Thomas dan Kebangkitan Pendidikan Inklusif

Rencana penganugerahan Gerakan Indonesia Pintar 2017 pada Hari Kebangkitan Nasional terpaksa ditunda karena masalah eksternal yang tak mungkin diabaikan. Dua dari lima penerima Anugerah GIP 2017 yang menyatakan kesiapannya untuk hadir meyakinkan saya bahwa gagasan ini dibutuhkan. Insya Allah kami alihkan menjadi 1 Juni 2017. Saya alihkan untuk mengikuti kegiatan warga Bandung memperingati Hari Kebangkitan Nasional di Gedung Indonesia Menggugat (GIM).

“Ayo ke GIM, Dek! Saudara-saudara kita penyandang disabilitas akan tampil memeriahkan #temaninklusi yang menandai Hari Kebangkitan Pendidikan Nasional kita, “seru saya dari ruang keluarga sambil membaca status teman-teman di fb.  Icha, putri bungsu kami terlihat membuka selimut dengan enggan. Tanpa sepatah kata pun ia beringsut pergi ke kamar mandi. “Mau kan, Dek, antar ibu ke GIM?” imbuh saya saat melihatnya melangkah menuju lemari pakaian kami.  Icha mengangguk sambil tersenyum.

Kami bergegas menyusuri tanjakan jalan Kanayakan menuju pemberhentian angkutan umum Dago-St.Hall. Mata saya tak kuasa menahan kantuk dalam mobil angkutan umum. “Maaf ya, Dek. Ibu ngantuk banget. Beberapa hari ini selalu terbangun tengah malam dan tak bisa tidur lagi, “kata saya setengah berbisik. “Ngga apa-apa, Bu. Dijagain koq. Kita turun dimana?”sahut Icha dengan lembut. “Setelah BIP di perempatan dengan bambu runcing di tengahnya, ya, “imbuh saya lagi. “Oh ini ya jalan Braga. Besok Adek ke Braga citiwalk dengan teman-teman, “seru Icha tertahan. “Besok antar ibu ke Dago CFD dulu ya, “kata saya. Kami pun berjalan sambil bergandengan tangan menuju GIM.

Komunitas Origami Indonesia

Penjelasan Bu Wiwi, ibunda Thomas menarik perhatian kami. Setelah belajar melipat kertas membuat sakura mengikuti arahan bu Linda dan burung perdamaian dari Susan, kami mengikuti presentasi Thomas bersama ibunda tercinta dengan seksama. Tak ayal saya sebar kabar keunikan Thomas dengan dukungan ibunda tercinta ke beberapa wag.

Screenshot_2017-05-20-22-04-55

Icha terlihat enggan pulang. Dia asyik mengikuti penampilan beberapa penyandang disabilitas. Penjelasan Susan tentang seribu burung perdamaian dengan relawan berbahasa isyarat menarik perhatian saya. Icha terlihat kesulitan mengikuti petunjuk pembuatan burung origami tersebut.

Saya mengajaknya berkeliling untuk melengkapi kegembiraan kami. Menyapa Kang Aden yang sedang menjaga pameran karya para penyandang disabilitas. Saya langsung menyalami Susan saat memasuki ruang pameran bersama teman-temannya. Kami mendapat kehormatan belajar langsung origami dari ahlinya dan berbagi informasi tentang aktivitas masing-masing. Dan Icha pun terlihat senang sekali berhasil membuat burung.

Tak lama kemudian Bu Linda dan Bu Wiwi bergabung di ruang pameran. “Ibu-ibu, kita kolaborasi yuk! Ada peluang untuk menerbitkan panduan berbasis IT untuk disabilitas. Praktik baik Thomas memikat hati saya. Kita buat buku braille panduan origami untuk terapi dan life skill anak-anak, “ajak saya kepada perwakilan Komunitas Origami Indonesia ini. Obrolan pun berlanjut sampai ke diet carbo yang berhasil membuat Ibu Wiwi dan Thomas lebih segar dan sehat. Kami pun pulang ke rumah  membawa beragam ilmu dan rencana baru.

Alhamdulillah.

