3 Langkah Praktis Menjalin ASMARA

ASMARA adalah singkatan dari Asosiasi Sekolah Madrasah Ramah Anak. Beragam praktik baik dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak menumbuhkan harapan bahwa setiap warga sekolah/madrasah dapat berperan aktif dalam upaya percepatan gerakan Sekolah Ramah Anak (SRA). “Sekolah/Madrasah yang siap menjadi SRA hanya perlu menunjukkan MAU dengan memasang penanda Sekolah Ramah Anak di bagian depan. Mengapa penanda ini harus terpampang di depan? Setiap warga sekolah/madrasah memerlukan “pengingat” bahwa ia memegang peranan penting dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak dari berbagai ancaman, seperti kekerasan, bulying, perlakuan salah lainnya terhadap anak, jajanan yang tidak sehat, sarana prasarana yang membahayakan  keselamatan  anak, Napza, pornografi, asap rokok, bencana alam, informasi yang tidak layak anak, dan perlakuan salah lainnya terhadap anak, ” kata ketua Sekretariat Bersama (Sekber)  SRA, Elvi Hendrani dalam berbagai kesempatan. Saya benar-benar gembira mendapatkan kemudahan ini dan tak ragu menyampaikan hal ini ke semua mitra Keluarga Peduli Pendidikan, Anda juga bukan?

 

Langkah Praktis Menjalin Asmara

Kepala sekolah/madrasah bersama pengurus Komite Sekolah/Madrasah memegang peranan penting untuk meningkatkan SRA masing-masing dari MAU menjadi MAMPU. Tak perlu narasumber ahli atau khusus untuk peningkatan kapasitas berkelanjutan ini. Setiap sekolah/madrasah dapat melakukannya dengan memperkuat dan memperluas praktik baik sekolah sehat, pendidikan inklusi, adiwiyata, disiplin positif tanpa kekerasan, kawasan tanpa asap rokok, sekolah/madrasah aman.

Ada 3 langkah praktis untuk menjalin asmara:

1. Manfaatkan pertemuan rutin MGMP dan MKKS untuk mengabadikan ilmu yang diperoleh dari praktik-praktik baik dengan berbagi

2.  Media sosial seperti whatsapp group sarana yang murah dan mudah membuka ruang konsultasi khusus bagi sekolah/madrasah yang memerlukan pendampingan

3. Pengelolaan pengetahuan secara bergiliran untuk mewariskan semua praktik baik tersebut kepada para penerus.

Ketiga langkah praktis ini diharapkan dapat melanggengkan jalinan ASMARA yang sudah terbentuk.

Menjalin ASMARA Pasca Reuni di Bandung

Pelembagaan Sekber SRA adalah salah satu strategi Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya dalam upaya  percepatan gerakan Sekolah Ramah Anak (SRA). Website https://sekber-sra.com pun siap diluncurkan pada Hardiknas 2018. Para fasilitator SRA Nasional berkomitmen memperkuat strategi tersebut dengan menjalin ASMARA (Asosiasi Srkolah Madrasah Ramah Anak) di daerah masing-masing pasca reuni di Bandung.

“Untuk menjadikan SRA sebagai budaya di sekolah perlu dipikirkan bentuk-bentuk fasilitasi/pendampingan sesudah sekolah melaksanakan deklarasi. Deklarasi penting sebagai komitmen awal, tetapi pendampingan jauh lebih penting sehingga SRA tidak hanya slogan/spanduk, “kata Asgarylman, ketua Forum SRA Maros dalam wag Santai di Bandung. YantiKerLiP mengajak Dr. Sadimin dan  Dr. Sowiyah mengobrol secara terpisah untuk mengumpulkan praktik-praktik baik SRA menjawab kegelisahan Asgar. Kedua pakar pendidikan ini sepakat untuk menjalin ASMARA di Brebes dan Metro.

Indikator T3MU MeSRA

Semangat kerja para fasilitator SRA Nasional bagai dian tak kunjung padam. Pagi ini wag sudah ramai membahas indikator Mau, Mampu,Maju Menuju Sekolah Ramah Anak (T3MU MESRA). YantiKerLiP mengangkat praktik baik persyaratan penetapan MeSRA Bertuah oleh Kadisdik Deli Serdang.

Tentu saja usulan ini mendapatkan tanggapan serius dari para pegiat aktif: Riyanto Brebes yang berhasil menggerakkan UPT Kecamatan menerbitkan SK SRA dan menyediakan plang SRA di 350 SD dan SMP,  Zamzam tim penyusun kebijakan  dan N, S,P,K SRA, Azhari dari Elpamas Pringsewu, dan Bagus,  provokator  SRA yang berhasil menggiatkan SRA dan KerLiP di Indonesia Timur.

“Saya berharap persyaratan SRA selaras dengan apa yang disampaikan di setiap kesempatan yang kita kemas dalam T3Mu MeSRA…tahap awal cukup Mau yang diindikasikan dengan adanya deklarasi, SK atau papan nama atau spanduk SRA. Setelah itu baru melalui proses Mampu yang ditunjang modal dan pendampingan pemerintah dan inovasi sekolah, “kata Elvi Hendrani dalam tanggapan tertulisnya. Pernyataan ketua Sekber SRA ini diamini oleh Bagus, “Setuju bu…karena untuk mendorong satuan pendidikan pada tahapan MAU tantangannya luar biasa. Ini yang kami rasakan di daerah dengan model bottom up”. Alhamdulillah.  Terbuka kesempatan luas bagi semua satuan pendidikan untuk berani mendeklarasikan SRA tanpa beban.

