Liburan IDAMAN kita #MYAF #4

Alhamdulillah berlibur bersama sahabat lama sangat menyenangkan.
“Pilihan waktu ibu bagus semua. Tidak ada hujan, laut tenang, pas ada Andrea Hirata,” kata Pak Budi sambil menyetir mobilnya. “Bulan 7 waktu yang paling pas karena cuaca cerah ngga mendung sama sekali. Tapi bulan 6 dan 8 juga lumayan” imbuh Pak Budi lagi menimpali obrolan kami
“Waktu itu ada hujan sedikit ya Pak, tapi Oktober asyik juga ternyata,”kata Ama
“Lain kali naik mercu suar dulu baru snorkling ya.”kata Pak Budi.
Obrolan seputar liburan di Belitong menghangatkan suasana perjalanan kami ke Batu Mentas.

Rumah Adat Belitong

image

Hari terakhir di Belitong kami isi dengan berfoto bersama di Rumah Adat Belitong mulai dari jendela depan sampai ke anak tangga di belakang.  Alhamdulillah meskipun pengunjung terus berdatangan, kami mendapat kesempatan untuk mengabadikan foto-foto yang cantik.
“Rumah Bupati ini rumah rakyat. Lihat saja kita bisa masuk ke gerbang dan parkir di halaman depan rumah dinas yang terletak bersebelahan dengan Rumah Adat Belitong.

Tersedia 2 pasang kursi sice sudut kanan kiri Rumah Adat Belitong. Setelah berpose di sudut kanan kami langsung menghampiri pelaminan. Ada aneka ragam Dulang dan perlengkapan pengantin. “Dalam adat melayu, pengantin duduk di pelaminan yang disebut Kelice. Pelaminannya setara dengan para tamu. Kedua mempelai bahkan berkeliling menyalami tamu. Sikap hormat kedua mempelai ini menandakan pentingnya menghormati tamu,” ibu penjaga Rumah Adat menjelaskan. Kami sibuk.memotret.beraneka rupa hantaran pengantin.

image

Foto-foto masa penjajahan terpampang di dinding. Ada sepasang pakaian adat berwarna merah muda yang dipajang di dalam etalase khusus. Cukup sederhana.

image

Sampai di ruang kedua terlihat Inong sedang berpose memegang uli-uli. Kami pun  bergantian memegang uli-uli kemudian berpose menggunakan perlengkapan tradisional nelayan dan petani Belitong.

image

Pak Budi dan Inong bergantian mengarahkan gaya kami  berempat. Sungguh menyenangkan bisa mengenal setiap sudut Rumah Adat Belitong. Seluruhnya terbuat dari kayu

Batu Mentas

Tujuan wisata Batu Mentas saya dengar pertama kali dari dua orang perempuan yang duduk di dekat kami saat istirahat sejenak di Pulau Lengkuas. Keduanya berasal dari kota Bandung juga. Mereka menanyakan tujuan wisata kami. Ada beberapa tempat yang baru saya dengar. Pak Budi dan kami berempat memutuskan untuk berkunjung ke Batu Mentas sebelum pergi ke bandara.

image

Tarsius didalam kandang masih malu-malu saat kami Pak Budi dan Inong menghampiri. Inong segera memotret hewan kecil berekor panjang dengan mata membelalak seperti Koala ini. Tubuh seukuran tikus menempel di pohon.

image

Menurut penjaga warung yang berasal dari Baduy, pemilik Batu Mentas sama dengan pemilik Pulau Kepayang. Namun pengelolaannya terlihat berbeda sekali. Ada beberapa perlengkapan outbond terlihat menghubungkan pohon-pohon di lokasi wisata tersebut. Kami bergegas menuruni tangga-tangga lebar yang belum terpasang dengan baik untuk menyaksikan wahana river tubing di Batu Mentas.

image

Air jernih mengalir di antara bebatuan besar yang serupa dengan bebatuan di pulau Batu Layar. “Kayaknya ada letusan gunung berapi yang sangat dahsyat yang memuntahkan batuan besar di masa lalu,” kataku sambil melepas sandal. Nyes. Air dingin merendam kedua kakiku. Alhamdulillah. Kami berjalan mengikuti Pak Budi menyusuri sungai yang jernih yang memiliki pasir di dasarnya. Keringat mengucur di seluruh badan kami. Rupanya jalan pintas keluar dari area ini sudah terlewati. Kami putuskan kembali ke jalan yang sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s