Memperbanyak Sekutu dalam Menyiapkan Kampanye Belajar Di luar Kelas

Mendidik anak mengembangkan sistem berpikir kritis, peduli, dan kreatif sudah lama menjadi fokus Litbang KerLiP dalam mengembangkan konsep Pendidikan Anak Merdeka. Keberadaan Pak Aripin, pembelajar mandiri yang kami pindahkan dari Darussalam Bekasi ke  Perguruan Darul Hikmah menunjukkan keseriusan kami dalam penerapan Pendidikan Anak Merseka di tingkat kelas. Tidak mengherankan jika penanda-penanda Anak Merdeka yang tertangkap langsung pada kunjungan wartawan Kompas di SD Hikmah Teladan 11 tahun yang lalu menghasilkan tulisan yang sangat inspiratif. Sebanyak 3 artikel terkait konsep dan penerapan Pendidikan Anak Merdeka serta liputan khusus mengenai Pak Aripin yang disajikan Mas Bambang Wisudo memperkaya gerakan advokasi hak atas pendidikan di Indonesia pada 11, 12, 13, dan 17 Oktober 2006.

Keluarga-keluarga peduli pendidikan dan para pegiat hak atas pendidikan pun berdatangan ke SD Hikmah Teladan, laboratorium Pendidikan Anak Merdeka yang kami dirikan pertama kali di kota Cimahi. Kekhasan kami untuk mengembalikan hak prerogratif orang tua sebagai pendidik utama dan pertama anak tercinta dengan menyerahkan pendidikan spiritualitas keagamaan anak kepada keluarga dan menggantikannya dengan pendidikan karakter saya angkat dalam tulisan pesanan yang dipublikasikan dalam jurnal ANU.

Keputusan saya untuk pindah ke ibukota membawa praktik-praktik baik KerLiP di Jawa Barat mendapatkan tempat di hati banyak pihak. Kampanye dan avokasi Pendidikan Untuk Semua di Indonesia pun makin membahana. Komitmen Mendikbud untuk fokus pada penguatan pendidikan karakter setelah gerakan literasi sekolah tumbuh dan berkembang dalam kerangka penumbuhan budi pekerti memperkaya makna pendidikan bermutu dan bebas pungutan yang kami usung sejak menjalankan kampanye dan advokasi.

Dokter Sisca Pegiat KHA di Cirebon

Obrolan pendidikan ramah anak dengan Dr. Sisca saat menunggu kehadiran Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon mempertemukan saya dengan para penggerak Cirebon Literasi Community. “Pak Yudi harus segera kesini, dech! Di depan saya ada perempuan hebat yang memiliki semangat luar biasa untuk memperkaya gerakan literasi yang Bapak pimpin. Ia berulang kali menegaskan bahwa Gerakan Literasi Sekolah masih belum menyentuh Penumbuhan Budi Pekerti, “kata Bu Sisca saat menelpon mitranya. “Ibu sediakan waktu khusus untuk mengobrol dengan Pak Yudi ya, “imbuhnya lagi sambil menatap mata saya lekat sekali.

Saya mengenal Dokter Sisca melalui wag forum peduli anak Jabar yang kami kelola atas permintaan Kabid PA DP3AKB Jabar. Suaranya yang khas mempertegas keberpihakannya dalam mendorong Pemerintah Cirebon untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak anak. Beragam praktik baik yang disajikannya pada sesi terakhir Pelatihan KHA bagi pendidik Jabar mengundang decak kagum Kabid PA dan semua peserta pelatihan. Berkali-kali paparannya didokumentasikan bu Kabid yang duduk di depan saya. Saya sangat beruntung memutuskan hadir memenuhi undangan DP3AKB Jabar dan bertemu dengan pegiat KHA Cirebon yang luar biasa ini.

Para Pelopor Cirebon Literacy Community

“Saya langsung mendaftarkan diri mengikuti OCD, Bu. Tapi baru untuk kelas saya saja, “bisik Pak Kartino saat kami antri makan siang. Dua buku karya Pak Kartino siap dipamerkan pada Pekan Pendidikan di Kemdikbud 20-21 Mei 2017. Pak Kartino, Bu Elva, dan Pak Agus adalah para pelopor Cirebon Literasi Community yang diajak Pak Yudi bertemu saya di Hotel Prima Cirebon. Obrolan Pendidikan Ramah Anak di  lobby hotel tersebut benar-benat kaya. “Saya terpikir untuk mengubah lomba penulisan novel dengan lomba RPP Belajar Di Luar Kelas yang ibu tawarkan, “kata Pak Yudi.

