Belitong Negeri Laskar Pelangi #MYAF #3

Bangunan kayu yang sudah hampir rubuh yang menjadi tujuan pertama wisatawan Belitong ternyata hanya ditopang 2 batang kayu besar. Ada dua ruang belajar lengkap dengan bangku dan meja. Inilah SD Muhammadityah Gantong tempat belajar anak-anak dalam film fenomenal Laskar Pelangi.

Pak Budi, sopir travel kenalan Ama membawa kami ke Literary museum yang didirikan Andrea Hirata di Manggar. Buku Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata tidak hanya diabadikan di Museum Kata namun sudah mulai menggerakkan perekonomian dunia. Tulisan Belitong Negeri Laskar Pelangi pun terlihat dimana-mana. Kaos, buku, magnet kulkas, gantungan kunci, penanda pantai Tanjung Putih, bahkan menjadi pendorong tumbuhnya patiwisata di Belitong dan Belitong Timur.

Pak Budi bercerita banyak tentang pembangunan yang begitu pesat di Bangka Belitong. Tanah di sekitar pantai yang dulu dijual murah karena rasa takut pasca tsunami Aceh, kini melambung tinggi. Dalam 10 tahun terakhir hotel pun bertambah 6 kali lipat. Industri pariwisata Belitong pun tumbuh bersama rakyat. Menurut Pak Budi, kepemimpinan Ahok yang dilanjutkan oleh adiknya tak terlepas dari kedermawanan ayahnya. Seingat saya, Ahok membawa praktik-praktik baik dari Bangka Belitong ke DKI Jakarta. Pendidikan berkualitas dan bebas biaya menumbuhkan budaya yang menunjang peningkatan pariwisata di Belitong.

“Lihat, Bu! Disini benar-benar aman,” kata Pak Budi sambil.menunjuk motor-motor yang diparkir di halaman rumah penduduk di pinggir jalan. “Ibu lihat kunci masih tergantung, tak ada yang akan mencuri motor itu,” katanya dengan bangga.
image

“Ahok membangun gedung perpustakaan dan gedung-gedung pemerintahan di sepanjang jalan ini,” imbuh Pak Budi. Kami diajaknya mampir di Pantai Serdang sebelum menikmati keindahan alam Tanjung Putih tempat Ikal dan teman-teman Laskar Pelangi tumbuh dan bermain di alam terbuka.
image

Dari Pantai Laskar Pelangi ini kami pergi berburu sunset di Bukit Berau. Perut sudah terisi makanan khas Belitong sejak pagi di Mie Atep lalu makan siang di Restoran pinggir pantai yang menawan. Sambal khas Belitong, udang bakar, bihun goreng seafood dan gangan ikan menjadi menu pilihan kami kemarin siang di tempat makan yang asri di pinggir pantai. Pak Budi juga sudah memesan tempat makan malam di Timpok Duluk, tempat yang menjadi tujuan para wisatawan di Belitong. Kami tak jadi memesan nasi Dulang makanan khas Belitong yang ditawarkan di restoran tersebut karena perut masih terasa penuh.

Belitong yang menawan

Peta Belitong terpampang di dinding lobby Green Tropical Hotel tempat kami.menginap.
image

Penataan yang apik dengan kolam renang dan taman-taman asri serta kamar di dalam guest house yang terbuat dari kayu rasanya melebihi harapan kami. Alhamdulillah. Ini benar-benar liburan Idaman bersama sahabat-sahabat lama di Kepulauan berbatu nan elok.

Pagi hari kedua kami bersiap untuk menjelajah pulau Pasir, Batu Berlayar, Lengkuas dan Pulau Kepayang. Pak Budi menyediakan diri mengambil foto-foto menarik sambil mengurus sewa perahu, pelampung dan alat snorkling.
image

Perahu-perahu motor berderet di pulau Batu Berlayar menunggu para penumpang yang mengambil foto bergantian. Teman Pak Budi memberikan 3 bintang laut besar menemani kami berfoto sebelum kembali menambatkan perahu di pulau Pasir. Terlihat beberapa tombongan wisatawan sedang menikmati pasir putih dan beningnya air laut yang mengelilingi pulau Pasir. “Nah, disini tempat foto sambil loncat. Ibu-ibu pasti sudah tak sabar untuk berendam jug ya,” kata Pak Budi sambil membantu kami turun dari perahu setibanya di pulau Pasir. Cukup lama kami bercengkerama bersama. Penataan gaya berfoto dari Pak Budi menjadikan liburan kami makin asyik. Kami pun hanyut dalam keindahan alam.

image

Perahu yang dinaiki rombongan wisatawan lain mogok di tengah jalan menuju Pulau Lengkuas. Pengemudi perahu kami memberi isyarat kepada perahu temannya untuk membantu menarik perahu motor tersebut ke pulau Lengkuas. Setelah menambatkan perahu yang mogok itu di Pulau Lengkuas, kami bersiap untuk snorkling.

