Literasi Bencana untuk Perempuan

Satu per satu lembar timbali balik berjudul Pengurangan Risiko Bencana itu ditunjukkannya kepada hadirin. “Ayo kita buat yang seperti ini untuk belajar bersama di rumah. Tahun ini, BNPB memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana dengan mengusung tema Perempuan Guru Siaga Bencana, Rumah Sebagai Sekolahnya. Kita bisa membuat lembar timbal balik yang lebih sederhana termasuk untuk memahami Sistem Perlindungan Anak, “ujar perempuan yang sering dipanggil dengan nama YantiKerLiP tersebut. Rumah KerLiP mengajak para perempuan untuk memulai mengaktifkan literasi bencana pada Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2019.

Perempuan Guru Siaga Bencana

Lembar timbal balik, ular tangga, game board, buku, lagu dan gerak adalah ragam media pembelajaran literasi bencana di Rumah KerLiP yang terkumpul selama aktif berjejaring di tingkat nasional. Para perempuan yang hadir setiap #jumatbarokah di Rumah KerLiP sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang mengantar dan menunggu anak-anak pulang dari sekolah. Dua di antaranya adalah kader posyandu RW 05 Dago.

“Mendorong perempuan menjadi guru siaga bencana memerlukan pendekatan khusus. Rumah KerLiP Bandung hadir di tengah-tengah pemukiman padat dan dekat dengan SD dan MI. Lebih dari 10 tahun, kami menggiatkan pendidikan pengurangan risiko bencana secara nasional. Alhamdulillah sekarang tersedia ruang yang lebih nyaman untuk membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekitar. Sejalan dengan prakarsa BNPB untuk mendorong perempuan sebagai guru siaga bencana, kami memanfaatkan JumatBarokah untuk tempat belajar PRB bagi para perempuan terutama ibu-ibu sambil menunggu anak pulang dari sekolah, “ujar Fitry, pengelola Rumah KerLiP.

Proses Pembelajaran

Seperti biasa, kegiatan #JumatBarokah diawali dengan makan siang bersama.Nasi tutug oncom ayam dan karedok menjadi makanan favorit hadirin. YantiKerLiP menyajikan materi PRB dengan lembar timbal balik sebagai media. Obrolan seputar pentingnya perlindungan anak pun kembali menghangatkan suasana belajar di Rumah KerLiP. Lagu dan gerak bbmk dengan nada lagu potong bebek angsa menambah kegembiraan hadirin belajar bersama.

Kalau ada gempa lindungi kepala
Kalau ada gempa ingat bbmk
Tidak berlari
Tidak berisik
Tidak mendorong
Dan tidak kembali

Tidak berlari
Tidak berisik
Tidak mendorong
Dan tidak kembali

Kegiatan diakhiri dengan pendampinga pendaftaran giat #SiapUntukSelamat di https://siaga.bnpb.go.id

Bersiap Merintis Asmara di Wonosobo

Masih ingat akronim Asmara yang saya bagikan selepas mengikuti kegiatan fasnas SRA santai di Bandung? Tadi siang, Pak Hadi dan kepala sekolah lainnya yang mengikuti rakor evaluasi KLA melalui SRA di Aula Bappeda Wonosobo menyambut antusias ajakan saya untuk merintis Asmara-Asosiasi Sekolah Madrasah Ramah Anak. Sudah MeSRA tambah Asmara ya. Insya Allah untuk mendorong kelekatan hubungan kasih sayang di keluarga yang siap unjuk peduli pendidikan anak merdeka, bermutu, dan bebas pungutan.

 

Kritis dan Tetap Santun

Pak Hadi terlihat sangat antusias menunjukkan kesadaran kritisnya untuk menularkan semangat pembaharuan yang luar biasa. “Sekolah kami berjuang sendiri untuk memperoleh predikat Sekolah Adiwiyata Nasional. Saya mengeluarkan ongkos sendiri saat menerima sertifikat penghargaan tanpa seremonial yang megah, “kata Pak Hadi, salah satu kepala sekolah rintisan SRA di Wonosobo.

