Belajar di Luar Kelas Setiap Hari di Sekolah Rujukan, Mungkinkah?

Kegembiraan melaksanakan kampanye belajar di luar kelas pada 7 September lalu masih hangat. Guru dan kepala sekolah anggota wag di setiap daerah masih membagikan foto dan film dokumentasi kegiatan. Banyaj di antaranya yang terpaksa dihapus tanoa dilihat karena full storage. HP pun harus dipantau setidaknya setiap 2 jam untuk mencegah tak berfungsu karena kepenuhan. Data di website https://outdoorclassroomday.com masih terus meningkat. Mbak Lanny dari Direktorat PSD mendaftarkan  452 SD Rujukan di Indonesia dan 130 sekolah piloting PPK 2016 dan Mas Rizal dari PSMA sebanyak 613 SMA Rujukan. Sedangkan 514 SMP Rujukan disampaikan oleh Direktur PSMP.

Besar harapan sekolah-sekolah rujukan ini menjadi pelopor belajar di luar kelas setiap hari selama 90 menit. Bermain bersama teman sebaya di bawah pancaran sinar mentari pagi sepanjang tahun sangat baik untuk tumbuh kembang anak kita. Ribuan sekolah rujukan dengan segala kelebihannya memiliki kesempatan untuk mengembangkan suasana belajar dan pembelajaran di luar kelas guna meningkatkan kompetensi peserta didik secara aktif.

 

387.400 anak Indonesia Bergembira Belajar di Luar Kelas

Kampanye global Outdoor Classroom Day (OCD) atau Belajar di Luar Kelas yang dibawa oleh Deputi Tumbuh Kembang Anak ke Indonesia dan dilaksanakan oleh Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan bersama para fasilitator Sekolah Ramah Anak Nasional terlaksana pada 7 September 2017 di 1.582 satuan pendidikan. “Sebanyak 2.060.073 dari 15.901 sekolah di seluruh dunia merayakan kegembiraan bermain dan belajar di luar kelas menurut data yang disajikan dalam website resmi https://outdoorclassroom.com. Website tersebut kami alihbahasakan dengan dukungan penuh Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPP dan ProjectDirt Inggris,”kata Nurul Fitry Azizah, campaign manager KerLiP.

IMG-20170910-WA0058

Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPPA meluncurkan kampanye OCD di SD Muhammadiyah Metro bersama 1.369 peserta didiknya. “SD Muhamadiyah bersama 29 sekolah/madrasah/SLB di 30 kota/kabupaten di Indonesia mendapatkan dukungan penuh dari kami untuk melaksanakan kampanye OCD. Terima kasih kepada Ibu YantiKerLiP dan tim, Asdep IV, bu Elvi dan staf,  Ibu Tety Ketua Umum DPP FGII dan tim, serta Pak Zamzam yang telah memfasilitasi 30 Sekolah Ramah Anak melaksanakan kegiatan sarapan sehat, adaptasi perubahan iklim fokus anak, melestarikan permainan tradisional, dan penguatan karakter kebangsaan dan cinta tanah air, ” kata Leny Rosalin, Deputi Tumbuh Kembang Anak.

Semua Gembira di Sekolah Ramah Anak

Kampanye dan advokasi Sekolah Ramah Anak terus menguat seiring dengan meningkatnya komitmen multipihak dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak. Penganugerahan SRA pada peringatan Hari Anak Nasional di Pekanbaru menjadi wahana apresiasi terhadap para fasilitator SRA Nasional dan Sekolah/Madrasah masing-masing.  Agenda dua tahunan evaluasi Kota/Kabupaten Layak Anak pada 2017 yang dilaksanakan sebelumnya juga turut mendorong tumbuhnya komitmen pemerintah kota/kabupaten dan provinsi untuk menerbitkan surat keputusan SRA.

