Tim Pokja Penanganan Perdagangan Orang dan Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan

Pertemuan perdana Tim Pokja Rehabilitasi Sosial Penanganan Trafficking dan Kekerasan Terhadap perempuan dan anak dibuka oleh Dirjen Rehabilitasi Sosial dan difasilitasi Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Susila, Pak Sonny. Kami duduk di kursi dengan meja bertuliskan nama masing-masing. SK dari Mensos dan buku panduan sudah tersedia dalam map. Daftar absen pun mulai beredar.

Perkenalan kembali anggota Tim berarti menyimak kembali profil masing-masing anggota dan segala praktik baiknya. Pak Sonny menyimak dengan tekun. Paparan mengenai Tim dan draft usulan agenda kegiatan Tim menjadi pokok bahasan dalam pertemuan perdana. Setelah panjang lebar mendengarkan masing-masing anggota mengelompokkan diri sesuai minat masing-masing. Saya memilih rekomendasi kebijakan yang berpihak pada korban dan para penyintas trafficking dan kekerasan terutama anak dan perempuan.

Mbak Khofifah hadir di penghujung acara. Ada persoalan perbudakan yang ditemukannya ketika mengunjungi putra-putrinya yang sedang belajar di Malaysia. Beberapa kali Mbak Khofifah memanggil namaku setelah permisi pada anggota lainnya. Ini dilakukan karena penanganan para penyintas disana hanya bisa melalui CLC yang didirikan Kemdikbud di ladang-ladang tersebut.

image

Segera kukirim sms ke direktur Dikmas, Pak Wartanto, Kasubdit program dan evaluasi Direktorat Pembinaan PKLK ditjen Dikmen, Mas Menteri dan Staf khusus bidang pemangku kepentingan. Respon cepat dari Pak Wartanto dan Bu Lilik kusampaikan langsung. Kami mengakhiri pertemuan dengan foto bersama.

Mulai Beraksi

SK Mensos mendorongku untuk segera menindaklanjuti temuan Fany dari 123eduforkids dan Komune Raka Pare serta SeKAM di Bandung. Lebih dari 20 anak perempuan terpaksa menerima dinikahkan kepada lelaki yang tak dikenal karena hamil setelah mengalami pemerkosaan masal oleh geng motor. Informasi ini masih ditelusuri Ksatria dan Dina dari SeKAM.

Di kota lain, relawan Forum Indonesia Pintar berjuang mendampingi anak yang terancam putus sekolah padahal sudah menerima KIP. Kedua pwrsoalan tersebut segera ditindaklanjuti dengan menghubungi pihak-pihak terkait di Kemdikbud dan Kemsos.

Masih banyak yang perlu diperjelas. Kenyataan bahwa restrukturisasi memmperlamban.layanan publik ternyata bukan sekedar isapan jempol.
Perlu duduk bersama untuk memastikan negara benar-benar hadir bagi mereka yang terpinggirlan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s