OPERA Obrolan Pendidikan Ramah Anak 01

Penggunaan stopmotion yang unik dalam presentasi Sekolah Ramah Anak yang disajikan Syahna Rahmah mengundang keinginan belajar sahabat-sahabat yang hadir dalam OPERA perdana tadi sore.
“Ayo kita buat yang seperti ini untuk di STKS nanti,”  terdengar bisikan Dina kepada Yurika sesama pegiat pendidikan anak jalanan di komunitas Sekolah Kecil Anak Merdeka (SeKAM). “Syahna, ibu mau belajar dong!” Ujar Bu Nia.

Sebelum presentasi Syahna, kami memulai pertemuan dengan obrolan menarik tentang kegiatan relawan lab dan anak-anak yang tumbuh bersama bu Nia dengan kekhasan masing-masing. Allisa Putri Maryam masih demgan senyum simpulnya menjawab beberapa pertanyaan seputar kegiatan yang mengasyikkan selama mengikuti WCDRR di Sendai.

 

Satu persatu hadir memenuhi karpet hijau yang digelar didepan TV. Kami pun saling memperkenalkan diri.

image

Syahna menutup presentasinya dengan menjelaskan Forum Anak Daerah Jawa Barat dan aktivitas terkini sebagai ketua FAD Jabar.  Kehadiran Sasha dari Superkids atas rekomendasi Bu Tini dari GSSI menyemarakkan suasana. Berbagai event dan kepiawaiannya menulis buku-buku untuk anak dan Solo child-friendly city disampaikannya dengan gembira. Sasha merasa menemukan tempatnya bisa hadir dalam OPERA hari ini.

OPERA makin menarik saat menyimak penuturan Fatimah dari SOS village. Ia hadir bersama Yulia. Berbagai fasilitas yang diterimanya dari SOS Village sejak usia 2 tahun hingga kini 20 tahun membuat kami berdecak kagum. Masya Allah sungguh beruntung Fatimah mendapatkan kesempatan untuk menikmati ragam kegiatan les bahkan sampai belajar menjadi juara atletik dari atlet profesional tingkat ASEAN. Tangis haru dan bahagia Fatimah karena rasa syukur yang mendalam tumbuh dalam dampingan SOS Village tak tertahankan. Kami pun turut bersyukur.

image

Menyusul kemudian perkenalan Yulia peserta didik SMK Farmasi yang mengaku baru 2 tahun bergabung di SOS Village. “Saya menyampaikan kepada ibu untuk membawa adik kembar saya ke SOS Village karena berbagai kekerasan yang kami alami.” Ujar Yulia dengan air mata bercucuran.

Sungguh beruntung kedua anak yang datang dari Lembang hadir membawa  kisah kasih yang tak lekang oleh waktu dari pendiri SOS Village. “Ayo bu, kita harus berkunjung ke SOS village,” ujar bu Nia setelah mendengar penuturan Fatimah dan Yulia.  “Kamis.depan kita ke Lembang ya,” jawabku.

Rintisan kelas ramah anak

Suara bu Nia Kurniati terdengar tercekat menahan haru saat menuturkan perjalanannya tumbuh bersama KerLiP sejak 2010. “Pada awalnya saya bertanya-tanya ketika mengetahui KerLiP hadir membawa konsep sekolah aman. Saya pikir barang apalagi ini? Rasanya sekolah kami aman-aman saja. Namun ternyata banyak hal yang menarik ketika KerLiP mengintegrasikan penerapan sekolah aman dengan praktik-praktik baik sekolah sehat lalu green school. Lebih asyik lagi saat aktivitas anak-anak yang saya bina di KIR ternyata sejalan dengan penerapan sekolah aman. Saat itu ada 1 anak binaan saya yang sudah menjadi youngchangemaker Ashoka. Kemudian KerLiP mengenalkan Sekolah Ramah Anak. Wah apalagi ini? Saat itu sekolah kami sudah mulai memfasilitasi terbentuknya komunitas-komunitas anak. Bahkan anak-anak kami juga sudah memfasilitasi guru untuk menyusun MBS peduli.anak. ” tutur bu Nia