Belajar di Luar Kelas bukan hal baru bagi guru-guru di Indonesia. Momentum pelaksanaan serentak dengan  belasan ribu sekolah di seluruh dunia dimanfaatkan untuk percepatan gerakan Sekolan Ramah Anak. Seluruh satuan pendidikan yang dijangkau KerLiP diminta menyiapkan spanduk deklarasi SRA bertuliskan “Saya Anak Indonesia, Saya Gembira, Sayang Semua”. “Sampai saat ini sebanyak 387.400 anak dari 1.582 satuan pendidikan di Indonesia dilaporkan mengikuti kampanye #BelajardiLuarKelas pada 7 September. Kemungkinan akan bertambah karena banyak sekolah yang menyusul mendaftar di https://belajardiluarkelas.org, “kata Fitry. Ia menjelaskan model kampanye dan advokasi a la KerLiP yang digunakan untuk mencapai target minimal 1.000 sekolah dengan 200.000 peserta didik.

 

Testimoni para peserta didik tersebut mewakili ratusan ribu testimoni anak-anak yang merayakan kegembiraan di luar kelas. Foto dan dokumentasi yang ditayangkan setiap sekolah penyelenggara di youtube dan whatsappgroup menunjukka  bahwa semua pihak yakin bisa bergembira mewujudkan Sekolah Ramah Anak dengan cara sederhana namun sarat makna. Kegembiraan ini juga dirasakan oleh guru, kepala sekolah, dan orang tua. Semua gembira di Sekolah Ramah Anak.

Apa yang dilakukan KerLiP?

Obrolan Pendidikan Ramah Anak (OPeRA) antara Tyas dan YantiKerLiP menjelaskan apa saja yang dilakukan KerLiP sebagai pelaksana kampanye global ini di Indonesia.

