Menyiapkan Temu Mesra Keluarga Peduli Pendidikan di Ujung Berung Bandung

Mohon maaf Ibu…
Amandemen UUD 1945 khususnya pasal 28 memberi perlindungan bagi setiap warga negara untuk hidup dan menjaga kelangsungan hidup serta tumbuh kembangnya. Khusus untuk anak hanya ada 1 poin saja.

UU Guru dan Dosen pun terbit pada 2005 memberikan perlindungan profesi guru sebagai warga negara yang memiliki hak asasi. Tunjangan profesi diberikan berdasarkan UU tersebut dan nilainya setiap tahun 70 T. Belum termasuk gaji dan tunjangan fungsional yang diterima guru PNS. Saat ini bahkan berdasarkan UU terkait HAM, perbaikan kondisi kerja guru non PNS terus diperjuangkan.

Ujaran kebencian akan HAM ini sudah jadi viral. Saya khawatir Ibu termasuk yang belum menelusuri isinya langsung seperti Kabar Sumatera atau berita2 lainnya yang disebutkan di sana apalagi membandingkan dengan hal-hal baik yang diterima guru-guru setelah HAM diatur dalam UUD 1945 dan amandemennya.

Mari kita hentikan membenturkan perlindungan hak asasi warga negara dan bekerja sesuai tanggung jawab masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Ajakan simpatik ini disampaikan YantiKerLiP saat mengomentari isu viral tentang HAM dari salah seorang kepala sekolah di wag SRA Jabar. Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) tetap konsisten mengawal pemenuhan hak atas pendidikan dan perlindungan  hak anak sebagai bagian penting dalam penegakan HAM di Indonesia. YantiKerLiP adalah perintis dan pengawal setia gerakan keluarga peduli pendidikan yang dikukuhkan di kota Bandung pada 25 Desember 1999. Menjelang ulang tahun ke-18, gerakan ini bersiap mendirikan Kopsya Sahabat KerLiP untuk memayungi Arisan Keluarga Peduli Pendidikan.

Keluarga Peduli Pendidikan

20171126_093938

Pemenuhan hak atas pendidikan bermutu dan bebas pungutan merupakan amanat UUD 1945 dan amandemennya. “Arisan Keluarga Peduli Pendidikan kami gelar untuk menyediakan pustaka sahabat anak di rumah sambil mendukung gerakan literasi sekolah dan MeSRA Bertuah. Namun dalam perkembangannya kami bermaksud memperkuat semangat gotong royong keluarga peduli pendidikan dengan membuka paket-paket arisan lainnya, seperti arisan toilet, sepeda, kue lebaran, bahkan arisan sekolah sambil membantu perbaikan kondisi kerja guru terutama guru honorer. Keluwesan Kopsya yang membuka peluang untuk mendirikan baitul maal menjadi alasan kedua mengapa kami membungkus gerakan keluarga peduli pendisikan dengan Kopsya Sahabat KerLiP, “ujar YantiKerLiP dalam pembukaan pertemuan persiapan Temu MeSRA Keluarga Peduli Pendidikan di SDN Ujung Berung Bandung. Ia menegaskan tentang komitmen KerLiP untuk mengajak seluruh keluarga di kota Bandung memperkuat kemitraan tri sentra pendidikan. Istilah arisan menurut YantiKerLiP digunakan untuk menghindari perdebatan pungutan dan sumbangan serta membuka sekat antara keluarga dan sekolah.