IMG-20170520-WA0079

Cirebon Literacy Community diluncurkan pada 2 Mei 2016. Bu Elva dam Pak Agus bergantian menjelaskan tekad kuat para pelopor literasi tersebut. Dengan bangga mereka menyampaikan bahwa gerakan literasi di Cirebon sampai mengadakan teleconference dengan Gubernur. Mereka akan memberikan anugerah literasi kepada anak-anak yang sudah menyelesaikan membaca 24 buku dalam 8 bulan pada 23 Mei 2017.

Bukan Sekolah Namanya Jika Tidak Ramah Anak

Fenomena kekerasan, bullying, dan perilaku salah lainnya  terhadap anak (KTA) di sekolah sudah lama menjadi viral. Baru-baru ini beredar video rekaman kekerasan yang dilakukan seorang pendidik di Indonesia Timur. Sebelumnya masyarakat kita juga dikagetkan dengan berita seorang kepala sekolah di Malang menyetrum beberapa peserta didik. “Tadi rekan-rekan menjawab bahwa sekolah kami aman. Namun kecenderungan korban KTA  terus meningkat. Pelapor dari Kabupaten Cirebon pada 2016 sebanyak 47 anak dan pada tahun ini di semester 1 saja kami sudah menangani 41 korban, dan hampir semuanya KTA bahkan dalam bentuk kejahatan seksual di sekolah, “ujar Dr. Sisca, perintis Pusat Pelayanan Terpadu RS Gunung Jati pada kegiatan Pelatihan Konvensi Hak Anak untuk Tenaga Pendidik yang dilaksanakan oleh DP3AKB Jabar di Cirebon, 18-19 Mei 2017.

Pemerintah Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Hak Anak (KHA) dua bulan setelah PBB  meresmikan KHA sebagai Hukum Internasional, yakni melalui Keppres No. 36 Tahun 1990. UU No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak pun makin kuat dengan terbitnya UU No. 35 Tahun 2014 dan UU No. 17 tahun 2016.  Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahkan bergegas menjadikan anak sebagai pelopor dan pelapor KTA melalui three ends.

IMG-20170520-WA0037

Duta threeends SMPN 1 Cirebon

Permendikbud No. 82 tahun 2016 tentang Pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak di sekolah juga sudah diterbitkan dan diperluas dengan terintegrasi ke dalam Dapodik. Setiap sekolah wajib memampang nomor-nomor kontak yang bisa dihubungi oleh warga sekolah untuk melaporkan KTA.

Ada dua kemungkinan yang terjadi mengapa KTA di sekolah terus meningkat. Pertama adanya peningkatan kesadaran pelopor dan pelapor KTA di sekolah dan kedua masih rendahnya perlindungan anak dan penghormatan hak anak di sekolah. Dalam konteks inilah Gerakan Sekolah Ramah Anak diperluas oleh multipihak termasuk Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan.

Gerakan Sekolah Ramah Anak

Langkah-langkah umum yang dilaksanakan pemerintah dan pemerintah daerah untuk menunaikan kewajiban sebagai Negara peserta KHA dalam memenuhi hak anak makin menguat. Beragam praktik baik dalam pemenuhan hak anak di satuan pendidikan dikumpulkan dalam Gerakan Sekolah Ramah Anak (SRA). Komitmen multipihak pun mulai dilembagakan dalam menerapkan sekolah/madrasah aman bencana melaluiKepmendikbud Seknas Satuan Pendidikan Aman Bencana.pdf-1. Perilaku hidup bersih dan sehat, peduli dan berbudaya lingkungan hidup, kantin kejujuran, sekolah antikekerasan, madrasah insan cendekia, bebas narkoba, pemberian makanan tambahan anak sekolah, sekolah Panutan di Riau, dst terus digiatkan.