[09/09, 21:26] Rahayu Ningtyas Borneo: Di pangkalan Bun tidak ada sosialisasi terkait ocd
[09/09, 21:27] Yanti KerLiP: Kampanye ini salah satu upaya sosialisasi
[09/09, 21:28] Yanti KerLiP: Di daerah lain juga digiatkan oleh sekolah/madrasah/slb/Paud nya mbak
[09/09, 21:28] Yanti KerLiP: Mereka mengundang multipihak secara mandiri
[09/09, 21:29] Yanti KerLiP: Sahabat KerLiP setempat menghubungkan antar pihak spt yg dilakukan di Pangkalan Bun
[09/09, 21:29] Rahayu Ningtyas Borneo: Maksudnya di sini, dari dinas terkait tidak ada yg sampaikan , seperti yg ibu sampaikan waktu lalu bahwa hal tsb juga dilakukan di sekolah lain. Tapi sikon nyata di sini tidak ada
[09/09, 21:29] Yanti KerLiP: Oh di tempat lain juga ngga ada
[09/09, 21:30] Yanti KerLiP: Inisiatif ini murni dari Deputi Tumbuh Kembang Anak dibantu KerLiP lalu ajak FGII untuk menjangkau banyak pihak
[09/09, 21:30] Rahayu Ningtyas Borneo: Dengan adanya sahabat kerlip di sini, mereka ikut senang
[09/09, 21:30] Yanti KerLiP: Itupun hanya 30 sekolah/madrasah/SKB yg bisa dibiayai
[09/09, 21:31] Yanti KerLiP: Yg lainnya benar2 kerja keras sahabat-sahabat KerLiP dari berbagai pihak melalui wag dan menjangkau langsung ke sekolah atau disdik atau bupati/walikota dan media
[09/09, 21:31] Rahayu Ningtyas Borneo: Terima kasih ada perhatian dari ibu untuk rekan2 pendidikan di Pangkalan Bun
[09/09, 21:32] Rahayu Ningtyas Borneo: Mereka sangat bangga
[09/09, 21:32] Yanti KerLiP: Di Bandung ada bu Ekasari ketua DPD KerLiP yg bantu Fitry sebagai campaign manager
[09/09, 21:32] Yanti KerLiP: Alhamdulillah
[09/09, 21:32] Yanti KerLiP: Dibantu bu Yayoek
[09/09, 21:32] Yanti KerLiP: Ada 375 sekolah yang mendaftar dan menyelenggarakan mandiri
[09/09, 21:33] Yanti KerLiP: DPC KerLiP Bandung audiensi dengan Kadisdik alhamdulillah menerbitkan surat edaran dan menggerakkan struktural termasuk para pengawas untuk mendokumentasikan OCD
[09/09, 21:33] Yanti KerLiP:  Deli Serdang juga keren lho
[09/09, 21:34] Yanti KerLiP: DPD KerLiP Sumut sampai berhasil meyakinkan 90 kepala sekolah dan Kadisdik serta stafnya ke Bandung
[09/09, 21:34] Rahayu Ningtyas Borneo: Wow
[09/09, 21:34] Yanti KerLiP: Utk studytiru Sekolah Ramah Anak sekaligus workshop singkat dan technical meeting OCD
[09/09, 21:34] Yanti KerLiP: Iya Mbak..mereka minta saya sendiri yg terima delegasi
[09/09, 21:34] Yanti KerLiP: Saya meminta Kadisdik kota Bandung berkenan hadir menerima delegasi tersebut di salah satu sekolah yang direkomendasikan Kabid Program untuk dikunjungi 
[09/09, 21:35] Yanti KerLiP: Pak Ir, fasilitator SRA Nasional yang juga Satgas SRA Jabae membantu menyiapkan sekolah yang akan dikunjungi
[09/09, 21:35] Yanti KerLiP: Alhamdulillah 252 sekolah mendaftar OCD dan mendeklarasikan MeSRA Bertuah  Mewujudkan Sekolah Ramah Anak Bersama Orang Tua dan Sekolah
[09/09, 21:35] Rahayu Ningtyas Borneo: 👍👍👍👍[09/09, 21:35] Yanti KerLiP: Tanpa support apbn dan apbd kecuali 1 sekolah piloting
[09/09, 21:36] Yanti KerLiP: Lampung ada 2…
DPD KerLiP Lampung bu Dr. Sowiyah sangat aktif
[09/09, 21:36] Rahayu Ningtyas Borneo: Kesadaran sudah sangat untuk memberikan hal terbaik untuk anak
[09/09, 21:36] Yanti KerLiP: Metro dan pringsewu berhasil ajak 80 sekolah
[09/09, 21:36] Yanti KerLiP: Alhamdulillah bu deputi berkenan meluncurkan OCD di Metro
[09/09, 21:36] Yanti KerLiP: Tadinya staf khusus Mendikbud menyampaikan kemungkinan mengagendakan Beliau untuk hadir di Lampung atau di Bandung. 
[09/09, 21:37] Yanti KerLiP: Sayang surat dari Bu Menteri baru terbit tanggal 5
[09/09, 21:37] Yanti KerLiP: ternyata Mendikbud berdama Pak Dirjen dst ke Singapura bersama Presiden
[09/09, 21:37] Yanti KerLiP: Bagus di Maros berhasil ajak 74 sekolah
[09/09, 21:37] Rahayu Ningtyas Borneo: Alhamdulillah, sy harus belajar banyak ibu
[09/09, 21:38] Yanti KerLiP: Kampanye dan advokasi sudah menjadi model utama Gerakan Keluarga Peduli Pendidikan
[09/09, 21:38] Yanti KerLiP: Kekuatan media sosial sangat mendukung
[09/09, 21:39] Yanti KerLiP: Memang perlu investasi waktu 10 jam per hari agar kampanye yg didukung advokasi bisa berjalan sesuai target
[09/09, 21:39] Yanti KerLiP: Target Fitry 1000 sekolah dg 200 ribu peserta didik
[09/09, 21:39] Yanti KerLiP: Alhamdulillah terlampaui dalam 2 minggu setelah koordinasi di Kemppa berjalan
[09/09, 21:40] Rahayu Ningtyas Borneo: 👍👍👍
Keren bu
[09/09, 21:42] Yanti KerLiP: Mudah-mudahan tahun depan lebih keren lagi ya
[09/09, 21:42] Yanti KerLiP: Kadisdik Bandung siap buat SK agar belajar di luar kelas bisa seminggu sekali
[09/09, 21:42] Yanti KerLiP: Dirjen Dikdasmen sedang mencari cantolan Permendikbud untuk menyiapkan Perdirjen Gerakan SRA dengan BelajardiLuarKelas 2x sepekan
[09/09, 21:43] Yanti KerLiP: Direktur guru Dikmen juga bergegas menyiapkan pelatihan guru agar bisa menilai capain KI KD peserta didik dlm kegiatan OCD
[09/09, 21:43] Yanti KerLiP: Direktur KKSK Madrasah malah sudah memulai bimtek Madrasah Bersinar
[09/09, 21:44] Yanti KerLiP: Kadisdik Deli Serdang, Bupati Maros, Metro, Halmahera Barat, Bojonegoro, Pringsewu, Brebes, Malang, dst siapkan payung hukum untuk mendukung
[09/09, 21:50] Rahayu Ningtyas Borneo: Insyaallah, di Pangkalan Bun bisa lebih baik.