Sayang sekali aku masih terserang panik. Kaki kananku kram begitu menyentuh air laut disamping Pak Budi. Ama berkali-kali menenangkanku. Aku pun memutuskan untuk kembali naik sebelum menyulitkan Pak Budi. Ikan berwarna-warni terlihat cantik memburu remah-remah kue yang kami beli sebelum naik perahu. Ama, Inong, Pak Budi berkali-kali meyakinkanku untuk snorkling menikmati terumbu karang di Belitong. Aku tak bergeming.

image

Kami mampir agak lama di Pulau Lengkuas, menunggu Inong yang mendadak pusing sampai terjatuh ke laut saat naik setelah snorkling. Penjual batu akik berhasil dibujuk naik mengambil kepala hijau untuk meredakan pusing Inong. Feby terlihat asyik memilih batu akik yang dijual di pinggir pantai. Ia membeli 1 buah batu Kinyang untuk suaminya tercinta. Niat hati menaiki mercusuar terobati dengan foto-foto di atas batu tepi pantai. Pak Budi kembali menata gaya kami. Satu per satu kami memeluk mercusuar dalam foto.

Makan Enak di Pulau Kepayang

image

“Disini kita bisa minum teh atau kopi panas sepuasnya sambil menunggu makanan siap,” ujar Pak Budi sebelum bergegas mencari tempat duduk untuk kami berlima. Restoran sudah dipenuhi rombongan wisatawan domestik dan beberapa wisatawan asing.

image

“Jangan disini, ah! Takut ada ulat,” kata Ama saat ibu penjual mempersilakan kami duduk di kursi dibawah pohon. Kami pun pindah tempat. Aku sempat memotret beberapa sudut pemandangan yang menarik di pantai Pulau Kepayang. Ada perahu berderet di tepi pantai depan tempat kami makan. Semua bangku didepan penanda konservasi Kepayang terisi penuh. Kami menikmati pemandangan alam yang indah sambil menunggu makanan dihidangkan.

image

Perut lapar gayung bersambut dengan cita rasa makanan yang pas di lidah membuat kami makan dengan lahap. Apalagi setelah tahu harganya sangat murah. Kami hanya menghabiskan Rp 75.000 per orang dengan menu ikan Kue panggang, udang bakar, kangkung bumbu terasi, dan gangan.

Kami tak melewatkan sempatan menikmati deburan ombak di Pulau Kepayang sebelum perahu kembali membawa kami ke Pulau Belitung.

Alhamdulillah…

Advertisements

Anugerah dari Laskar Pelangi #MYAF #2

Alhamdulillah…pesawat yang membawa kami mendarat dengan mulus di bandara H. AS. Hanandjoedin. Pesawat dipenuhi rombongan berseragam. Ada yang biru muda bertuliskan Belitong, merah, dan abu-abu. Libur Hari Raya Waisyak yang jatuh pada tanggal 2 Juni hari Selasa dimanfaatkan banyak komunitas, termasuk kami empat sekawan MYAF.

image

Pak Budi, kenalan Ama, sudah siap membawa kami ke Tanjung Tinggi. Sepanjang perjalanan kami berempat tak henti memuji jalan-jalan mulus di Belitong.

image

Mie Atep

Bis berjejer didepan warung mie yang menjadi tujuan pertama wisatawan Belitong. Tangan-tangan ibu penjual mie atep terlihat lincah membagi tauge lalu mie kuning diatas piring. Semua bangku terisi penuh. Kami pun menunggu antrian.

image

“Gula merah jahenya pas,” kata Pak Budi. “Cita rasa manisnya dari udang, ya, Pak?” tanya Feby. ” kuahnya kayak lo mie ya, ” imbuh Inong.
Kami bersahut-sahutan mengomentari mie Belitong Atep yang terkenal. Muka-muka orang terkenal terpampang di  dinding. Ibu pemilik warung bersama para pembantunya sibuk menyiapkan makanan pesanan pelanggan.