“Bukan sekolah namanya jika tidak ramah anak, “kata Pak Juhana, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung saat kami bertemu dalam rangkaian kunjungan tim penilai Kota/Kabupaten Layak Anak menunjukkan keseriusan Pemkab Bandung untuk memperluas Gerakan SRA. Hal ini juga terjadi di kota Bandung. Bapak Ridwan Kamil mengeluarkan Surat Edaran Walikota Bandung yang mengintruksikan agar seluruh sekolah di kota Bandung berupaya mewujudkan SRA.

IMG-20170509-WA0072

Saat ini lebih dari 1.400 sekolah/madrasah sudah melaporkan komitmen tertulisnya dalam mewujudkan SRA dilengkapi dukungan dalam bentuk SK Bupati/Walikota atau sedikitnya SK Dinas PPPA setempat. Kemungkinan jumlah SRA akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah Kota/Kabupaten Layak Anak. Namun demikian, upaya perlindungan dan penghormatan hak anak melalui SRA masih perlu diperkuat sampai di tingkat kelas. Sekolah/Madrasah yang sudah mendeklarasikan diri menjadi SRA dan praktik-praktik baik lainnya perlu didorong untuk melengkapi 6 komponen utama SRA dengan membentuk satuan tugas perlindungan anak terintegrasi ke dalam Tim Pelaksana SRA yang dipimpin Kepala Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten.

Pelatihan KHA bagi guru dan tenaga pendidik perlu diperkuat dalam bentuk supervisi dari para pengawas. Para pengawas sebaiknya terlatih KHA dan SRA sebelum memfasilitasi pelatihan dan pendampingan penyusunan RKAS dan pembelajaran yang ramah anak.  Peningkatan partisipasi orang tua/wali yang dilaksanakan Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga dalm beraneka inovasi perlu mendapat dukungan penuh dari serikat pekerja profesi guru terutama dalam hal pengasuhan dan disiplin positif di rumah dan sekolah/madrasah. Dengan demikian pencegahan dan penanganan kekerasan, kejahatan seksual, bullying, Napza, pornografi dan beraneka ragam perlakuan salah lainnya terhadap anak di satuan pendidikan melalui gerakan SRA dirasakan manfaatnya oleh anak-anak bangsa.

Pelatihan KHA bagi Pendidik Jabar

Tepat pukul 03.15 sopir siap mengantar saya ke rest area Pasteur. “Kita sholat subuh di rest area Pasteur saja ya. Kasihan ibu kalau kumpul di Soekarno Hatta, “pesan dari ibu Kabid masuk setelah telpon beberapa kali. Kami berangkat dari mushola bercat hijau itu bada sholat subuh dan menikmati sambal segar dan sedap Ciganea di KM 72.

Alhamdulillah Pelatihan KHA bagi tenaga pendidik yang diselenggarakan DP3AKB Jabar di Hotel Prima Cirebon dihadiri para pemangku kepentingan  dalam pemenuhan hak anak atas pengasuhan, pendidikan,dan budaya.

20170518_094612

Pembukaan pelatihan dilaksanakan pada pukul 09.30 oleh Ibu Tintin. Bu Kabid memberi sambutan dan membuka kegiatan dengan menyampaikan ringkasan materi KHA.

Pelatihan diikuti oleh ketua dan wakil ketua Himpaudi Kota Cirebon, Kabid PA kota dan kabupaten Cirebon, Kepala SDN 2 Weru Kidul, SMPN 2, SMPN 5, SMKN 2, ketua gerakan literasi kota Cirebon, disnaker, dinsos, GOW, PKK, dkk. Bahan presentasi KHA yang saya ramu dari berbagai sumber disajikan dengan model Cara Asyik Cari Tahu (CACT).

Pembelajaran Ramah Anak dalam Praktik

Setiap kali memfasilitasi pelatihan pasti teringat kepada ayah angkat almarhum Apa Utomo Dananjaya. Apa lah yang menjadi sumber inspirasi participatory learning. Metode CACT pun lahir seiring dengan kebersamaan kami dalam mendorong pemenuhan hak atas pendidikan untuk semua di Indonesia. Almarhum Apa berhasil menerbitkan buku Media Pembelajaran Aktif saat tinggal di Bandung.

Prinsip-prinsip Umum KHA saya sajikan dalam praktik pembelajaran yang sederhana. Setiap orang yang mewakili instansinya saya sapa dsn merrka dengan antusias menyampaikan fokus kegiatan masing-masing yang terkait dengan KHA.