Sebelumnya, Fitry membuat infografis tentang mekanisme 3 jam #BelajardiLuarKelas hasil koordinasi yang dipimpin Deputi TKA bersama Asdep IV Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas dan Budaya,  DPP FGII, KetLiP, Ditjen Dikdasmen khususnya Direktorat PSD dan PSMA, serta DitKKSK Madrasah. Secara terpisah kami juga melakukan audiensi bersama Kadisdik Kota Bandung untuk medorong 819 SD di Kot Bandung melaksanakan kampanye ini. Technical meeting dan diskusi terpumpun bersama 73 Kepala SD Inti terlaksana 2 kali. Pertemuan informal dengan pengawas SMP, juga audiensi dengan Dirjen Dikdasmen dan terakhir membahas persiapan dan pernak-perniknya secata intensif di beberapa whatsappgroup, “ujar Fitry.

IMG-20170827-WA0036

Cuci Tangan Pakai Sabun

 

Sarapan Sehat Bersama

 

Melestarikan Permainan Tradisional

Anak-anak dan para guru bergembira melakukan beberapa permainan tradisional seperti congklak, beklen, engkle, sundamanda, simse, gobak sodok, dst

1. Lompat Tali

 

2. Egrang

 

Literasi Saat OCD

 

LIRIH SUARA UNTUK ROHINGYA

Seruan bagi Warga Dunia untuk Bicara tentang Tragedi Rohingya

Bandung, 3 September 2017, Pkl. 10.30 WIB
Ugie@JARI

IMG-20170903-WA0063.jpg

Suara ini terlalu lirih, di tengah jagat kebisingan car free day (CFD) pagi tadi. CFD di dago memang ajang bersenang-senang warga bandung, atau pengunjung kota bandung yang merindui suasana pagi yang sejuk tanpa asap kendaraan bermotor. Suara kami juga terlalu sayup dibandingkan hiruk pikuk kesibukan dunia yang sedang bergerak menggapai “puncak peradaban”-nya.

Kami, komunitas JARI (Jaringan Rakyat Independen) dan perkumpulan KerLiP (Keluarga Peduli Pendidikan) memilih untuk menepi di tengah keramaian CFD tadi. Memasang spanduk, dan kemudian menyapa anak-anak muda dan keluarga yang kebetulan lewat di depan kami. *Kami sampaikan bahwa komunitas kami mengajak siapapun untuk ikut bicara tentang tragedi Rohingya, tanpa pengeras suara*.

