Rasa Hormat

Jarum pendek sudah menunjuk angka 3 saat aku menginterupsi giliran paparan dari Kang Dedi. Sudah lama kami tidak saling bertemu muka. Guru budget tracking KerLiP ini memberikan apresiasi yang luar biasa saat membuka Ensiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual yang kutunjukkan. “Ini masterpiece!” seru Kang Dedi. Ia membaca beberapa bagian dan menunjukkan kekagumannya terhadap karya perdana Binar.

Hari ini FGD pertama kajian Perencanaan Penganggaran Responsif Anak yang dipimpin Mbak Suharti Bappenas.  Zamzam, konsultan PPRA, juga mengundang Pak Kamsol, Bu Lilik dan Pak Fasli hadir dalam FGD. Aku dan Zamzam memutuskan pergi lebih dulu meninggalkan Pak Kamsol dan Pak Fasli yang bersiap makan siang di Pacific Place. Tadi pagi kami bertemu dengan Mbak Rani, ketua umum Sahabat Kartini di Ritz Carlton lantai 6.

Menabur Bunga

Tiket keberangkatanku terpaksa dipercepat jadi hari Jum’at pk 18 karena ziarah ke Taman Makam Ki Hadjar Dewantara dilaksanakan pada hari Sabtu jam 10. Kami tak sempat menggali lebih jauh paparan komprehensif dari Prof Irwanto dalam FGD PPRA yang sangat menarik. Aku hanya sempat menyampaikan pentingnya satu data basis Bappenas yang dirujuk oleh pemerintah dan pemerintah daerah. Sekilas kusampaikan kesulitan kami ketika membantu Pak Kamsol kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau. Ada perbedaan yang sangat signifikan data pendidikan APK yang disajikan resmi dalam laporan Kemdikbud, Bappenas, dan RPJMD.

Mas Menteri bersama para pejabat eselon 1 Kemdikbud dan Majelis Luhur Tamah Siswa sudah turun dari makam Ki Hadjar dan Nyai Hadjar saat aku menghampiri bu Lilik. Terlihat semua eselon 1, 2 dan 3.Kemdikbud di Taman Makam yang resik terawat. Anak-anak berdiri di lapangan dan pinggir jalan masuk. Puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2015 dimulai dengan ziarah ke makam KHD dan para pahlawan di Yogyakarta. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan langka untuk menabur bunga di makam Bapak Pendidikan Nasional tersebut.

image

Pagi itu setelah menyimak sambutan dari Ketua Majelis Luhur Taman Siswa, Prof. Sri Edi Swasono, Mas Menteri menyampaikan bahwa para pahlawan adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya. Mereka hidup hanya 60-70 tahun tapi nilai-nilai yang diwariskannya terus hidup. Mas Menteri pun menyeru para peserta didik Taman Siswa agar berani melampaui mimpi berbakti untuk negeri seperti para pahlawan bangsa.

Seluruh praktik baik pemenuhan hak pendidikan anak yang dikemas bersama Litbang KerLiP rasanya mendapatkan justifikasi dalam 7 asas perjuangan pendidikan Taman Siswa. Empat diantaranya memperkuat konsep Pendidikan Anak Merdeka yang kami kembangkan di beberapa sekolah mitra KerLiP. Aku membacanya pertama kali dari buku yang ditulis Bapak Yusuf Samiharso. Keempat asas perjuangan KHD menjadi rujukan utama dalam artikelku yang diterbitkan Kompas.

Sapa Akrab

Penuh rasa hormat kusambut tangan Mas Menteri yang menyalamiku dengan hangat dan menyapa dengan akrab, “Mbak Yanti, kapan datang?”. Sapa akrab Mas Menteri kembali hadir ketika melihatku berdiri menunggu seusai acara dengan Mata Najwa tadi malam.

Alunan lagu abadi dari KLA baru saja selesai. Lampu-lampu studio yang dipasang di sekitar Benteng sudah dimatikan. Aku berjalan disamping Mas Menteri dan mbak Feri, istrinya. Isu Dewan Pendidikan Nasional menjadi pembuka obrolanku terkait gerakan semesta pendidikan yang sedang dan akan terus digiatkan bersama keluarga-keluarga peduli pendidikan. Mas Menteri menanggapi dengan sungguh-sungguh. Keberatannya tentang bendera-bendera baru dan harapannya untuk memperbanyak substansial segera kuteruskan kepada sahabat-sahabat Gerakan Indonesia Pintar. Beberapa catatan penting untuk tindak lanjut obrolan singkat ini sudah diteruskan kepada Mas Chozin.

Cukup alot meyakinkan bu Lilik untuk menunggu pertemuan informal dengan Mas Menteri tadi malam. Aku menjelaskan beberapa poin penting yang akan disampaikan di sela-sela kesibukan Mas Menteri. Bu Lilik bersikeras memintaku menunda obrolan ini esok hari saat jalan pagi bersama karena hari sudah jelang tengah malam.

Alhamdulillah ada 3 hal penting yang akan segera kami tindaklanjuti dalam rapat pengurus Gerakan Indonesia Pintar tanggal 28 Mei saat Pak Kamsol.ke Jakarta. Bu Lilik berulang kali menyampaikan apresiasinya menyaksikan kesabaran dan keuletanku. Kami juga saling berbagi pengalaman yang menakjubkan selama berkegiatan di Yogyakarta.

Kini aku sudah kembali ke rumah menjemput impian dalam balutan kasih sayang keluarga dan sahabat-sahabat tercinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s