20170518_143537

Hal ini memancing sikap proaktif dari pak Suhardi, penyelenggara pendidikan inklusif dari SDN 2 Weru Kidul. Penekanan SRA sebagai upaya untuk mengumpulkan praktik-praktik baik mengundang perwakilan sekolah untuk menunjukkan pembelajaran ramah anak yang sudah berjalan.

Materi KHA dijalin dengan lagu dan gerak terkait pencegahan dan kesiapsiagaan sejak usia dini tersampaikan sebagai pengantar. Tepuk hak anak pun menambah kegembiraan kami selama 2 jam di sesi pertama ini. Sesi berikutnya dilaksanakan dalam kelompok per wilayah. Setiap kelompok menuliskan praktik baik dan inovasi terkait 8 klaster KHA dan SRA dalam 6 komponen utamanya. Sebelumnya Kadisdik Kabupaten Cirebon dengan fasih menyampaikan praktik-praktik baik SRA di wilayahnya. Ibu Ika mewakili Deputi Tumbuh Kembang Anak menyampaikan KHA dalam pengasuhan, pendidikan,dan budaya pada sesi setelah makan malam.

 

Menjalin Kemitraan dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat

Penanggulangan bencana pasca gempabumi Tasik 2 September 2009 mempererat kemitraan yang kami jalin secara informal dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pak Dani, orang tua peserta didik SD Hikmah Teladan membuka kesempatan kepada sahabat KerLiP untuk mendapatkan dukungan dari Jabar-1. Saat itu kami menggiatkan Pekan (Pendidikan Keluarga Teladan) bersama para pegiat pemenuhan hak atas pendidikan di kota Bandung. Pekan yang dilaksanakan pada 6-13 April 2003 terhubung dengan Dialog Komunitas Pendidikan yang diinisiasi oleh CBE sejak 2000 dalam upaya kampanye dan advokasi Pendidikan Untuk Semua.

Setahun kemudian kami bertemu dengan Pak Fasli, Ketua Pelaksana harian Forum Koordinasi Nasional Pendidikan Untuk Semua yang juga menjabat sebagai Dirjen PLS. Kami mendapat kehormatan untuk merumuskan kampanye PUS di Bangkok  dan bertemu dengan almarhumah Mbak Yanti Muchtar. Dialog Komunitas Pendidikan pun digantikan e-netfor justive dengan Kapal Perempuan sebagai fasilitator utamanya. Pasca tsunami di NAD, jejaring kami makin luas seiring dengan terbentuknya Konsorsium Pendidikan Bencana pada 2006.

Dalam kurun waktu 6 tahun, sahabat KerLiP terhubung dengan multipihak di tingkat nasional bahkan global dan memperkuat kampanye dan advokasinya dengan mengikuti peningkatan kapasitas yang dilaksanakan berbagai lembaga. Seluruh jejaring ini ternyata menjadi sumber daya yang bermakna dalam penguatan kemitraan khas kami di Jawa Barat. Kami terhubung dengan Pak Riyadie yang menjadi Sekdinkes dan Pak Dudi Sekdisdikprov Jabar selama berkoordinasi dalam pemulihan dini pasca gempabumi Tasik. Pekerjaan dengan Oxfam dan 8 lembaga masyarakat lainnya dalam pembangunan pemukiman kembali di Ciamis dan Cianjur memperkuat kemitraan tersebut.

Kemitraan di Konsorsium Pendidikan Bencana menjadi andalan kami dalam menyediakan materi KIE maupun narasumber kesiapsiagaan bencana di Jawa Barat. Perwakilan KPB hadir mendukung simulasi siaga bencana di desa Sanding Taman dan lokakarya Dasawisma Siaga Bencana di Ciamis.