Kami ajak mereka untuk menuliskan pesan, himbauan, usulan atau apapun untuk menghentikan tragedi itu yang sudah terjadi secara beruntun sejak beberapa tahun terakhir ini, lewat post-card yang sengaja kami buat untuk itu. Post-card itu boleh ditujukan kepada siapapun pemimpin dunia yang lebih memiliki kuasa ketimbang kami, untuk menghentikan tragedi ini.

Bisa kepada presiden Jokowi, bisa kepada presiden Myanmar Htin Kyaw, atau pemimpin partai demokratik berkuasa di Myanmar yang dipimpin Au San Su Kyi, sang peraih nobel perdamaian. Bisa juga ditujukan kepada Sekjen ASEAN Le Luong Minh asal Vietnam, atau Sekjen PBB Antonio Guterres dari Portugal.

Ada sebagian tulisan/opini kawan-kawan yang mengatakan bahwa desakan apapun kepada pemimpin dunia itu, apalagi pemimpin nasional kita, tidak akan berubah apa-apa di sana, kami tidak peduli.

Kami sendiri memilih seruan agar : (1) ASEAN — sebagai persekutuan negara-negara di asia tenggara — segera bergerak untuk mengatasi tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya ini,  dan (2) mendesak pemerintah kita, agar mengusulkan dan mengirimkan pasukan perdamaian di bawah naungan PBB untuk melindungan etnis Rohingya, seperti yang pernah dilakukan di Lebanon, karena ini sudah masalah antar kawasan nasional dan regional.

Kami sama sekali tidak tertarik untuk menghimbau Komite Noble-Prize untuk mencabut pemberian Nobel Kemanusiaan kepada Au San Su Kyi. Noble-Prize hanya lah panggung seremonial karikatif saja, yang dimiliki oleh mereka yang merasa boleh menentukan siapa yang dianggap penjaga perdamaian. Bagi kami, noble prize bukan lah apa-apa.

Bagaimana pun, etnis Rohingya adalah saudara kita, sesama mahluk ciptaan Yang Maha Kuasa, yang punya hak azasi untuk hidup dan mengembangkan diri, meski mereka hidup nun jauh di sana. Tidak boleh ada satu kekuatan politik apapun yang berhak bertindak sesuka hatinya menghabisi sebuah etnis tertentu di muka bumi ini, apapun alasan dan latar belakangnya. Apa yang sekarang terjadi pads etnis Rohingya di Myanmar tidak ubahnya seperti genocida.

Kami bersyukur, banyak anak-anak, remaja, dewasa dan keluarga yang mendukung upaya kami ini dengan ikut berpartisipasi menuliskan pesan-pesan kepada para pemimpin (dunia) yang akan kami tindaklanjuti dengan mengirimkan post-card itu kepada si alamat.

Beberapa di antara yang bicara kepada kami, tergerak untuk memberi/mengumpulkan bantuan kemanusiaan untuk etnis Rohingya. Tapi karena kami tidak bergerak di bidang itu, maka kami sampaikan bahwa bantuan bisa disalurkan melalui organisasi lain seperti ACT, Mer-C, PMI, IFRC, Bulan Sabit atau lembaga lain yang bergerak di bidang itu.

Suara kami memang lirih saja, tapi setidaknya kami sudah melakukan apa yang menjadi kewajiban, tanggung-jawab dan amanah kemanusiaan kami, sebagai makhluk ciptaan Yang Maha Kuasa. Suara kami ini, selalu teriringi dengan doa-doa tulus kepada Sang Penguasa Jagat Semesta, agar Dia karuniakan takdir yang baik bagi warga Rohingya, juga agar para Pemimpin dunia tergerak dan segera bertindak menghentikan aksi kriminal penguasa Myanmar kepada saudara kita etnis Rohingya ini.

@Jaringan Rakyat Independen (JARI)
@Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP)