Menyayangi Anak

Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika membuat Bandung terasa makin indah dengan keberhasilan walikota Bandung menggerakkan warga dengan semangat udunan (gotong royong). Sayang sekali, pekerjaanku di ibukota tak bisa ditinggalkan untuk menikmati perhelatan besar yang melibatkan berbagai pihak dan menghadirkan pemimpin dari berbagai negara.

image

Indahnya Persaudaraan

Pagi tanggal 18 Mei, aku sudah duduk di barisan depan bersama ananda Allisa bersiap menyimak orasi kebudayaan yang akan disampaikan Mendikbud. Tidak lama kemudian ananda  Zakky yang mengantar kami ke Gedung Indonesia Menggugat, tiba kembali setelah menyelesaikan kegiatannya di kampus. Satu per satu staf dan ajudan Mendikbud yang kukenal baik mampir menyalamiku di tempat duduk. Mas Eko, salah satu staf Mendikbud  mengajakku untuk menemui Mas Anies di ruang tunggu.

Baru saja aku berjalan menuju ruang tunggu, terlihat mas Anies berjalan di kerumunan. Kami pun bersalaman. Suasana hangat persaudaraan dengan jabat erat saling menguatkan mengingatkanku akan filosofi penari tango yang pernah Mas Anies sampaikan dalam pertemuan terakhir kami beberapa bulan yang lalu. Semangat untuk saling mendoakan dan memperkuat upaya perbaikan sistem pendidikan nasional kembali membara.

image

Anak-anakku sangat bahagia bisa berfoto bersama Mendikbud yang memeluk mereka satu per satu dengan penuh kasih sayang. Alhamdulillah, indahnya persaudaraan.

image

Mendahulukan Anak

Puncak peringatan 60 tahun KAA bertepatan dengan hari lahir Mas Herry, suamiku yang ke-46. Sejak pagi kami kehilangan kontak. Tiba-tiba ada kabar putra angkat kami yang baru berusia 6 bulan.di Kabupaten Bandung masuk rumah sakit karena kejang dan membiru.
“Zam, tolong gantikan ibu hadir di rakornas ya. Sampaikan kepada Mbak Khofifah jika ibu terpaksa membatalkan kehadiran dalam Rakornas untuk menerima tugas sebagai anggota Tim Pokja Penanganan Korban Trafficking dna Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak.” Ujarku kepada Zamzam, Direktur Litbang KerLiP.

Aku pun meminta Toni, sopir kami untuk bergegas pulang ke Bandung setelah memastikan Zamzam bisa hadir di Rakornas Kemsos selepas Jum’atan.  Baru saja keluar dari perpustakaan Kemdikbud, ada sms masuk. Ternyata Mas Herry sedang berada di Puncak Bogor. Ada beberapa hal serius terkait sumber penggajian karyawan yang harus kami bahas bersama. Akhirnya kuputuskan untuk mengambil jalan pulang melalui Puncak Bogor sambil.menyimpan rasa sesal karena tidak dapat memenuhi janji untuk hadir dalam Rakornas Kemsos.

Kabut menyelimuti Puncak saat aku tiba di tempat Mas Herry memarkir kendaraannya. Aku pindah mobil dan meminta Toni untuk pulang duluan memastikan anak kandungnya yang juga putra angkat kami mendapatkan penanganan yang baik di rumah sakit. Kabar dari Zamzam menambah rasa penyesalanku. Apa boleh buat, aku sudah memutuskan untuk mendahulukan anak kami.

Kami membahas banyak hal dan menelpon beberapa kolega sambil menikmati perjalanan pulang menuju Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s