Kampanye dan Advokasi Sekolah Aman

Komitmen kami untuk mengawal 1 MSSHC mulai dari Jawa Barat mendapat dukungan penuh dari Dinas Pendidikan provinsi Jabar, Biro Yansos dan bangsos Setdaprov,  Disinfokom, BPBD, dan Bappeda Jabar. Lebih dari 13 ribu sekolah/madrasah dan ratusan rumah sakit/fasililitas kesehatan diikrarkan oleh multipihak yang dapat kami jangkau terutama di Jabar.  Kampanye Sejuta Sekolah dan Rumah Sakit Aman di Indonesia ini sejalan dengan prakarsa UNISDR diluncurkan oleh Menkokesra, BNPB,  Menkes, Wamendiknas bersama Planas PRB, KPB, mitra pembangunan nasional dan internasional pada 29 Juli 2010. Dalam perjalanannya kami bertemu dengan asdep pemenuhan hak pendidikan anak, ibu Ninin. Momentum inilah yang menjadi titik awal Gerakan SRA berjalin dengan penerapan SMAB di berbagai wilayah di indonesia.

BNPB mencantumkan 25.600 SMAB di RPJMN yang menjadi acuan Seknas SPAB setelah resmi diluncurkan dan dipimpin oleh Direktur PKLK Dikdasmen. Bantuan pendidikan PRB pun terus mengalir dari APBN melalui Kemdikbud dan BNPB. Sahabat-sahabat KerLiP memutuskan beralih ke Gerakan SRA terutama di Jabar dan Riau.

Haru Biru Bu Yuda Mengasuh Anak Difable

Apresiasi terus berdatangan dari semua sahabat setelah Bu Yuda mengirimkan foto keberhasilan cucunya, penyandang autis (asperger)  yang berhasil melanjutkan pendidikan ke UPN Veteran melalui jalur undangan. Saya mengenal bu Yuda saat menerima amanah Ibu Khofifah, Mensos RI untuk menjadi anggota Tim Pokja TPPO dan KTPA. Kami bekerja sama meningkatkan efektivitas penanganan korban perdagangan orang dan kekerasan di bawah kepemimpinan Pak Sony Manalu, salah satu Direktur Rehabilitasi Sosial.

Bapak/Ibu ijin berbagi obrolan pendidikan ramah anak di MPI tentang keluarga bu Yudha

[17/05, 03:18] Shafir Machrusah MPI: Bu Yuda, neli hebats..
Selamat buat cucunda Fathan…angkat jempol buat putri bu Yuda..yang sangat super tegar 👍👍

[17/05, 05:36] Eri Trinuriti: Bu Yudha…ikut bersyukur atas kelulusan dan keberhasilan Nanda. Allah Maha Kasih untuk semua umatNya. Selamat berbahagia utk orang tua dan eyangnya🌸🙏🏻

[17/05, 06:30] Septi Jafar MPI: Turut bangga dan haru atas perjuangan Mas Fathan, Ibu, Yangti dan seluruh kerabatnya yg telah memberi dukungan padanya…❤❤❤

[17/05, 06:44] Mien Muntoro MPI: Selamat utk cucunda, semoga lancar, sukses, tercapai cita2nya, tetap iman dan takdhim kepada orang tua, dimudahkan segala urusannya , tetap sehat, panjang umur yang barokah. Aamiin.

[17/05, 06:56] Bu Yudha MPI: Terima kasih, mb Rosa 🌹
Iya mbak Rosa, mantuku sampek gak kerja krn mendampingi anaknya yg hiper aktif bangets, gak bs bicara sampai umur 2th (not a singgle word), gak tatap mata, kalu jalan dia pegang kita eraaaats bangets, dipanggil n diem aja ……

Waktu SD ya diejekin temennya ….. tapi dia tenang aja. Cuek bebek.
Banyak keluarga yg menjadikan Nanda Fathan sebagai bahan study, termasuk terapis yg turut membantu Fathan. Setdknya menjd keluarga tempat konsultasi bagaimana hidup dg anak autis dan, alhamdulillah, berhasil so far
Atas ridho Allah

[17/05, 07:01] Eva Mazrieva MPI: Alhamdulillah yaaa Bunda.. dukungan keluarga tampaknya menjadi faktor kunci.

