#Tanggung Jawab dalam Pendidikan Anak Merdeka

Sahabat Rasulullah Saw, Saad Bin Abi Waqqas yang kaya dan dermawan sedang sakit keras. Ia ingin mewasiatkan seluruh hartanya bagi kemaslahatan umat. Rasulullah Saw melarangnya. Saad pun berniat mewasiatkan separohnya. Itu pun tetap dilarang Rasulullah Saw. Ia mewasiatkan sepertiganya. Rasulullah Saw lalu bersabda : “… dan sepertiga itu pun sudah banyak. Sesungguhnya, jika engkau tinggalkan pewaris-pewarismu dalam keadaan mampu, lebih baik daripada mereka dalam keadaan melarat, menadahkan telapak tangan kepada sesama manusia.” (HR. Bukhari Muslim). Hadits ini merupakan penjelas atas ayat ke 9 Surat an-Nisa. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.”

Tulisan ini dikutip dari REPUBLIKA.CO.ID yang ditulis oleh: Ustaz H Hasan Basri Tanjung, M.A. bertepatan dengan rasa handeueul menyergap saat melihat berkas jilid 7 benar-benar tidak bisa dibuka. Perasaan gagal mendidik itu kembali memuncak.

Anak Merdeka dan Penuh Tanggung Jawab

Mendidik anak adalah hak prerogratif ayah dan/atau bunda yang melekat sejak anak dilahirkan sampai dewasa. Kalimat ini selalu menjadi pembuka saat kami melakukan sosialisasi pendidikan keluarga, pendidikan di rumah. Saat yang tepat untuk menumbuhkan keluarga-keluarga peduli pendidikan yang siap merebut kembali hak yang melekat pada tanggung jawab mendidik anak sebagaimana tersirat dalam kitab suci dalam kutipan di atas.

Lalu bagaimana mendidik anak merdeka untuk memiliki tanggung jawab terhadap pilihannya? Sampai saat ini saya masih merasa gagal mendidik anak ketika menyaksikan pekerjaan mereka berceceran, tidak tuntas. Tantangan terbesar dari penerapan Pendidikan Anak Merdeka adalah memperkuat 10 pilar pendidikan karakter dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Proses belajar sepanjang hayat karena ayah dan bunda pun dituntut untuk merdeka dan penuh tanggung jawab.

Tanggung jawab adalah salah satu pilar pendidikan karakter yang memerlukan pembiasaan sejak dini. Memelihara makhluk hidup diyakini dapat menjadi model pembiasaan learning by doing. Mendidik Icha menjadi anak merdeka dan penuh tanggung jawab mendapat tantangan langsung ketika ananda memelihara dua anak kelinci yang dibelinya di Lapangan Banteng. Ketika kedua anak kelinci tersebut mati karena alasan yang berbeda, kami mulai menyepakati beberapa hal terkait tanggung jawab yang melekat saat merdeka memilih memelihara makhluk hidup lagi.

image

Beberapa hari yang lalu Icha merengek mau merawat anak kucing yang datang tanpa induknya ke rumah kami. Saya langsung menolak setelah Icha tidak dapat bertanggung jawab penuh mengurus anak kucing tersebut. Icha penyayang binatang. Lihat saja merpati yang antri menunggu disuapi remah-remah makanan kecil saat Icha mengikuti World Conference for Disaster Risk Reduction di kota Sendai, Jepang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s