Rupanya pemenuhan hak dan perlindungan anak di sekolah melalui penerapan Sekolah Ramah Anak mendapat tantangan besar. “Ini sekolah ramah anak tapi anak-anak koq tidak ramah!” Ujar beberapa guru. Puncaknya saat anak yang menjadi ketua Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Aman diperintah untuk meminta maaf kepada 100 guri satu per satu karena dianggap tidak ramah. Bu Nia melanjutkan penuturannya.

Sejak saat itu bu Nia memutuskan untuk mencari cara agar dapat menerapkan hak-hak dasar anak: hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi. Akhirnya setelah lama tidak bertemu, bu Yanti mengajak  untuk memulai kelas ramah anak. “…..saya sangat menyesal. Seandainya saya tahu bahwa orangtua hanya menghargai hasil.belajar anak dari nilai, saya akan memberi nilai yang besar kepada anak itu. Kini saya menyerahkan sepenuhnya kepada anak-anak untuk menentukan point reward yang diterima saat berani menyampaikan pendapat atau bahkan hanya menyatakan setuju untuk satu pendapat tertentu. Hasilnya kami urut dari yang terbesar ke yang terkecil. Score ini akan menambah perolehan nilai ulangan anak. Anak-anak terlihat lebih senang belajar. Memang nilai mereka masih do re mi. Tantangan terbesar bagi guru adalah menyelenggarakan proses pembelajaran yang menyenangkan dengan mempertimbangkan KKM yang harus dicapai anak. Guru dituntut untuk terus belajar menjadi motivator, fasilitator bahkan mediator untuk menghubungkan minat anak dengan network yang sesuai.” Bu Nia menegaskan setelah tangis  penyesalannya mereda.

image

Bu Nia…guru yang sangat inspiratif yang tak pernah kuasa menahan haru saat menuturkan perjalanannya mendidik anak-anak bangsa. Ia menegaskan bahwa penting bagi guru untuk teruz memelihara passion nya dalam mendidik dan mengajar di kelas.

Kata Kita tentang Sekolah Ramah Anak

Adzan magrib sudah berkumandang dari masjid belakang rumah saat semua sahabat yang hadir di OPERA perdana ini menuliskan minimal 100 kata tentang Sekolah Ramah Anak.

image

Berbagai inspirasi yang mengharubirukan perasaan berjalin dengan gagasan, harapan dan penetahuan masing-masing.
Kertas berisi tulisan semua sahabat dikumpulkan dan siap discan serta diketik ulang oleh teh Iwang.

image

Sasha dan Fitry melanjutkan diskusi mengenai event organizer. Kang Iwan dari komunitas Peka dikerumuni Ksatria, Dina, dan Yurika. Syahna melanjutkan kegiatan Duta Anak bersama Fikom UNPAD. Bu Nia segera pulang dijemput papap yayang suami tercinta.

Diskusi ba’da magrib dilanjutkan bersama Dina, Ksatria  dan Fitry. Ada beberapa perkembangan menarik tentang komunitas Sekam. Insya Allah kegiatan children missing out mapping cmom akan kembali dilaksanakan untuk menemukan dan mengenali anak-anak putus sekolah di lingkungan tempat tinggal atau sekolah anak. Profilling keluarga Tasya dan Sandi siap dilengkapi Dina dan Ksatria. Fitry akan membantu membuatkan LIBRA untuk cmom.

Alhamdulillah…bulan aksi MeSRA telah dimulai. Kami bersepakat untuk menggiatkan #GerakanIndonesiaPintar mulai dengan children missing out mapping dan penguatan jejaring dengan pemangku kepentingan anak.

Insya Allah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s