Kampanye dan advokasi pendidikan untuk semua yang digiatkan KerLiP sejak 2002 terus tumbuh bersama meningkatnya kesadaran bangsa indonesia tentang pentingnya pendidikan dalam pemenuhan hak asasi warga negara. Kekhasan gerakan yang dipimpin Ibu dari 3 anak  yang beranjak dewasa ini tak jarang menimbulkan kontroversi. “Salah seorang aktivis perempuan senior mitra KerLiP begitu yakin jika YantiKerLiP adalah PKS  karena bahasa yang digunakannya sehari-hari formal dan kaku. Ia bahkan dengan lantang menyatakan bahwa YantiKerLiP ingin melakukan semuanya. KerLiP tidak memiliki kompetensi untuk menangani korban perdagangan orang dan kekerasan terhadap anak. Perempuan tersebut menyarankan agar saya fokus di pendidikan pencegahan saja, “kata Ekasari, Ketua KerLiP Jabar,  di sela-sela pertemuan tersebut. “Kita tidak akan mampu melakukan apa yang Bu Yanti lakukan. Saya dengar dari ibu Tuti bahwa keluarganya mengerahkan semua sumber daya untuk mendukung gerakan keluarga peduli pendidikan, “ujar Nani, Kepala SDN Ciporeat kepada Endah Guru SDN ujung Berung. Keduanya menjadi panitia Temu MeSRA Keluarga Peduli Pendidikan yang akan dipimpin Ekasari sebagai ketua pelaksana.

Temu Mesra keluarga peduli pendidikan akan dilaksanakan pada Hari HAM, 10 Desember 2017 dengan menghadirkan para fasilitator SRA Nasional dan tokoh-tokoh penerima anugerah Kilau Nusantara. Kepala.SDN Ujung Berung mendukung rencana tersebut dan siap memeriahkannya dengan mengundang seluruh orangtua/wali serta menampilkan 8 ekstrakurikuler juara mereka. Sedangkan Kepala SDN Ciporeat siap menampilkan 2 ekstrakurikuler dan mengerahkan guru-guru terpilih sebagai among tamu. Pengurus komite sekolah di 2 gugus Ujung Berung akan diundang untuk mengikuti acara tersebut. Selain itu, Temu MeSRA keluarga peduli pendidikan juga menyiapkan penandatanganan MoU antara BPJS Ketenagakerjaan dengan Dirjen Dikdasmen Kemdikbud RI. Bapak Wali Kota Bandung akan diundang untuk membuka acara yang akan dihadiri 3.000 keluarga peduli pendidikan.

 

 

 

Kemdikbud Membuat Panduan Sekolah Darurat yang Lebih Komunikatif

.…”Teman-teman pegiat sekolah aman komprehensif membuat 3 modul untuk 3 pilar sekolah aman bencana. Namun modul yang bagus tersebut perlu kami sederhanakan lagi agar lebih user-friendly, tidak banyak istilah asing,  tidak terlalu banyak tulisan”…

20171124_203511.jpg

Kalimat tersebut disampaikan oleh Dr. Praptono, Kasubditprogrev Ditpklk Ditjendikdasmen Kemdikbud dalam pembukaan lokakarya penyusunan panduan PKLK di Surabaya pada 23-25 November 2017. Pak Praptono juga menunjukkan beberapa contoh panduan dan profil yang komunikatif.

“Saya menghapus semua latar belakang dan menggantinya dengan paragraf pendek langsung pada inti masalah. Kondisi sekolah pasca bencana akan disajikan dalam bentuk infografis atau ilustrasi atau foto yang menggambarkan peristiwa terkini. Deskripsi mengenai koordinasi dari pusat ke daerah juga dihilangkan dan digantikan dengan memasukkan matriks prosedur tetap penyelenggaraan sekolah darurat serta standar-standar minimum pemenuhan hak anak atas pendidikan saat darurat bencana, “ujar YantiKerLiP yang menjadi salah satu peserta lokakarya. Ia masuk ke dalam kelompok Sekolah Darurat bersama Doni dari PMI,  Deni ASB, Ani YSTC,  LPBI NU, LPMP Jabar yang difasilitasi Yusra Unicef,  Jamjam Seknas SPAB, dan staf PKLK.

Panduan yang Komunikatif

Komunikasi adalah….Komunikator adalah..Ejaan adalah….

