Kreativitas Meminimalkan Ketidakpedulian

Saya duduk di antara Sarah Ginting dan Prof Barliana menunggu Seminar Desain Sekolah Ramah Anak dimulai. Duduk di hadapan kami mbak Nitih dan Pak Jauhar. Kondisi perekonomian yang belum beranjak sejak kepresidenan baru dilantik Oktober lalu menjadi topik obrolan kami. Sesekali terselip haru biru kampanye sejuta sekolah dan rumah sakit aman mengimbangi keprihatinan Sarah Ginting tentang sekolah rusak-rusakan di Banten. Kegiatan usaha keluarganya di Jakarta Utara turun sampai 30-40%.

Sarah: “Mungkinkah kita mengalami kejadian serupa di tahun 98? Bagi kaum minoritas seperti saya kondisi saat ini sudah membuat was-was.”

Saya: “Saya masih optimis, Mbak. Menurut pendapat saya yang awam soal ekonomi, hal ini terlihat dari tingkat kepuasan rakyat terhadap kinerja Jokowi-JK pada periode yang sama dengan presiden sebelumnya, dalam hal pemenuhan kesejahteraan rakyat dianggap lebih baik. Saya kira amanah UU ASN yang mengharuskan pemerintah melakukan rekrutmen terbuka untuk eselon 1 dan 2 sangat berpengaruh terhadap keterserapan anggaran.”

Pak Jauhar menyampaikan beberapa hal terkait sinergi yang dilaksanakan KerLiP dengan Arsitek UPI tahun 2012-2013 dalam kampanye, monitoring dan evaluasi penerapan Sekolah/Madrasah Aman dari Bencana. Beberapa perkembangan terkini mengenai Sekolah Aman Komprehensif yang dikawal UNICEF di Kemdikbud menghangatkan diskusi. Tak lama kemudian, panitia mempersilakan kami untuk memasuki ruang Seminar.

Para Juara

Ada sedikit terselip sesal karena tak bisa bergabung dengan 2.000 minus 1 orang relawan yang mendapat kesempatan hadir dalam pernikahan putra sulung RI satu. Namun semua mulai sirna ketika Juara Ketiga membuka acara siang ini dengan menyajikan desain Kelas Ramah Anak.

image

Alhamdulillah. Ide segar dari para kawula muda yang mengikuti workshop begitu menakjubkan. Nia, Fadel, Dewi dan rekan-rekan panitia berhasil menyajikan pendekatan multikultur dalam menyiasati kegiatan pasca makan siang.

Para Pembicara

Sayang sekali Syahna, ketua FAD Jabar tidak bisa hadir memberika tanggapan terhadap para pembicara yang saling melengkapi. Saya memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan praktik-praktik baik yang sedang dikawal bersama 15 K/L terkait menjadi Perpres Gerakan Sekolah Ramah Anak. Desain kelas ramah anak karya sang Juara menjadi sumber inspirasi untuk memudahkan warga sekolah memahami aksi-aksi Mewujudkan Sekolah Ramah Anak. Tak lupa saya menantang audiens yang didominasi mahasiswa Arsitektur dari berbagai perguruan tinggi untuk melakukan aksi nyata. “Keluarga kami investasikan sumber daya yang besar untuk menyediakan bahan bacaan bagi generasi pembelajar. Mas Menteri berkenan memberi kata pengantar menyambut kehadiran Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual. Mimpi sudah dirajut, wacana sudah dilakukan. Kini saatnya beraksi, “ujar saya sambil mengutip kata-kata Nelson Mandela sebelum mengakhiri presentasi.

image

Prof Barliana, ahli sosiologi arsitektur memenuhi rasa ingin tahu saya tentang konsep desain sekolah ramah anak. Model-model layout Sekolah Ramah Anak yang dikutip beliau dari dokumen UNICEF memberi gambaran praktis mengenai faktis-faktor yang mempengaruhi konsep tersebut. Saya sangat tertarik dengan lay out tentang sekolah untuk para penyandang autis.

Sesi berikutnya dilaksanakan setelah rehat sholat Ashar. Juara kedua desain sekolah ramah anak memulai sesi kedua dengan menghadirkan konsep CARE Ceria, Aman, Ramah dan Edukatif. Tim yang dibentuk tiga mahasiswa Arsitektur ITB ini dengan lugas memaparkan konsep desain dengan runut. Kemudian giliran Sarah Ginting, pengusaha yang menyediakan jasa arsitektur dan desain menyampaikan paparannya. Perempuan pengusaha ini  memukau audiens termasuk saya dengan sajian psikoanalisa Chartesian.

Gaya presentasinya otentik dan menginspirasi saya untuk menjelajah pikiran ketika Sarah menghadirkan karya-karya para Maestro berkelindan dengan pemikirannya yang orisinal.

All children an artist
Picaso pelukis terbesar dunia, mencapai puncak karyanya yang childlike thinking. Sangat sempurna
Makin matang makin sederhana. Keberanian berpikir yang menerobos.
Seseorang mencapai puncak kejayaan  jika bisa mengungkap sesuatu dengan garis.
Anak kecil mampu menangkap hakikat
Bentuk2 elaborasi mengevokasi anak berpikir kreatif
Bentuk2  abstrak simbolik mengevokasi penalaran asosiatif
Memverbalkan detail spasial adalah  dasar utama kreativitas.
Keceriaan anak menentukan masa depan bangsa. Imaginaton more important than knowledege. Logic will.take you from A to B
Imagination will take you everywhere
Albert Einstein

Bermain simulasi manusia pencerah dunia. Anak sangat playful. Play is work for child.

Mendidik bagi Sarah berarti mengempati anak memahami pencerapan. Menalar dengan sensitivitas terukur. Mengaktifkan intuisi supaya intelegensia cepat tanggap mengindra.

Kreativitas meminimalkan  ketidakacuhan mencerap, ketidakacuhan berinisiatif,

Bagi saya Kreativitas meminimalkan ketidakpedulian.

Sesi kedua diakhiri dengan presentasi dari Juara I desain Kelas Ramah Anak yang direbut oleh tim dari UPI.

Sistem di ruang kelas untuk kelas 1-3 SD dibuat plastis agar bisa menerapkan PAIKEM didukung assembling yang adil gender. Aksesibilitas juga menjadi penting dalam PAIKEM terutama interaksi guru dan murid. Fungsi kelas bisa hybrid untuk seni dan praktikum. Transormasi bentuk tetap persegi panjang dnegab penataan belah ketupat. Sirkulasi udara. Zona untuk anak dibuat dengan penataan lantai. Pencahayaan dari kanan dan kiri menghindari silau. Entrance jadi window langsung melihat focal point. Luasnya 9×9 m untuk 20 anak.

Bentuk meja trapesium
Penyangga besi ringan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s