Museum Kata

image

“Kami sudah 3 kali kesini, baru kali ini bertemu langsung dengan Andrea Hirata,” ujar salah seorang ibu dari rombongan wisatawan berseragam kaos biru muda. Kami berempat sangat beruntung. Bukan hanya bertemu Andrea tapi juga mendapat kehormatan didampingi Andrea untuk mengenal museum kata lebih jauh.

“Maaf sebentar ya, saya senang disini ada alumni ITB. Saya akan menemani mereka dan menjelaskan isi museum ini. Besar harapan saya menerima banyak ide untuk mengembangkan literary museum ini. Saya tidak perlu sumbangan uang. Royalti saya cukup koq.”kata Andrea sambil mengajak kami berkeliling. “Ini window on words. Sayang sekali para pengunjung lebih banyak foto-foto disini. Lebih parah lagi jendelanya sambil ditutup. Padahal disini terpampang karya-karya sastra dunia. Literary museum di kota kecil ini yang pertama di Indonesia. Dua tahun saya belajar tentang Literary Museum. Di salah satu negara bagian USA bahkan ada 129 an literary museum,” Andrea mulai menjelaskan museum katanya. 

image

Para pengunjung berkerumun mengikuti Andrea Hirata. “Wah kebetulan sekali. Ini anak-anak asuh saya. Ada 40 anak yang belajar di sekolah gratis. Ayo nyanyi Laskar Pelangi bersama-sama.” Andrea mengajak anak-anak berseragam batik SD yang datang menghampirinya.

image

Anugerah pertama dari Laskar Pelangi begitu memikat. Kami kembali mengambil foto di berbagai sudut museum kata milik Andrea Hirata. Awal liburan yang menyenangkan.

Tim Pokja Penanganan Perdagangan Orang dan Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan

Pertemuan perdana Tim Pokja Rehabilitasi Sosial Penanganan Trafficking dan Kekerasan Terhadap perempuan dan anak dibuka oleh Dirjen Rehabilitasi Sosial dan difasilitasi Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Susila, Pak Sonny. Kami duduk di kursi dengan meja bertuliskan nama masing-masing. SK dari Mensos dan buku panduan sudah tersedia dalam map. Daftar absen pun mulai beredar.

Perkenalan kembali anggota Tim berarti menyimak kembali profil masing-masing anggota dan segala praktik baiknya. Pak Sonny menyimak dengan tekun. Paparan mengenai Tim dan draft usulan agenda kegiatan Tim menjadi pokok bahasan dalam pertemuan perdana. Setelah panjang lebar mendengarkan masing-masing anggota mengelompokkan diri sesuai minat masing-masing. Saya memilih rekomendasi kebijakan yang berpihak pada korban dan para penyintas trafficking dan kekerasan terutama anak dan perempuan.

Mbak Khofifah hadir di penghujung acara. Ada persoalan perbudakan yang ditemukannya ketika mengunjungi putra-putrinya yang sedang belajar di Malaysia. Beberapa kali Mbak Khofifah memanggil namaku setelah permisi pada anggota lainnya. Ini dilakukan karena penanganan para penyintas disana hanya bisa melalui CLC yang didirikan Kemdikbud di ladang-ladang tersebut.

image

Segera kukirim sms ke direktur Dikmas, Pak Wartanto, Kasubdit program dan evaluasi Direktorat Pembinaan PKLK ditjen Dikmen, Mas Menteri dan Staf khusus bidang pemangku kepentingan. Respon cepat dari Pak Wartanto dan Bu Lilik kusampaikan langsung. Kami mengakhiri pertemuan dengan foto bersama.

Mulai Beraksi

SK Mensos mendorongku untuk segera menindaklanjuti temuan Fany dari 123eduforkids dan Komune Raka Pare serta SeKAM di Bandung. Lebih dari 20 anak perempuan terpaksa menerima dinikahkan kepada lelaki yang tak dikenal karena hamil setelah mengalami pemerkosaan masal oleh geng motor. Informasi ini masih ditelusuri Ksatria dan Dina dari SeKAM.

Di kota lain, relawan Forum Indonesia Pintar berjuang mendampingi anak yang terancam putus sekolah padahal sudah menerima KIP. Kedua pwrsoalan tersebut segera ditindaklanjuti dengan menghubungi pihak-pihak terkait di Kemdikbud dan Kemsos.

Masih banyak yang perlu diperjelas. Kenyataan bahwa restrukturisasi memmperlamban.layanan publik ternyata bukan sekedar isapan jempol.
Perlu duduk bersama untuk memastikan negara benar-benar hadir bagi mereka yang terpinggirlan