Beberapa fasilitator SRA yang juga pegiat Keluarga Peduli Pendidikan, seperti Dr. Sowiyah, Baharudin, Ekasari, Azhari, Bagus,dan YantiKerLiP berkomitmen untuk mendukung T3MU MESRA dengan mendirikan Kopsya Sahabat KetLiP

IMG-20171211-WA0058

Fasilitator SRA Nasional Siap Bertemu di Bandung

Percepatan gerakan Sekolah Ramah Anak (SRA) menunjukkan kemajuan yang menggembirakan. Dukungan tertulis dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota, sampai ke satuan pendidikan diterima oleh Elvi Hendrani, Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya Kempppa untuk melengkapi persayaratan lulus dalam Diklat PIM II. Tentunya hal ini tidak terlepas dari upaya para fasilitator SRA Nasional di daerah

Provokator  MeSRA di Indonesia Timur

Tety Sulastri, DPP FGII mempertemukan Bagus Dibyo Sumantri dengan YantiKerLiP, Zamzam, dan para pegiat SRA di Jakarta beberapa saat setelah Elvi Hendrani memimpin gerakan SRA ini sebagai Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya Kempppa. Indonesia Timur menjadi prioritas pembangunan nasional pada Pemerintahan Jokowi-JK, termasuk  SRA sebagai salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak. Posisi Bagus sebagai ketua IGI Maros dan semangatnya mempercepat gerakan SRA di Indonesia Timur berjalin kelindan dengan prioritas pembangunan KLA di Indonesia Timur. Kepiawaian Koordinator KerLiP Indonesia Timur ini menghubungkan antarpihak serta penguatan penerapan SRA yang dilaksanakannya sebagai Kepala SMK Widya Nusantara menjadikan Bagus sebagai provokator gerakan SRA di Indonesia Timur.

Gerakan SRA di Maros terus meluas dan mendapat pengakuan pemerintah kabupaten Maros. Forum SRA Maros yang dibentuk Bagus bersama para kepala sekolah dan madrasah di Maros terus melaksanakan kampanye dan advokasi SRA. Bagus menjadi salah satu fasilitator SRA Nasional yang mendapat kepercayaan untuk memfasilitasi sosialisasi dan pelatihan SRA Indonesia Timur, antara lain di NTB,  NTT, Jayawijaya, Wamena, Sorong, Pangkep, Makassar, Bulukumba. Ia juga menggiatkan gerakan keluarga peduli pendidikan untuk mendukung percepatan gerakan SRA di Pangkalan Bun dan Sulawesi Selatan. SMK Widya Nusantara yang dipimpin Bagus pun menjadi sekolah ramah anak terbaik nasional pada peringatan Hari Anak Nasional di Pekanbaru 2017. Prestasi anak-anak didiknya dalam Ujian Nasional melesat, menempati ranking ke-2 di Sulawesi Selatan. Penerapan disiplin positif di sekolah yang bergaya pendidikan militer ini menempatkan Bagus pada posisi yang khas di antara para fasilitator SRA Nasional. Bagus terus memperluas gerakan SRA di Sulawesi Selatan  dan mengawal penerapannya di wilayah lain di Indonesia Timur melalui whatsappgroup.

bagus

Doktor Sowiyah Menggiatkan SRA di Lampung

Doktor yang satu ini memang luar biasa. Tiada hari tanpa SRA. Mulai dari sekolah dalam naungan yayasan yang dipimpinnya,  Metro,  Bandar Lampung, Pringsewu dan Provinsi Lampung bersama Parto Azhari,  fasilitator SRA lainnya di Lampung. Tak mengherankan jika Deputi Tumbuh Kembang Anak meluncurkan kampanye belajar di luar kelas pada  7 September 2017 di SD Muhamadiyah Metri Lampung.

Dr. Sowiyah hadir mewakili pokja inklusi provinsi Lampung dalam kegiatan di Surakarta atas inisiatif Sri Renani saat menjabat sebagai Direktur PKLK Dikdasmen Kemdikbud RI. Ia bertemu dengan Elvi Hendrani,  YantiKerLiP, dan Tety Sulastri yang diundang hadir menyampaikan praktik-praktik baik Sekolah Ramah Anak, Aman,dan Inklusi (SeRAI) di Surakarta.  Semangatnya untuk mendukung percepatan gerakan SRA khususnya di Lampung patut diacungi jempol.

Kedua fasilitator SRA Nasional ini terlihat sangat menonjol. Mereka akan bertemu kembali bersama para fasilitator SRA yang aktif lainnya di Bandung pada 10-11 Desember 2017. Pada peretemuan tersebut, para fasilitator siap meneguhkan komitmen masing-masing untuk mendukung percepatan gerakan SRA di Indonesia melalui pelembagaan Sekber SRA di Kempppa dengan dukungan Kemdikbud, Kemenag, dan Kemdagri.