Penyajian materi Bahasa Indonesia pada sesi pertama lokakarya membuat para peserta lokakarya termangu. Hampir semua peserta adalah para praktisi di bidang masing-masing. Mereka terlihat tidak begitu antusias menyimak  Ibu Dosen yang hadir terlambat tersebut. “Kesannya menggurui banget! tanpa menunjukkan contoh yang relevan lagi, “ujar salah seorang peserta.  Peserta lainnya langsung bertanya, “Kami diundang untuk menyusun panduan yang lebih komunikatif. Apakah Ibu dapat menunjukkan contoh panduan seperti yang diharapkan oleh Direktorat? Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Ibu paparkan akan kami rujuk dalam penyusunan panduan ini. Namun kami belum mendapatkan gambaran tentang cara menyusun panduan yang komunikatif dari ibu”.

“Saya diundang untuk menjelaskan penggunaan ejaan yang baik. Contoh panduan yang komunikatif tersedia melimpah di google, “jawaban pemateri kembali membuat peserta termangu. Sesi pertama setelah pembukaan pun ditutup.

Sesi berikutnya dilaksanakan dalam kelompok. Setiap anggota kelompok bersepakat untuk menyusun panduan yang komunikatif dengan tips berikut:

1. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta mudah dipahami pembaca

2. Dilengkapi gambar, ilustrasi,  atau infografis yang relevan dan menarik

3. Buku panduan tidak terlalu tebal. Maksimal 150 halaman

4. Dilengkapi mekanisme dan langkah-langkah praktis untuk menerapkan panduan tersebut.

 

 

 

 

 

SDN 2 Tanjung Lombok Utara Membiasakan Belajar Di Luar Kelas dalam Upaya PPK melalui MeSRA Bertuah

Pendampingan melalui Whatsapp Group (wag) pasca sosialisasi dan pelatihan Sekolah Ramah Anak (SRA) menumbuhkan semangat untuk mengabadikan ilmu dengan  berbagi praktik-praktik baik. “Sampai saat ini lebih dari 600 satuan pendidikan di Deli Serdang tak pernah berhenti membagikan dokumentasi dan narasi praktik baik mereka di wag. Apalagi Sekdisdik dan staf terus memberikan apresiasi dan membuka ruang untuk menunjukkan semuanya bahkan dalam kegiatan nasional seperti Festival Literasi Sekolah di Kemdikbud. Hari ini saya menyaksikan semangat yang sama dari NTB. Praktik baik yang dibagikan SDN 2 Tanjung Lombok Utara langsung saya bagikan ke semua wag termasuk Pak Menteri dan Pak Dirjen Dikdasmen. Respon positif dari Lanny,  staf Direktorat PSD Kemdikbud dan pihak-pihak lainnnya membuat saya makin semangat, “kata YantiKerLiP dalam penjelasan tertulisnya. Ia mengaku menginvestasikan waktu 5-6 jam setiap hari untuk memelihara suasana belajar yang menggembirakan melalui wag dan media sosial lainnya.

PPK dan OCD MeSRA

IMG-20171114-WA0000.jpg

Belajar di luar kelas 90 menit setiap pagi diyakini dapat melakukan pencegahan defisiensi vit D sejak usia anak-anak. Para fasilitatir SRA motra KerLiP berhasil mendorong 1.619 sekolah/madrasah/PAUD mengikuti kampanye OCD (outdoorclassroomday) 7 September 2017. Pendampingan melalui wag mendorong satuan pendidikan tersebut membiasakan aktivitas fisik di bawah sinar mentari pagi dalam upaya PPK melalui OCD MeSRA. Kepala SDN 2 Tanjung Lombok Utara mengemas belajar di luar kelas dengan pembiasaan sebagai bagian penting dari PPK sambil menggiatkan Germas ya..
Hari Senin: hari upacara
Hari Selasa : hari seni
Hari rabu: hari olahraga
Hari Kamis: hari sehat Hari Jum’at: hari imtaq
Hari Sabtu: hari gotong royong
Sebulan sekali melaksanakan sarapan pagi bersama..