Semangat Pak Hadi, bu Ranti Mbak Lintang, Pak Heru, Bu Umi Bu Siti Fatimah, Bu Endang saat menanggapi hasil evaluasi SRA yang disampaikan Bu Erna, arahan Pak Haris dari Bappeda, dan paparan saya selaku Fasilitator Nasional Sekolah Ramah Anak menjadi modal kuat untuk tumbuh bersama Sigap KerLiP Indonesia. Saya mengajak Bapak/Ibu Kepala Sekolah dan Disdik Kabupaten Wonosobo untuk merintis Asmara dari Wonosobo ke tingkat global. Saya mulai dengan mengajak peserta rakor tersebut melaksanakan Giat Edukasi Ramah Anak, Sehat, Hijau, Inklusi, Aman Bencana di Keluarga-Gerashiaga– untuk memperkuat komponen utama SRA yang kelima dan keenam.

Kepala Sekolah perintis SRA diharapkan segera mengarahkan guru-guru untuk memberikan pekerjaan rumah kepada murid mereka. Ada 5 langkah memulai Gerashiaga pada Sepekan Aksi MeSRA:

  1. Anak-anak bersama ibunda melaksanakan simulasi evakuasi mandiri di rumah pada Hari Kesiapsiagaan Bencana 26 April 2019.
  2. Selanjutnya anak-anak membuat vlog atau papan mimpi untuk disajikan anak di hadapan ayah bunda tercinta pada Hari Pendidikan Nasional di sekolah/madrasah.
  3. Beningnya nurani anak dalam menyajikan gagasan, harapan, dan impian anak-anak diharapkan menggugah kesadaran kritis orangtua dan guru kelas untuk mendengarkan dan menanggapi dengan sungguh-sungguh dalam upaya mengedepankan kepentingan terbaik anak
  4. Orang tua pun diharapkan membentuk paguyuban orang tua di kelas untuk anak lebih cerdas berkarakter (Potluck).
  5. Kemudian kegembiraan anak ini ditanggapi menjadi Rencana Aksi MeSRA setiap Potluck

Jika seluruh satuan pendidikan di Wonosobo melaksanakannya, maka Gembira bersama KerLiP di Hari Pendidikan Nasional pun niscaya akan menjadikan 100% sekolah/madrasah di Wonosobo MAU menuju Sekolah Ramah Anak. Insya Allah Disdikbud Wonosobo akan menyiapkan SK SRA dengan lampiran daftar sekolah yang melaksanakannya dengan gembira.

Asmara pun terjalin memperkaya Sepekan Aksi MeSRA di Wonosobo

 

Bismillah tawakkaltu alallah.

Gerashiaga pada Sepekan Aksi MeSRA

Haru

Bangga

Bahagia

Campur aduk menyuntikkan semangat baru. Meme yang dibagikan Ibu Enny dari BNPB ini langsung menggantikan video bumper opdning Hari Kesiapsiagaan Bencana. Saya viralkan ke seluruh wag yang saya ikuti. Ini di meme cantiknya

Perempuan Guru Siaga Bencana dan Rumah Jadi Sekolahnya

Perjalanan kampanye dan advokasi yang saya laksanakan bersama keluarga peduli pendidikan mengajarkan saya akan pentingnya pelembagaan sebagai center of excellent. Saya memilih menggelar Sepkan Aksi MeSRA di Bulan Inovasi Sekolah Panutan dengan memulai Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Menjadikan anak mitra dalam penguatan trisentra pendidikan dalam upaya mewujudkan SPAB mendorong saya untuk mendesain ulang Gerashiaga menjadi Giat Edukasi Ramah Anak, Sehat, Hijau, Inklusi, dan Aman Bencana di Keluarga.

Meme cantik dari BNPB di atas membantu saya untuk menghubungkan Gerashiaga dengan fokus BNPB untuk mendorong perempuan menjadi guru siaga bencana. Anak, keluarga, dan sekolah/madrasah ada 3 pilar Sekolah Ramah Anak. Guru menugaskan anak untuk memulai Gerashiaga pada Sepekan Aksi MeSRA dengan mengajak ibunda melaksanakan giat #SiapUntukSelamat di rumah sepulang dari sekolah. Kemudian anak-anak menyajikan aksi tersebut dalam bentuk karya kreatif pada pertemuan orang tua kelas di Hari Pendidikan Nasional. Orang tua bersama guru dan anak menyusun Rencana Aksi MeSRA dan membentuk Paguyuban Orangtua Kelas untuk Anak Lebih Cerdas Berkarakter (Potluck).

Anak belajar menjadi pelopor kebaikan yang sesungguhnya di sekolah dan rumah. Ibunda menjadi guru siaga bencana di rumah. Guru pun memiliki bahan untuk menilai portofolio anak. Mudah bukan? Semua beraksi Gembira bersama KerLiP

Ayo gembira di sekolah dan siaga di rumah bersama SigapKerLiPIndonesia