kita benar-benar melampaui kata-kata.

Advertisements

3 thoughts on “Mengenal Tanggung Jawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s