[17/05, 07:19] Bu Yudha MPI: Betuuuul’ mbak Eva.
Kalau membuka kembali lembaran perjalanan Fathan sejak kecil’ air mata haru yg luar biasa ……
Umur 8bln divonis kena glaucoma, umur 1th kena tbc, trus sering sakit bbrp kali msk RS 😭😰 kami jalani dg penuh usaha dan doa.
Sekarang dia sdh sangat berbeda dari Fathan yg duluuu …… puji syukur tak terhinggaaa

Kalau aku cerita begini, ini sebagai upaya menginspirasi keluarga2 Indonesia lainnya yg kemungkinan juga menghadapai problema yg sama, unt tetap tegar, semangat dan penuh kasih sayang ……. menerima apa adanya, insyallah 😇

Obrolan Keren di MPI

Saya diajak bu Yudha berbagi informasi seputar pemenuhan hak dan perlindungan anak di Pendidikan dalam wag Maju Perempuan Indonesia (MPI). Anggota MPI sebagian bedar adalah Aleg Perempuan di DPR dan DPRD juga DPD, pejabat publik, dan lembaga masyarakat. Foto.yang diposting bu Yudha menjadi inspirasi baru untuk memperkuat letahanan keluarga. Terntu saja saya sambut dengan menyebarkan perda Jabar tentang Ketahanan Keluarga  p_jabar_9_2014 lalu Kebijakan Direktorat Bindikel Kebijakan Program ,  Pendidikan Keluarga Tahun 2017 dan Permendikbud22-2015Renstra2015-19.yang mengukuhkan komitmen Pemerintah dalam pendidikan keluarga

IMG-20170516-WA0047

Hak Anak mendapatkan Pengasuhan yang Baik

Sudahkah kita melakukan usaha sadar dan terencana dalam pemenuhan hak anak untuk belajar hormat kepada orang tua, guru, dan orang dewasa serta menjadi warga negara yang cerdas dan berakhlak mulia?

Pertanyaan ini melintas saat membaca hiruk pikuk di dunia maya. Jangan-jangan banyak yang lupa bahwa anak peniru yang hebat untuk semua hal yang dilakukan orang dewasa.

Peningkatan jumlah dan ragam kekerasan terhadap anak menyadarkan para pemangku kebijakan di negeri ini untuk segera melakukan sesuatu. Jabar tolak kekerasan yang dideklarasikan para peserta didik Jawa Barat pada masa pengenalan sekolah 2016 lalu merupakan salah satu momentum yang tepat untuk menurunkan kebijakan pencegahan dan penanganankekerasan terhadap anak di satuan pendidikan ke tataran rencana aksi. Belum banyak sekolah/madrasah yang menyatakan SRA memiliki satuan tugas perlindungan anak. Di sisi lain pendidikan keluarga pun belum eranjak menjangkau keluarga di luar sekolah/madrasah. Peningkatan kekerasan di rumah atau yang dilakukan kerabat terdekat anak menuntut kita melakukan aksi nyata dalam upaya memenuhi hak anak atas pengasuhan yang baik.

Pengasuhan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM)

Kementerian PPPA sudah mulai menggiatkan PATBM. Beberapa fasilitator dari Jawa Barat pun menjadi bagian kdari gerakan nasional tersebut. Secara khusus, sahabat KerLiP memperkuat Direkrorat Pembinaan Pendidikan Keluarga yang dibuka pada saat Mas Anies menjadi Mendikbud 2014-2016. Saat ini DPC KerLiP Kabupaten Cianjur, Pangkalan Bun, dan Kabupaten Bandung mendapat kehormatan untuk menjadi mitra subdit pendidikan orang tua melaksanakan sosialisasi pencegahan tindak pidana perdagangan orang melalui pengasuhan yang baik. Masing-masing menargetkan 2 desa untuk menjalankan gerakan tersebut. Saya mengawal praktik-praktik baik ragam 20 menit yang memukau, OPeRA dan OrK3STRA serta Simphoni Bangsa untuk dilaksanakan para pendamping desa tersebut.

Pendidikan keluarga juga akan dilaksanakan DPC KerLiP kota Bandung dan menjangkau para penggerak PKK setempat pada bulan juli yad. PATBM yang dilaksanakan sahabat KerLiP  memperkuat dasawisma yang menjadi ujung tombak PKK untuk meningkatkan pencegahan dan kesiapsiagaan bencana, TPPO, KTA, pornografi, Napza,  dan ancaman lainnya terhadap anak. Saya berharap banyak kepada keempat DPC tersebut untuk bersama-sama menyusun buku saku Keluarga Peduli Pendidikan dan memperkuat Gerakan Sekolah Ramah Anak dengan PATBM.